Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


4 Komentar

Lebaran, Tiket Bis Damri Pinoh-Pontianak Nggak Naik

IMG01911-20140725-1226

Di saat harga-harga barang dan jasa merambat naik menjelang lebaran, ternyata masih ada tiket transportasi yang nggak naik. Ini yang saya alami ketika membeli tiket bis Damri Pinoh-Pontianak untuk keberangkatan tanggal 26 Juli 2014. Tarifnya masih sama seperti hari-hari biasa. 145 ribu rupiah per penumpang untuk bis yang warna putih. Tarif ini sama dengan tiket yang saya beli tanggal 8 Juli lalu dengan rute dan bis yang sama.

IMG01913-20140725-1227

Kalau ada bis yang warna putih, apa ada bis yang warna lain ? Ya, ada dua bis yang dimiliki Damri untuk rute tersebut. Penumpang biasa menyebut bis eksekutif dengan bis putih dan bis super eksekutif dengan bis merah atau royal. Royal ini mungkin semacam tipe atau serinya. Kalau yang jurusan Pontianak – Kuching Malaysia sebutannya lain lagi, yaitu Legacy.

Bedanya adalah bis putih tempat duduknya 2-2, sehari dua kali trip, berangkat pagi jam 9 dan malam jam 7. Bis merah kursinya 1-2, tarifnya 175 ribu rupiah dan hanya berangkat malam hari jam 7. Nah, rencana pulangnya nanti naik yang bis merah ini. Moga-moga tarifnya juga nggak naik. :-)

Tarif yang nggak naik itu tidak hanya terjadi tahun ini, namun juga tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket untuk hari-hari menjelang lebaran tidak ada kenaikan atau kena tambahan tuslah sekitar 25 % dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini yang agak berbeda dengan transportasi bis antar kota di Jawa. Saya pernah baca postingan di blognya mas Ochim tentang tarif lebaran bis antar kota di Jawa yang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Kebijakan tarif ini bisa jadi bervariasi antar perusahaan otobis dan daerah operasinya. Bagi penumpang, tarif lebaran yang tetap ini dapat menghemat keuangan karena pos terbesar biaya mudik lebaran adalah untuk transportasi.


12 Komentar

Buka Puasa di Bis dan Sahur Jam 23.15

Berpuasa saat dalam perjalanan memang menyisakan beberapa kenangan. Mulai bekal makan malam yang perlu dibawa sebab bis berangkat jam 19.00 sampai sahur yang terlalu awal karena bis hanya sekali singgah di rumah makan.

Sebenarnya kalau kita dalam perjalanan yang jaraknya lebih dari 80 km, diberikan keringanan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga satu hari puasanya bolong gara-gara bepergian. Apalagi saat ini sarana transportasi begitu mudah dan nyaman. Jadi nggak salah juga kalau ada orang yang berpuasa meskipun statusnya dalam perjalanan. Semuanya dikembalikan ke niat masing-masing orang.

Ini yang saya alami beberapa hari lalu ketika ada tugas ke Pontianak. Berangkat dari camp jam 5 pagi ke Nanga Pinoh dengan tiga teman kerja. Sampai Pinoh terus naik bis antar kota yang berangkatnya jam 9 pagi. Sebelum ke terminal saya sempatkan belanja snack dan minuman karena diperkirakan buka puasanya di dalam bis.

Dugaan saya benar, satu jam sebelum tiba di Pontianak ketika bis memasuki daerah Ambawang adzan Maghrib berkumandang. Bis melaju pelan dan kami pun berbuka puasa. Beberapa teguk air minuman dan kurma saya nikmati untuk berbuka puasa. Perjalanan sekitar 10 jam itu rasanya tidak terlalu berat meskipun kami dan penumpang lainnya berpuasa.

Pengalaman yang nggak terlupakan ketika pulang kembali ke Nanga Pinoh. Beda dengan waktu berangkat yang naik bis pagi, pulangnya ke Pinoh naik bis malam. Sempat berbuka puasa dan sholat maghrib serta sekalian dijamak dengan Isya di rumah terus berangkat ke agen bis. Cuaca saat itu baru saja hujan lebat sehingga beberapa ruas jalan tergenang.

