Satu Lagi Manfaat NGEBLOG

Menulis di blog adalah salah satu cara untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan bagi orang lain. Aktivitas ini juga membuka peluang bagi kita untuk mendapatkan pengalaman dan teman baru. Menjalin pertemanan dan saling berbagi pengalaman. Itulah salah satu manfaat yang saya dapatkan dari ngeblog.

Tak lama setelah mendapat ucapan selamat ultah dari WordPress, siang harinya saya terima email dari seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Email pertama yang saya terima dari Shiori Kunigawa, seseorang yang aktif di komunitas jalan-jalan Indonesia.
Sebuah email yang berisi ucapan terima kasih karena telah mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat dari blog ini. Membaca email Shiori membuat hati saya berbunga-bunga. Perasaan bahagia tiba-tiba menjalar dalam diri saya. Inilah sejatinya kebahagiaan seorang blogger, yaitu ketika pembaca mendapat manfaat setelah membaca postingannya.

Ini sebagian isi email Shiori yang saya kutip kembali :

Setelah baca2 website/blog anda, saya mendapatkan banyak info yg sangat bermanfaat. terima kasih ya :)

Kebetulan saya jg active di komunitas jalan2 indonesia, www.jalan2.com , yg bertujuan untuk memudahkan pertukaran info jalan2 sesama orang indonesia yg ingin berwisata domestik ataupun ke luar negeri.

dengan banyaknya org yg bertanya & sharing info jalan2 mereka, maka di harapkan memudahkan travellers untuk bepergian kemana2

Bagi teman-teman yang hobi jalan-jalan atau ingin merencanakan untuk berwisata, website yang disarankan Shiori di atas bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Segera setelah saya terima emailnya, saya pun langsung meluncur ke website itu. Informasi tentang kota-kota di nusantara maupun manca negara yang menjadi tujuan wisata cukup lengkap. Ulasan tentang obyek-obyek wisata yang berada di kota tersebut juga disajikan cukup detil.

Saya ambil contoh, ketika klik kota Pontianak untuk mencari informasi obyek wisata Museum di Pontianak. Ini adalah salah satu obyek wisata yang belum pernah saya datangi. Sebelum ke sana, saya ingin tahu berapa harga tiket masuknya, hari apa saja bukanya, jam berapa untuk waktu kunjungan tamu dan apa saja isi museum tersebut. Setelah saya baca, ternyata penjelasannya sangat lengkap dan semua informasi yang saya cari tersebut tersedia.

Nah, bagi teman-teman, silakan kalau mau berselancar dulu di website tersebut sebelum datang langsung ke lokasinya. Bukankah lebih baik kita pernah mendapatkan informasi tentang suatu tempat yang akan kita datangi daripada tidak sama sekali?

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.

Naik Royal Bus DAMRI

IMG01741-20131217-0713

Untuk perjalanan pergi pulang dari Pontianak – Pinoh, sekarang sudah ada bis yang lebih nyaman. ROYAL BUS DAMRI yang tergolong bis super eksekutif. Kalau di Jawa, kita hanya bisa lihat bis-bis DAMRI yang bagus-bagus kebanyakan di bandara. Untuk melayani penumpang dari bandara ke kota. Jarang sekali armada ini melayani rute antar kota dalam propinsi maupun antar propinsi. Mungkin kalah bersaing dengan armada milik swasta.

Bis DAMRI di Kalimantan khususnya Kalbar memang berbeda dengan di Jawa. Di Kalbar, DAMRI bisa dikatakan berjaya. Punya armada dan layanan yang nggak kalah dengan bis-bis swasta. Semua rute antar kota dalam propinsi, bahkan antar negara dilayani oleh armada milik BUMN ini. Mereka punya pelanggan setia yang nggak mudah untuk beralih ke bis lainnya. Termasuk saya.

