Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


7 Komentar

Quick Count ala Rumah Makan

Setiap kali menempuh perjalanan Pinoh-Pontianak pergi pulang menggunakan kendaraan umum, bis yang saya tumpangi selalu singgah di rumah makan di daerah Sosok. Ada beberapa rumah makan yang menjadi persinggahan bis-bis antar kota maupun antar negara. Masing-masing rumah makan memiliki pelanggan dari perusahaan otobis yang berbeda.

Di tempat ini, para penumpang yang ingin makan dipersilakan antri mengambil hidangan yang diletakkan di etalase kaca secara prasmanan. Selesai mengambil makanan, penumpang duduk di dalam ruangan yang terpisah dengan sopir. Tak lama, ada karyawan yang mendatangi meja penumpang dan menanyakan jenis minuman yang diinginkan. Setelah memesan minuman, dia lalu melihat apa saja hidangan yang tersaji di atas piring. Tanpa kalkulator dia langsung melakukan hitung cepat dan mencatat pada sepotong kertas harga makanan yang sedang dinikmati penumpang.

Hasilnya, tak sampai setengah menit kertas yang berisi harga makanan itu diletakkan dalam posisi angkanya tertutup di atas meja. Biasanya saya penasaran ingin tahu berapa sih harga makanan yang harus dibayar. Tapi rasa penasaran itu saya tahan dulu sampai selesai makan.

Sebelum menuju kasir saya buka kertas itu. Tertulis Rp 16.000 untuk sepiring nasi putih, sayur daun ubi, dua potong tahu goreng, sepotong tempe goreng dan segelas teh panas manis. Kenapa saya hanya makan dengan lauk seperti itu? Belajar dari pengalaman teman yang pernah juga makan di rumah makan tersebut. Makan di rumah makan dengan perhitungan ala quick count seperti ini memang harus hati-hati memilih lauknya. Saya biasanya menghindari mengambil lauk berupa ayam atau daging, karena harganya mahal.

Tak hanya itu. Kita juga perlu sedikit kritis dan tidak terburu-buru langsung membayar ke kasir. Perlu teliti apakah harga yang harus kita bayar tidak kemahalan dengan menu yang dimakan. Karena menghitung harga makanan  dengan cara quick count seperti ini bisa saja salah. Apalagi kalau kita makan tak hanya sendirian, tapi bersama-sama keluarga atau teman-teman.

Ini yang pernah dialami istri saya ketika makan bersama anak-anak. Waktu menerima kertas yang berisi harga makanan yang harus dibayar untuk lima orang, istri saya minta supaya hitungannya dicek lagi karena terlalu mahal. Akhirnya setelah dicek ulang, ternyata memang benar ada kesalahan perhitungan. Memang nggak semua penumpang mengecek ulang hasil quick count harga makanan. Waktu yang hanya sekitar setengah jam untuk singgah di rumah makan terkadang membuat penumpang tak sempat lagi untuk memeriksa apakah harganya wajar atau terlalu mahal.


6 Komentar

Lebaran, Tiket Bis Damri Pinoh-Pontianak Nggak Naik

IMG01911-20140725-1226

Di saat harga-harga barang dan jasa merambat naik menjelang lebaran, ternyata masih ada tiket transportasi yang nggak naik. Ini yang saya alami ketika membeli tiket bis Damri Pinoh-Pontianak untuk keberangkatan tanggal 26 Juli 2014. Tarifnya masih sama seperti hari-hari biasa. 145 ribu rupiah per penumpang untuk bis yang warna putih. Tarif ini sama dengan tiket yang saya beli tanggal 8 Juli lalu dengan rute dan bis yang sama.

IMG01913-20140725-1227

Kalau ada bis yang warna putih, apa ada bis yang warna lain ? Ya, ada dua bis yang dimiliki Damri untuk rute tersebut. Penumpang biasa menyebut bis eksekutif dengan bis putih dan bis super eksekutif dengan bis merah atau royal. Royal ini mungkin semacam tipe atau serinya. Kalau yang jurusan Pontianak – Kuching Malaysia sebutannya lain lagi, yaitu Legacy.