Sampai di agen, ternyata bis belum datang. Bis baru berangkat jam 19.15 dan berhenti di rumah makan di Sosok jam 23.15 WIB. Meski belum waktunya sahur, tapi waktu itu saya ikut turun dari bis untuk makan. Makan sahur yang terlalu awal. Padahal waktu bis berangkat saya baru saja menyantap bekal yang disiapkan istri.

Kalau waktu itu ketiduran dalam bis mungkin saya nggak sahur, karena bis langsung meluncur ke Pinoh tanpa singgah-singgah lagi. Di perjalanan, sebelum Imsak saya sempatkan makan buah jeruk, roti dan minum secukupnya. Sampai di terminal bis Pinoh, saat itu waktu subuh telah datang. Menjalani puasa dalam perjalanan memang perlu persiapan dan penuh kenangan.


10 Komentar

Teko yang Airnya tak Diminum

IMG01884-20140617-1837

“Teko itu dipakai untuk cuci tangan, bukan untuk minum?” kata seorang tamu kepada kawannya melihat air di teko itu akan dituangkan ke dalam gelas untuk diminum. Teman-temannya yang lain dan saya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan base camp saat itu hanya tersenyum-senyum.

Kalau melihat teko pencuci tangan seperti gambar di atas, jadi teringat waktu pertama kali ke Kalimantan Barat. Lima belas tahun yang lalu saya melihat benda itu di rumah makan di terminal Ngabang. Ketika itu bis malam rute Pontianak – Nanga Pinoh yang saya tumpangi singgah di rumah makan Padang setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam.

Para penumpang dan sopir bis berukuran tiga perempat-seperti metro mini di Jakarta-biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk makan malam atau sekedar minum kopi atau teh.

IMG01883-20140617-1837Waktu di rumah makan itu, saya heran melihat teko yang di bawahnya ada wadah berbentuk lingkaran dan bagian atasnya berlubang. Pikiran saya waktu itu sama dengan tamu, pasti air putih di dalam teko itu untuk diminum. Terus wadah lingkaran itu untuk apa?

Di tengah kebingungan gimana menggunakannnya, saya putuskan untuk makan dulu. Ketika sedang menikmati hidangan itulah, saya melihat salah seorang penumpang yang mengangkat teko itu dengan tangan kiri dan mengucurkannya ke tangan kanan di atas wadah berlubang tadi secara perlahan.

Oo… rupanya teko itu airnya digunakan untuk cuci tangan dan bukan untuk diminum. Pantas kok dia menuangkan air di teko dengan tangan kiri dan bukan tangan kanan. Karena kalau kita menuangkan air untuk minum air putih, teh atau kopi biasanya menggunakan tangan kanan. Kecuali kalau seseorang itu kidal atau dia makan nggak pakai sendok.

Biasanya kalau kita makan nggak pakai sendok di restoran, warung kaki lima atau di rumah akan tersedia mangkok kecil berisi air dan sedikit jeruk nipis untuk cuci tangan. Gunanya untuk menghilangkan bau makanan. Di Jawa, mangkok itu biasa disebut wiji’an atau kobo’an. Sekali dipakai untuk cuci tangan, airnya langsung diganti.

Namun di Kalimantan Barat, di beberapa tempat pengganti wiji’an atau kobo’an untuk cuci tangan ya teko dan wadah yang berlubang tadi. Inilah satu bukti lagi keragaman budaya di negeri ini. Beda tempat beda pula kebiasaannya.


8 Komentar

Narsis di hutan Tropis

DSC06459Berada di dekat tanaman meranti yang ditanam pada tahun 1999

Ini foto-foto sekitar 3-4 tahun yang lalu. Waktu masih sering tugas ke lapangan. Jalan-jalan ke hutan mendampingi tamu yang ingin melihat  hutan tropis. Profesinya macam-macam, mulai dari dosen, auditor, wartawan, peneliti hingga anggota LSM. Mereka biasanya penasaran ingin lihat langsung kondisinya di lapangan. Gimana sih hutan yang katanya paru-paru dunia ini dikelola?