Kenapa saya memilih bis ini untuk transport Pontianak – Nanga Pinoh yang waktu tempuhnya sekitar 10 jam? Cara pengemudinya membawa mobil yang membuat saya terasa nyaman dan bisa tidur selama di perjalanan.

IMG01799-20140213-2338

Pernah juga saya beralih ke bis lainnya milik swasta, tapi kurang cocok dengan cara sopirnya mengemudikan kendaraan. Terlalu laju. Karena di dalam bis adalah kesempatan saya untuk tidur sepuas-puasnya. Apalagi kalau perjalanan malam hari.

Setiap perjalanan ada dua sopir yang menjalankan bis secara bergantian. Dari Pontianak bis menuju Sosok dan berhenti untuk istirahat dan makan malam. Ketika melanjutkan perjalanan dari Sosok ke Nanga Pinoh, sopirnya gantian.

Apalagi sekarang dengan diluncurkannya ROYAL BUS yang kapasitas tempat duduknya lebih sedikit dibandingkan yang berjenis eksekutif. Dengan formasi 1-2, satu baris terdiri dari satu tempat duduk tunggal dan 2 tempat duduk double. Kapasitasnya 29 penumpang.

Kursinya lebih lebar dan nyaman untuk tidur karena di bagian atasnya ada semacam pembatas untuk kepala. Meski jalan antara Tayan – Sosok – Sanggau banyak yang rusak dan berlubang, goncangannya nggak terasa kuat.

Harga tiketnya juga nggak jauh beda dengan yang eksekutif. Hanya selisih Rp 30.000. Kalau yang jenis eksekutif Rp 145.000, sementara yang super eksekutif atau ROYAL BUS Rp 175.000.

Selain tempat duduknya, yang membedakan tarifnya dengan bis yang eksekutif adalah di ROYAL BUS tersedia Wifi dan selimut.Untuk saya yang nggak tahan udara dingin, selimut ini sangat berguna. Karena meski sudah pakai jaket tapi masih terasa dingin kalau nggak pakai selimut.

Jadi kalau ada kesempatan jalan-jalan ke Kalbar, untuk transportasi antar kota dari Pontianak ke Sintang atau Nanga Pinoh, nggak ada salahnya mencoba bis ini.

Airnya kok Mengalir Terus?

IMG_4982

Hari libur seperti hari ini enaknya memang dimanfaatan untuk jalan-jalan. Kalau yang tinggal di kota, jalan-jalannya biasanya ke tempat wisata, mall atau taman. Tapi bagi saya yang tinggal dan kerja di tengah hutan, jalan-jalannya cukup berjalan kaki di sekitar camp. Setelah mandi dan sarapan, saya sempatkan lihat-lihat keadaan sekitar sambil menghirup udara segar dan terasa sejuk di badan. Meski di tempat lainnya saat ini sering hujan dan banjir, terutama di pulau jawa, cuaca di tempat kerja malah jarang turun hujan.

Lihat saja jalan yang saya lewati, tanahnya kering dan berdebu. Setelah keliling dan memotret beberapa obyek, saya tiba-tiba tertarik dengan bak penampung air yang terbuat dari plat besi. Kalau di desa, mungkin seperti pancuran air yang terbuat dari bambu. Biasanya digunakan masyarakat untuk mencuci dan sumber air minum. Pancuran air seperti itu biasanya mengalir nonstop 24 jam, kecuali kalau ada gangguan di bagian hulunya.

IMG_4994

Bak penampung air yang saya lihat juga mengalir sepanjang waktu. Jarak dari sumber airnya sekitar 1 km. Banyak tamu yang menduga kalau air yang mengalir itu disedot pakai mesin pompa air. Padahal tidak seperti itu. Mereka baru paham setelah dijelaskan bahwa air itu mengalir karena memanfaatkan beda ketinggian tempat.