Bedanya adalah bis putih tempat duduknya 2-2, sehari dua kali trip, berangkat pagi jam 9 dan malam jam 7. Bis merah kursinya 1-2, tarifnya 175 ribu rupiah dan hanya berangkat malam hari jam 7. Nah, rencana pulangnya nanti naik yang bis merah ini. Moga-moga tarifnya juga nggak naik. :-)

Tarif yang nggak naik itu tidak hanya terjadi tahun ini, namun juga tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket untuk hari-hari menjelang lebaran tidak ada kenaikan atau kena tambahan tuslah sekitar 25 % dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini yang agak berbeda dengan transportasi bis antar kota di Jawa. Saya pernah baca postingan di blognya mas Ochim tentang tarif lebaran bis antar kota di Jawa yang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Kebijakan tarif ini bisa jadi bervariasi antar perusahaan otobis dan daerah operasinya. Bagi penumpang, tarif lebaran yang tetap ini dapat menghemat keuangan karena pos terbesar biaya mudik lebaran adalah untuk transportasi.


12 Komentar

Buka Puasa di Bis dan Sahur Jam 23.15

Berpuasa saat dalam perjalanan memang menyisakan beberapa kenangan. Mulai bekal makan malam yang perlu dibawa sebab bis berangkat jam 19.00 sampai sahur yang terlalu awal karena bis hanya sekali singgah di rumah makan.

Sebenarnya kalau kita dalam perjalanan yang jaraknya lebih dari 80 km, diberikan keringanan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga satu hari puasanya bolong gara-gara bepergian. Apalagi saat ini sarana transportasi begitu mudah dan nyaman. Jadi nggak salah juga kalau ada orang yang berpuasa meskipun statusnya dalam perjalanan. Semuanya dikembalikan ke niat masing-masing orang.

Ini yang saya alami beberapa hari lalu ketika ada tugas ke Pontianak. Berangkat dari camp jam 5 pagi ke Nanga Pinoh dengan tiga teman kerja. Sampai Pinoh terus naik bis antar kota yang berangkatnya jam 9 pagi. Sebelum ke terminal saya sempatkan belanja snack dan minuman karena diperkirakan buka puasanya di dalam bis.

Dugaan saya benar, satu jam sebelum tiba di Pontianak ketika bis memasuki daerah Ambawang adzan Maghrib berkumandang. Bis melaju pelan dan kami pun berbuka puasa. Beberapa teguk air minuman dan kurma saya nikmati untuk berbuka puasa. Perjalanan sekitar 10 jam itu rasanya tidak terlalu berat meskipun kami dan penumpang lainnya berpuasa.

Pengalaman yang nggak terlupakan ketika pulang kembali ke Nanga Pinoh. Beda dengan waktu berangkat yang naik bis pagi, pulangnya ke Pinoh naik bis malam. Sempat berbuka puasa dan sholat maghrib serta sekalian dijamak dengan Isya di rumah terus berangkat ke agen bis. Cuaca saat itu baru saja hujan lebat sehingga beberapa ruas jalan tergenang.

Sampai di agen, ternyata bis belum datang. Bis baru berangkat jam 19.15 dan berhenti di rumah makan di Sosok jam 23.15 WIB. Meski belum waktunya sahur, tapi waktu itu saya ikut turun dari bis untuk makan. Makan sahur yang terlalu awal. Padahal waktu bis berangkat saya baru saja menyantap bekal yang disiapkan istri.

Kalau waktu itu ketiduran dalam bis mungkin saya nggak sahur, karena bis langsung meluncur ke Pinoh tanpa singgah-singgah lagi. Di perjalanan, sebelum Imsak saya sempatkan makan buah jeruk, roti dan minum secukupnya. Sampai di terminal bis Pinoh, saat itu waktu subuh telah datang. Menjalani puasa dalam perjalanan memang perlu persiapan dan penuh kenangan.