DSC05051Adi  ketinggian 352 m
IMG_1622Sungai yang terlihat jernih dengan pepohonan menghijau
IMG_0595Berhenti sejenak di sungai. Istirahat sambil mencari batu untuk suiseki

Selama ini, mereka sering mendapat informasi yang buruk tentang hutan tropis Kalimantan dari televisi, koran atau internet. Berita yang muncul tentang hutan nggak jauh-jauh dari bencana kabut asap, banjir, tanah longsor, hingga pemanasan global.  Hal itu bisa saja terjadi di tempat yang pengelolaan hutannya nggak serius. Hanya menebang tapi tidak mau menanam. Cuma kondisinya nggak bisa disamaratakan seperti itu dong. Kalau lihat beberapa tempat jelek, dianggapnya semuanya pasti buruk.

Itulah kenyataan yang terjadi. Sebuah berita buruk akan cepat tersebar dan disebarkan. Namun kalau berita baik, jarang sekali ada yang mengekspos. Jadi informasi yang diterima publik akhirnya kurang berimbang.

Banyak manfaatnya untuk saya waktu sering tugas ke lapangan. Selain kenal tamu-tamu dari berbagai profesi, juga bagus buat kesehatan. Waktu itu karena seringnya jalan kaki, jarang sekali kena kolesterol tinggi. Sekarang setelah umur kepala empat, sudah jarang blusukan ke hutan. Lebih banyak bertugas di kantor. Untuk tugas pendamping ke lapangan dan masuk hutan diserahkan ke teman kerja lainnya. Terutama yang berumur lebih muda. Supaya proses regenerasi berjalan lancar. Seperti halnya pepohonan di hutan yang memiliki beberapa tingkatan. Mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Jika kondisi lingkungan mendukung, semai akan terus tumbuh membesar dan akhirnya menjadi pohon.

Gimana kawan, apa pernah juga jalan-jalan atau berwisata ke hutan? Menghirup udara segar di alam terbuka dan menikmati hijaunya pepohonan?

 


8 Komentar

Satu Lagi Manfaat NGEBLOG

Menulis di blog adalah salah satu cara untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan bagi orang lain. Aktivitas ini juga membuka peluang bagi kita untuk mendapatkan pengalaman dan teman baru. Menjalin pertemanan dan saling berbagi pengalaman. Itulah salah satu manfaat yang saya dapatkan dari ngeblog.

Tak lama setelah mendapat ucapan selamat ultah dari WordPress, siang harinya saya terima email dari seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Email pertama yang saya terima dari Shiori Kunigawa, seseorang yang aktif di komunitas jalan-jalan Indonesia.
Sebuah email yang berisi ucapan terima kasih karena telah mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat dari blog ini. Membaca email Shiori membuat hati saya berbunga-bunga. Perasaan bahagia tiba-tiba menjalar dalam diri saya. Inilah sejatinya kebahagiaan seorang blogger, yaitu ketika pembaca mendapat manfaat setelah membaca postingannya.

Ini sebagian isi email Shiori yang saya kutip kembali :

Setelah baca2 website/blog anda, saya mendapatkan banyak info yg sangat bermanfaat. terima kasih ya :)

Kebetulan saya jg active di komunitas jalan2 indonesia, www.jalan2.com , yg bertujuan untuk memudahkan pertukaran info jalan2 sesama orang indonesia yg ingin berwisata domestik ataupun ke luar negeri.

dengan banyaknya org yg bertanya & sharing info jalan2 mereka, maka di harapkan memudahkan travellers untuk bepergian kemana2

Bagi teman-teman yang hobi jalan-jalan atau ingin merencanakan untuk berwisata, website yang disarankan Shiori di atas bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Segera setelah saya terima emailnya, saya pun langsung meluncur ke website itu. Informasi tentang kota-kota di nusantara maupun manca negara yang menjadi tujuan wisata cukup lengkap. Ulasan tentang obyek-obyek wisata yang berada di kota tersebut juga disajikan cukup detil.

Saya ambil contoh, ketika klik kota Pontianak untuk mencari informasi obyek wisata Museum di Pontianak. Ini adalah salah satu obyek wisata yang belum pernah saya datangi. Sebelum ke sana, saya ingin tahu berapa harga tiket masuknya, hari apa saja bukanya, jam berapa untuk waktu kunjungan tamu dan apa saja isi museum tersebut. Setelah saya baca, ternyata penjelasannya sangat lengkap dan semua informasi yang saya cari tersebut tersedia.