Di bagian hulu ada sumber air yang mengalir sepanjang tahun meski musim kemarau. Selanjutnya dibuat bendungan kecil yang terbuat dari semen dan campuran batu pasir. Dari pintu bendungan kecil itu dipasang saringan dan pipa paralon berdiameter 10 inci. Biasanya setiap batang pipa panjangnya 4 meter. Bisa dibayangkan berapa ratus batang yang harus disediakan untuk mengalirkan air sampai ke camp.

Investasi awalnya memang mahal, terutama untuk pembelian pipa, namun biaya perawatannya murah kalau dibandingkan menggunakan mesin pompa. Gangguan yang biasanya menghambat aliran air karena sampah-sampah yang menyumbat saringan pipa di bendungan. Dan ini sering terjadi setelah turun hujan. Kalau terjadi seperti itu, office boy yang siap-siap jalan kaki ke bagian sumber air untuk membersihkan sampah-sampah yang menyumbat.

Terkadang tamu heran kenapa air di kamar mandi mengalir terus? Kenapa keran air di kamar mandi dan di tempat lainnya dibiarkan dibuka dan nggak ditutup setelah bak air penuh atau selesai digunakan? Mereka terbiasa dengan pengalaman menggunakan air PAM di kota. Jadi wajar bertanya seperti itu. Karena kalau di kota membiarkan air mengalir seperti itu bisa disebut pemborosan.

Lain halnya kalau di camp, bila keran air ditutup akan terjadi tekanan balik. Jika tekanan tersebut semakin besar maka pipa bisa pecah. Karena kelebihan air itulah sebagian karyawan memanfaatkannya dengan membuat kolam ikan. Selain untuk memanfaatkan air yang berlimpah, juga untuk menyalurkan hobi dan juga mengurangi stress setelah bekerja seharian. Dan aliran air yang berlimpah itu akan terus berlangsung dan dapat dinikmati, sepanjang kondisi hutan di bagian hulunya masih baik.

Menjelajah Hutan Hujan Tropis

Bagaimana kesan teman-teman setelah melihat tayangan video di atas? Apa perasaan yang muncul dalam hati? Waktu memutar ulang rekaman di atas, saya nggak menduga kalau suara gemericik air sungai bisa membuat badan ini agak rileks. Meski direkam secara amatir dari Blackberry dan durasi tayangannya cuma sebentar tapi mampu menyejukkan mata dan menjernihkan pikiran. Apalagi kalau merekamnya pakai handycamp, wah pasti gambarnya ciamik, lebih tajam dan jernih.

Itulah rekaman yang saya dapatkan ketika jalan-jalan ke hutan. Setelah berjalan satu setengah jam, sampailah ke tepi sungai yang deras alirannya. Hasil tugas mendadak yang saya terima dari boss untuk mendampingi dua orang tamu yang ingin sekali melihat air terjun.

Meski buru-buru dari base camp ke lokasi terakhir yang bisa dijangkau mobil dengan waktu tempuh setengah jam, tapi karena berangkatnya siang sekitar jam dua, tetap nggak kesampaian lihat air terjun. Waktunya keburu sore dan cuaca terlihat mendung. Bila ingin melihat memaksakan diri, sebenarnya jaraknya nggak jauh lagi karena hanya sekitar 150 meter.

Namun untuk sampai ke sana medannya menanjak dan licin. Harus menyeberangi arus sungai yang deras dan berbatu seperti di tayangan itu. Sudah berusaha mencari alternatif jalan lain namun tetap beresiko. Bisa saja memaksakan diri menyeberang sungai, namun melihat kondisi langit yang sudah gelap pertanda hujan niat tersebut diurungkan.

Safety first, utamakan keselamatan dulu daripada nekad menembus ke lokasi air terjun, tetapi malah resiko kecelakaan yang didapat. Kalau terjadi kecelakaan atau terpeleset hingga jatuh ke jurang, jadi panjang urusannya. Perhitungan tersebut ternyata nggak meleset. Setelah sekitar setengah jam istirahat di tepi sungai, rintik hujan mulai turun.