10 Komentar

Teko yang Airnya tak Diminum

IMG01884-20140617-1837

“Teko itu dipakai untuk cuci tangan, bukan untuk minum?” kata seorang tamu kepada kawannya melihat air di teko itu akan dituangkan ke dalam gelas untuk diminum. Teman-temannya yang lain dan saya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan base camp saat itu hanya tersenyum-senyum.

Kalau melihat teko pencuci tangan seperti gambar di atas, jadi teringat waktu pertama kali ke Kalimantan Barat. Lima belas tahun yang lalu saya melihat benda itu di rumah makan di terminal Ngabang. Ketika itu bis malam rute Pontianak – Nanga Pinoh yang saya tumpangi singgah di rumah makan Padang setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam.

Para penumpang dan sopir bis berukuran tiga perempat-seperti metro mini di Jakarta-biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk makan malam atau sekedar minum kopi atau teh.

IMG01883-20140617-1837Waktu di rumah makan itu, saya heran melihat teko yang di bawahnya ada wadah berbentuk lingkaran dan bagian atasnya berlubang. Pikiran saya waktu itu sama dengan tamu, pasti air putih di dalam teko itu untuk diminum. Terus wadah lingkaran itu untuk apa?

Di tengah kebingungan gimana menggunakannnya, saya putuskan untuk makan dulu. Ketika sedang menikmati hidangan itulah, saya melihat salah seorang penumpang yang mengangkat teko itu dengan tangan kiri dan mengucurkannya ke tangan kanan di atas wadah berlubang tadi secara perlahan.

Oo… rupanya teko itu airnya digunakan untuk cuci tangan dan bukan untuk diminum. Pantas kok dia menuangkan air di teko dengan tangan kiri dan bukan tangan kanan. Karena kalau kita menuangkan air untuk minum air putih, teh atau kopi biasanya menggunakan tangan kanan. Kecuali kalau seseorang itu kidal atau dia makan nggak pakai sendok.

Biasanya kalau kita makan nggak pakai sendok di restoran, warung kaki lima atau di rumah akan tersedia mangkok kecil berisi air dan sedikit jeruk nipis untuk cuci tangan. Gunanya untuk menghilangkan bau makanan. Di Jawa, mangkok itu biasa disebut wiji’an atau kobo’an. Sekali dipakai untuk cuci tangan, airnya langsung diganti.

Namun di Kalimantan Barat, di beberapa tempat pengganti wiji’an atau kobo’an untuk cuci tangan ya teko dan wadah yang berlubang tadi. Inilah satu bukti lagi keragaman budaya di negeri ini. Beda tempat beda pula kebiasaannya.


8 Komentar

Narsis di hutan Tropis

DSC06459Berada di dekat tanaman meranti yang ditanam pada tahun 1999

Ini foto-foto sekitar 3-4 tahun yang lalu. Waktu masih sering tugas ke lapangan. Jalan-jalan ke hutan mendampingi tamu yang ingin melihat  hutan tropis. Profesinya macam-macam, mulai dari dosen, auditor, wartawan, peneliti hingga anggota LSM. Mereka biasanya penasaran ingin lihat langsung kondisinya di lapangan. Gimana sih hutan yang katanya paru-paru dunia ini dikelola?

DSC05051Adi  ketinggian 352 m
IMG_1622Sungai yang terlihat jernih dengan pepohonan menghijau
IMG_0595Berhenti sejenak di sungai. Istirahat sambil mencari batu untuk suiseki

Selama ini, mereka sering mendapat informasi yang buruk tentang hutan tropis Kalimantan dari televisi, koran atau internet. Berita yang muncul tentang hutan nggak jauh-jauh dari bencana kabut asap, banjir, tanah longsor, hingga pemanasan global.  Hal itu bisa saja terjadi di tempat yang pengelolaan hutannya nggak serius. Hanya menebang tapi tidak mau menanam. Cuma kondisinya nggak bisa disamaratakan seperti itu dong. Kalau lihat beberapa tempat jelek, dianggapnya semuanya pasti buruk.