Nah, bagi teman-teman, silakan kalau mau berselancar dulu di website tersebut sebelum datang langsung ke lokasinya. Bukankah lebih baik kita pernah mendapatkan informasi tentang suatu tempat yang akan kita datangi daripada tidak sama sekali?


20 Komentar

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.


10 Komentar

Naik Royal Bus DAMRI

IMG01741-20131217-0713

Untuk perjalanan pergi pulang dari Pontianak – Pinoh, sekarang sudah ada bis yang lebih nyaman. ROYAL BUS DAMRI yang tergolong bis super eksekutif. Kalau di Jawa, kita hanya bisa lihat bis-bis DAMRI yang bagus-bagus kebanyakan di bandara. Untuk melayani penumpang dari bandara ke kota. Jarang sekali armada ini melayani rute antar kota dalam propinsi maupun antar propinsi. Mungkin kalah bersaing dengan armada milik swasta.

Bis DAMRI di Kalimantan khususnya Kalbar memang berbeda dengan di Jawa. Di Kalbar, DAMRI bisa dikatakan berjaya. Punya armada dan layanan yang nggak kalah dengan bis-bis swasta. Semua rute antar kota dalam propinsi, bahkan antar negara dilayani oleh armada milik BUMN ini. Mereka punya pelanggan setia yang nggak mudah untuk beralih ke bis lainnya. Termasuk saya.

Kenapa saya memilih bis ini untuk transport Pontianak – Nanga Pinoh yang waktu tempuhnya sekitar 10 jam? Cara pengemudinya membawa mobil yang membuat saya terasa nyaman dan bisa tidur selama di perjalanan.

IMG01799-20140213-2338

Pernah juga saya beralih ke bis lainnya milik swasta, tapi kurang cocok dengan cara sopirnya mengemudikan kendaraan. Terlalu laju. Karena di dalam bis adalah kesempatan saya untuk tidur sepuas-puasnya. Apalagi kalau perjalanan malam hari.

Setiap perjalanan ada dua sopir yang menjalankan bis secara bergantian. Dari Pontianak bis menuju Sosok dan berhenti untuk istirahat dan makan malam. Ketika melanjutkan perjalanan dari Sosok ke Nanga Pinoh, sopirnya gantian.

Apalagi sekarang dengan diluncurkannya ROYAL BUS yang kapasitas tempat duduknya lebih sedikit dibandingkan yang berjenis eksekutif. Dengan formasi 1-2, satu baris terdiri dari satu tempat duduk tunggal dan 2 tempat duduk double. Kapasitasnya 29 penumpang.

Kursinya lebih lebar dan nyaman untuk tidur karena di bagian atasnya ada semacam pembatas untuk kepala. Meski jalan antara Tayan – Sosok – Sanggau banyak yang rusak dan berlubang, goncangannya nggak terasa kuat.

Harga tiketnya juga nggak jauh beda dengan yang eksekutif. Hanya selisih Rp 30.000. Kalau yang jenis eksekutif Rp 145.000, sementara yang super eksekutif atau ROYAL BUS Rp 175.000.

Selain tempat duduknya, yang membedakan tarifnya dengan bis yang eksekutif adalah di ROYAL BUS tersedia Wifi dan selimut.Untuk saya yang nggak tahan udara dingin, selimut ini sangat berguna. Karena meski sudah pakai jaket tapi masih terasa dingin kalau nggak pakai selimut.

Jadi kalau ada kesempatan jalan-jalan ke Kalbar, untuk transportasi antar kota dari Pontianak ke Sintang atau Nanga Pinoh, nggak ada salahnya mencoba bis ini.


10 Komentar

Airnya kok Mengalir Terus?

IMG_4982

Hari libur seperti hari ini enaknya memang dimanfaatan untuk jalan-jalan. Kalau yang tinggal di kota, jalan-jalannya biasanya ke tempat wisata, mall atau taman. Tapi bagi saya yang tinggal dan kerja di tengah hutan, jalan-jalannya cukup berjalan kaki di sekitar camp. Setelah mandi dan sarapan, saya sempatkan lihat-lihat keadaan sekitar sambil menghirup udara segar dan terasa sejuk di badan. Meski di tempat lainnya saat ini sering hujan dan banjir, terutama di pulau jawa, cuaca di tempat kerja malah jarang turun hujan.