Bergegas kami berempat kembali ke lokasi tempat parkir kendaraan. Melewati jalan setapak yang sebelah kirinya tebing curam dan jurang di sebelah kanan, langkah kaki kami ayunkan hati-hati. Setelah berjalan sekitar satu jam dan diguyur derasnya hujan, akhirnya tiba juga dengan selamat. Lega rasanya bisa kembali.

IMG01637-20130912-1517

Sebelum naik ke mobil untuk kembali ke base camp, kami istirahat dulu dan menyempatkan mejeng untuk kenang-kenangan meski badan dan pakaian basah kuyup. Benar-benar pengalaman berharga bisa menikmati keindahan alam dan mata air hutan hujan tropis.

Dibantu Calo Tiket Bandara

Tak pernah terbayangkan, gara-gara lupa konfirmasi tiket pesawat, saya terpaksa harus menginap semalam di Jakarta. Kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, sekitar enam belas tahun yang lalu.

Saat itu, bulan Juli 1997, saya melangsungkan pernikahan di Jogja. Termasuk kilat juga mulai kenal sampai menikah, prosesnya hanya enam bulan. Itu pun dijalani dengan hubungan jarak jauh. Istilah sekarang LDR. Saya kerja di Kalimantan dan istri kerja di Jakarta.

Tiga hari setelah resepsi pernikahan, saya kembali ke Pontianak melalui Jakarta. Ada telegram dari perusahaan yang isinya akan ada proses sertifikasi dan harap maklum. Meski tidak ada kalimat yang menyuruh pulang, namun kalimat harap maklum tersebut bermakna saya perlu hadir pada saat kegiatan tersebut.

Tiket pesawat Jakarta-Pontianak sudah di tangan. Rencananya dari Jogja ke Jakarta saya menggunakan kereta api. Setiba di stasiun Gambir saya langsung menuju konter city check in maskapai Merpati Airlines. Dada saya langsung berdetak keras ketika petugas memberitahukan nama saya tidak terdaftar dalam penerbangan pada hari itu. Petugas menjelaskan, nama saya digantikan penumpang lain karena saya tidak konfirmasi kepastian berangkat beberapa hari sebelumnya.

Dengan tiket pesawat masih di tangan, saya bergegas ke bandara Soekarno-Hatta menumpang bis Damri. Saya menghubungi pihak Merpati dan bertanya apakah bisa diubah waktunya untuk keberangkatan esok harinya. Ternyata nggak bisa. Penerbangan untuk besok penuh.

Akhirnya saya kembalikan tiket tersebut dan minta diganti uang (refund). Meski dijelaskan kalau harga tiket dipotong 25 % tetap saya terima, karena uangnya bisa digunakan membeli tiket maskapai lainnya.

Selanjutnya, saya berburu tiket ke maskapai lainnya agar bisa berangkat hari itu juga dan tidak perlu menginap. Jawaban dari maskapai penerbangan lainnya juga sama, penerbangan Jakarta-Pontianak hari itu penuh. Untuk besok yang ada tiket cadangan, jadi belum ada kepastian bisa berangkat atau nggak.

Pada saat kebingungan mencari tiket itulah seorang calo mendekati saya. Dia menanyakan mau kemana dan apakah sudah dapat tiket. Saya bilang mau cari tiket ke Pontianak untuk hari ini juga. Dia menghubungi seseorang dan menegaskan kalau tiket yang saya cari memang habis. Berarti informasi petugas di bagian konter maskapai tadi memang benar.

Kemudian dia menawarkan tiket untuk besok hari dan tanpa ragu-ragu saya langsung menerimanya. Setelah tawar-menawar harga akhirnya selembar tiket Mandala Airlines saya dapatkan.

Meski tiket untuk besok sudah beres, masalah berikutnya muncul. Di mana saya harus menginap semalam di Jakarta? Karena nggak ada rencana bakal menginap, saya nggak membawa banyak uang tunai selama di perjalanan.