Itulah kenyataan yang terjadi. Sebuah berita buruk akan cepat tersebar dan disebarkan. Namun kalau berita baik, jarang sekali ada yang mengekspos. Jadi informasi yang diterima publik akhirnya kurang berimbang.

Banyak manfaatnya untuk saya waktu sering tugas ke lapangan. Selain kenal tamu-tamu dari berbagai profesi, juga bagus buat kesehatan. Waktu itu karena seringnya jalan kaki, jarang sekali kena kolesterol tinggi. Sekarang setelah umur kepala empat, sudah jarang blusukan ke hutan. Lebih banyak bertugas di kantor. Untuk tugas pendamping ke lapangan dan masuk hutan diserahkan ke teman kerja lainnya. Terutama yang berumur lebih muda. Supaya proses regenerasi berjalan lancar. Seperti halnya pepohonan di hutan yang memiliki beberapa tingkatan. Mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Jika kondisi lingkungan mendukung, semai akan terus tumbuh membesar dan akhirnya menjadi pohon.

Gimana kawan, apa pernah juga jalan-jalan atau berwisata ke hutan? Menghirup udara segar di alam terbuka dan menikmati hijaunya pepohonan?

 


8 Komentar

Satu Lagi Manfaat NGEBLOG

Menulis di blog adalah salah satu cara untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan bagi orang lain. Aktivitas ini juga membuka peluang bagi kita untuk mendapatkan pengalaman dan teman baru. Menjalin pertemanan dan saling berbagi pengalaman. Itulah salah satu manfaat yang saya dapatkan dari ngeblog.

Tak lama setelah mendapat ucapan selamat ultah dari WordPress, siang harinya saya terima email dari seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Email pertama yang saya terima dari Shiori Kunigawa, seseorang yang aktif di komunitas jalan-jalan Indonesia.
Sebuah email yang berisi ucapan terima kasih karena telah mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat dari blog ini. Membaca email Shiori membuat hati saya berbunga-bunga. Perasaan bahagia tiba-tiba menjalar dalam diri saya. Inilah sejatinya kebahagiaan seorang blogger, yaitu ketika pembaca mendapat manfaat setelah membaca postingannya.

Ini sebagian isi email Shiori yang saya kutip kembali :

Setelah baca2 website/blog anda, saya mendapatkan banyak info yg sangat bermanfaat. terima kasih ya :)

Kebetulan saya jg active di komunitas jalan2 indonesia, www.jalan2.com , yg bertujuan untuk memudahkan pertukaran info jalan2 sesama orang indonesia yg ingin berwisata domestik ataupun ke luar negeri.

dengan banyaknya org yg bertanya & sharing info jalan2 mereka, maka di harapkan memudahkan travellers untuk bepergian kemana2

Bagi teman-teman yang hobi jalan-jalan atau ingin merencanakan untuk berwisata, website yang disarankan Shiori di atas bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Segera setelah saya terima emailnya, saya pun langsung meluncur ke website itu. Informasi tentang kota-kota di nusantara maupun manca negara yang menjadi tujuan wisata cukup lengkap. Ulasan tentang obyek-obyek wisata yang berada di kota tersebut juga disajikan cukup detil.

Saya ambil contoh, ketika klik kota Pontianak untuk mencari informasi obyek wisata Museum di Pontianak. Ini adalah salah satu obyek wisata yang belum pernah saya datangi. Sebelum ke sana, saya ingin tahu berapa harga tiket masuknya, hari apa saja bukanya, jam berapa untuk waktu kunjungan tamu dan apa saja isi museum tersebut. Setelah saya baca, ternyata penjelasannya sangat lengkap dan semua informasi yang saya cari tersebut tersedia.

Nah, bagi teman-teman, silakan kalau mau berselancar dulu di website tersebut sebelum datang langsung ke lokasinya. Bukankah lebih baik kita pernah mendapatkan informasi tentang suatu tempat yang akan kita datangi daripada tidak sama sekali?


20 Komentar

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 206 pengikut lainnya.