Lihat saja jalan yang saya lewati, tanahnya kering dan berdebu. Setelah keliling dan memotret beberapa obyek, saya tiba-tiba tertarik dengan bak penampung air yang terbuat dari plat besi. Kalau di desa, mungkin seperti pancuran air yang terbuat dari bambu. Biasanya digunakan masyarakat untuk mencuci dan sumber air minum. Pancuran air seperti itu biasanya mengalir nonstop 24 jam, kecuali kalau ada gangguan di bagian hulunya.

IMG_4994

Bak penampung air yang saya lihat juga mengalir sepanjang waktu. Jarak dari sumber airnya sekitar 1 km. Banyak tamu yang menduga kalau air yang mengalir itu disedot pakai mesin pompa air. Padahal tidak seperti itu. Mereka baru paham setelah dijelaskan bahwa air itu mengalir karena memanfaatkan beda ketinggian tempat.

Di bagian hulu ada sumber air yang mengalir sepanjang tahun meski musim kemarau. Selanjutnya dibuat bendungan kecil yang terbuat dari semen dan campuran batu pasir. Dari pintu bendungan kecil itu dipasang saringan dan pipa paralon berdiameter 10 inci. Biasanya setiap batang pipa panjangnya 4 meter. Bisa dibayangkan berapa ratus batang yang harus disediakan untuk mengalirkan air sampai ke camp.

Investasi awalnya memang mahal, terutama untuk pembelian pipa, namun biaya perawatannya murah kalau dibandingkan menggunakan mesin pompa. Gangguan yang biasanya menghambat aliran air karena sampah-sampah yang menyumbat saringan pipa di bendungan. Dan ini sering terjadi setelah turun hujan. Kalau terjadi seperti itu, office boy yang siap-siap jalan kaki ke bagian sumber air untuk membersihkan sampah-sampah yang menyumbat.

Terkadang tamu heran kenapa air di kamar mandi mengalir terus? Kenapa keran air di kamar mandi dan di tempat lainnya dibiarkan dibuka dan nggak ditutup setelah bak air penuh atau selesai digunakan? Mereka terbiasa dengan pengalaman menggunakan air PAM di kota. Jadi wajar bertanya seperti itu. Karena kalau di kota membiarkan air mengalir seperti itu bisa disebut pemborosan.

Lain halnya kalau di camp, bila keran air ditutup akan terjadi tekanan balik. Jika tekanan tersebut semakin besar maka pipa bisa pecah. Karena kelebihan air itulah sebagian karyawan memanfaatkannya dengan membuat kolam ikan. Selain untuk memanfaatkan air yang berlimpah, juga untuk menyalurkan hobi dan juga mengurangi stress setelah bekerja seharian. Dan aliran air yang berlimpah itu akan terus berlangsung dan dapat dinikmati, sepanjang kondisi hutan di bagian hulunya masih baik.


12 Komentar

Menjelajah Hutan Hujan Tropis

Bagaimana kesan teman-teman setelah melihat tayangan video di atas? Apa perasaan yang muncul dalam hati? Waktu memutar ulang rekaman di atas, saya nggak menduga kalau suara gemericik air sungai bisa membuat badan ini agak rileks. Meski direkam secara amatir dari Blackberry dan durasi tayangannya cuma sebentar tapi mampu menyejukkan mata dan menjernihkan pikiran. Apalagi kalau merekamnya pakai handycamp, wah pasti gambarnya ciamik, lebih tajam dan jernih.

Itulah rekaman yang saya dapatkan ketika jalan-jalan ke hutan. Setelah berjalan satu setengah jam, sampailah ke tepi sungai yang deras alirannya. Hasil tugas mendadak yang saya terima dari boss untuk mendampingi dua orang tamu yang ingin sekali melihat air terjun.

Meski buru-buru dari base camp ke lokasi terakhir yang bisa dijangkau mobil dengan waktu tempuh setengah jam, tapi karena berangkatnya siang sekitar jam dua, tetap nggak kesampaian lihat air terjun. Waktunya keburu sore dan cuaca terlihat mendung. Bila ingin melihat memaksakan diri, sebenarnya jaraknya nggak jauh lagi karena hanya sekitar 150 meter.

Namun untuk sampai ke sana medannya menanjak dan licin. Harus menyeberangi arus sungai yang deras dan berbatu seperti di tayangan itu. Sudah berusaha mencari alternatif jalan lain namun tetap beresiko. Bisa saja memaksakan diri menyeberang sungai, namun melihat kondisi langit yang sudah gelap pertanda hujan niat tersebut diurungkan.

Safety first, utamakan keselamatan dulu daripada nekad menembus ke lokasi air terjun, tetapi malah resiko kecelakaan yang didapat. Kalau terjadi kecelakaan atau terpeleset hingga jatuh ke jurang, jadi panjang urusannya. Perhitungan tersebut ternyata nggak meleset. Setelah sekitar setengah jam istirahat di tepi sungai, rintik hujan mulai turun.

Bergegas kami berempat kembali ke lokasi tempat parkir kendaraan. Melewati jalan setapak yang sebelah kirinya tebing curam dan jurang di sebelah kanan, langkah kaki kami ayunkan hati-hati. Setelah berjalan sekitar satu jam dan diguyur derasnya hujan, akhirnya tiba juga dengan selamat. Lega rasanya bisa kembali.

IMG01637-20130912-1517

Sebelum naik ke mobil untuk kembali ke base camp, kami istirahat dulu dan menyempatkan mejeng untuk kenang-kenangan meski badan dan pakaian basah kuyup. Benar-benar pengalaman berharga bisa menikmati keindahan alam dan mata air hutan hujan tropis.


15 Komentar

Dibantu Calo Tiket Bandara

Tak pernah terbayangkan, gara-gara lupa konfirmasi tiket pesawat, saya terpaksa harus menginap semalam di Jakarta. Kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, sekitar enam belas tahun yang lalu.

Saat itu, bulan Juli 1997, saya melangsungkan pernikahan di Jogja. Termasuk kilat juga mulai kenal sampai menikah, prosesnya hanya enam bulan. Itu pun dijalani dengan hubungan jarak jauh. Istilah sekarang LDR. Saya kerja di Kalimantan dan istri kerja di Jakarta.

Tiga hari setelah resepsi pernikahan, saya kembali ke Pontianak melalui Jakarta. Ada telegram dari perusahaan yang isinya akan ada proses sertifikasi dan harap maklum. Meski tidak ada kalimat yang menyuruh pulang, namun kalimat harap maklum tersebut bermakna saya perlu hadir pada saat kegiatan tersebut.

Tiket pesawat Jakarta-Pontianak sudah di tangan. Rencananya dari Jogja ke Jakarta saya menggunakan kereta api. Setiba di stasiun Gambir saya langsung menuju konter city check in maskapai Merpati Airlines. Dada saya langsung berdetak keras ketika petugas memberitahukan nama saya tidak terdaftar dalam penerbangan pada hari itu. Petugas menjelaskan, nama saya digantikan penumpang lain karena saya tidak konfirmasi kepastian berangkat beberapa hari sebelumnya.

Dengan tiket pesawat masih di tangan, saya bergegas ke bandara Soekarno-Hatta menumpang bis Damri. Saya menghubungi pihak Merpati dan bertanya apakah bisa diubah waktunya untuk keberangkatan esok harinya. Ternyata nggak bisa. Penerbangan untuk besok penuh.

Akhirnya saya kembalikan tiket tersebut dan minta diganti uang (refund). Meski dijelaskan kalau harga tiket dipotong 25 % tetap saya terima, karena uangnya bisa digunakan membeli tiket maskapai lainnya.

Selanjutnya, saya berburu tiket ke maskapai lainnya agar bisa berangkat hari itu juga dan tidak perlu menginap. Jawaban dari maskapai penerbangan lainnya juga sama, penerbangan Jakarta-Pontianak hari itu penuh. Untuk besok yang ada tiket cadangan, jadi belum ada kepastian bisa berangkat atau nggak.

Pada saat kebingungan mencari tiket itulah seorang calo mendekati saya. Dia menanyakan mau kemana dan apakah sudah dapat tiket. Saya bilang mau cari tiket ke Pontianak untuk hari ini juga. Dia menghubungi seseorang dan menegaskan kalau tiket yang saya cari memang habis. Berarti informasi petugas di bagian konter maskapai tadi memang benar.

Kemudian dia menawarkan tiket untuk besok hari dan tanpa ragu-ragu saya langsung menerimanya. Setelah tawar-menawar harga akhirnya selembar tiket Mandala Airlines saya dapatkan.

Meski tiket untuk besok sudah beres, masalah berikutnya muncul. Di mana saya harus menginap semalam di Jakarta? Karena nggak ada rencana bakal menginap, saya nggak membawa banyak uang tunai selama di perjalanan.

Mau menginap di hotel, tarifnya lumayan mahal untuk ukuran saya. Sekitar 300 – 400 ribu semalam. Hampir sama dengan harga tiketnya. Tanpa saya duga, calo tiket tadi menawarkan supaya menginap di rumahnya di sekitar bandara.

Kesempatan baik datang dan nggak boleh di tolak. Mungkin jalannya memang harus seperti itu. Setelah menunggu hingga sore hari, akhirnya saya diajak menuju rumahnya. Sebuah tempat berbentuk rumah petak dengan dua kamar tidur, dapur, kamar mandi sekaligus tempat cuci dan ruang tamu.

Rupanya di rumah itu, dia tinggal tidak bersama keluarganya, namun bersama empat orang kawannya. Profesinya juga sama-sama calo di bandara. Baru tahu saya, rupanya mereka adalah para perantau yang bekerja sebagai calo tiket di bandara dan menyewa rumah untuk tempat tinggal. Saya membayangkan sebelumnya kalau dia penduduk asli Jakarta dan tinggal di rumah itu bersama istri dan anak-anaknya.

Pantas waktu saya ke rumahnya suasananya sepi. Tak lama setelah kami tiba, teman-temannya pun berdatangan. Dia menjelaskan kalau ada satu penumpang yang malam ini mau menginap karena baru bisa berangkat esok harinya.

Ketika di bandara penampilan mereka terkesan necis, berpakaian rapi dan tegas. Namun setelah berada di rumah kontrakan itu, semuanya berubah. Penuh canda dan terlihat akrab. Berpenampilan sederhana, makan nasi bungkus bersama-sama dan terjalin ikatan persaudaraan yang erat.

Kemudian saya dipersilakan menggunakan satu kamar tidur dekat dapur untuk istirahat. Sempat nggak enak hati juga saya tolak. Namun saya tetap diminta untuk tidur di kamar yang sudah ditentukan. Karena rasa letih yang tak tertahankan setelah seharian bolak balik di bandara mengurus tiket, saya pun tertidur pulas. Sebelumnya saya dipesan supaya besok paginya berangkat bersama-sama ke bandara.

Tak pernah terbayangkan, sebuah kisah yang berawal dari urusan tiket pesawat akhirnya sampai menginap semalam di rumah kontrakan calo tiket. Sebuah hikmah dalam kehidupan saya dapatkan. Ternyata dia tak hanya menolong mencarikan tiket, namun juga menyediakan tempat untuk menginap. Secercah kebaikan hati muncul ketika melihat penumpang yang mengalami kesulitan.

Ketika pagi harinya saya menyerahkan uang sebagai tanda terima kasih atas bantuannya, dia menolak. “Pakai saja uangnya untuk pulang, Mas”katanya. Di bandara dia benar-benar berhitung masalah harga tiket, namun ketika di rumah kontrakan, dia tak mempermasalahkan biaya penggantian menginap.

Rupanya Allah punya skenario lain dengan diri saya saat itu. Gagal berangkat dengan Merpati dan harus menginap di Jakarta adalah rencanaNya. Meski saya lupa konform tiket, itu adalah bagian dari episode yang harus saya jalani. KeinginanNya untuk mempertemukan saya dan mengambil hikmah dari sepenggal kehidupan seseorang yang berprofesi sebagai calo bandara.

Satu pelajaran saya dapatkan waktu itu. Bahwa kita tak bisa hanya menilai seseorang dari apa yang kita lihat. Menilai dari satu sisi. Di balik kehidupan mereka, ada nilai-nilai universal yang kini kian pudar. Keinginan untuk menolong orang lain. Meski profesi mereka mengutamakan materi, namun di balik itu masih ada sikap untuk membantu sesama.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 193 pengikut lainnya.