Mau menginap di hotel, tarifnya lumayan mahal untuk ukuran saya. Sekitar 300 – 400 ribu semalam. Hampir sama dengan harga tiketnya. Tanpa saya duga, calo tiket tadi menawarkan supaya menginap di rumahnya di sekitar bandara.

Kesempatan baik datang dan nggak boleh di tolak. Mungkin jalannya memang harus seperti itu. Setelah menunggu hingga sore hari, akhirnya saya diajak menuju rumahnya. Sebuah tempat berbentuk rumah petak dengan dua kamar tidur, dapur, kamar mandi sekaligus tempat cuci dan ruang tamu.

Rupanya di rumah itu, dia tinggal tidak bersama keluarganya, namun bersama empat orang kawannya. Profesinya juga sama-sama calo di bandara. Baru tahu saya, rupanya mereka adalah para perantau yang bekerja sebagai calo tiket di bandara dan menyewa rumah untuk tempat tinggal. Saya membayangkan sebelumnya kalau dia penduduk asli Jakarta dan tinggal di rumah itu bersama istri dan anak-anaknya.

Pantas waktu saya ke rumahnya suasananya sepi. Tak lama setelah kami tiba, teman-temannya pun berdatangan. Dia menjelaskan kalau ada satu penumpang yang malam ini mau menginap karena baru bisa berangkat esok harinya.

Ketika di bandara penampilan mereka terkesan necis, berpakaian rapi dan tegas. Namun setelah berada di rumah kontrakan itu, semuanya berubah. Penuh canda dan terlihat akrab. Berpenampilan sederhana, makan nasi bungkus bersama-sama dan terjalin ikatan persaudaraan yang erat.

Kemudian saya dipersilakan menggunakan satu kamar tidur dekat dapur untuk istirahat. Sempat nggak enak hati juga saya tolak. Namun saya tetap diminta untuk tidur di kamar yang sudah ditentukan. Karena rasa letih yang tak tertahankan setelah seharian bolak balik di bandara mengurus tiket, saya pun tertidur pulas. Sebelumnya saya dipesan supaya besok paginya berangkat bersama-sama ke bandara.

Tak pernah terbayangkan, sebuah kisah yang berawal dari urusan tiket pesawat akhirnya sampai menginap semalam di rumah kontrakan calo tiket. Sebuah hikmah dalam kehidupan saya dapatkan. Ternyata dia tak hanya menolong mencarikan tiket, namun juga menyediakan tempat untuk menginap. Secercah kebaikan hati muncul ketika melihat penumpang yang mengalami kesulitan.

Ketika pagi harinya saya menyerahkan uang sebagai tanda terima kasih atas bantuannya, dia menolak. “Pakai saja uangnya untuk pulang, Mas”katanya. Di bandara dia benar-benar berhitung masalah harga tiket, namun ketika di rumah kontrakan, dia tak mempermasalahkan biaya penggantian menginap.

Rupanya Allah punya skenario lain dengan diri saya saat itu. Gagal berangkat dengan Merpati dan harus menginap di Jakarta adalah rencanaNya. Meski saya lupa konform tiket, itu adalah bagian dari episode yang harus saya jalani. KeinginanNya untuk mempertemukan saya dan mengambil hikmah dari sepenggal kehidupan seseorang yang berprofesi sebagai calo bandara.

Satu pelajaran saya dapatkan waktu itu. Bahwa kita tak bisa hanya menilai seseorang dari apa yang kita lihat. Menilai dari satu sisi. Di balik kehidupan mereka, ada nilai-nilai universal yang kini kian pudar. Keinginan untuk menolong orang lain. Meski profesi mereka mengutamakan materi, namun di balik itu masih ada sikap untuk membantu sesama.

Di Candi Borobudur, Jangan lupa Pakai Sarung

IMG01590-20130831-1607

“Kalau masuk candi Borobudur harus pakai sarung”kata teman istri saya ketika kami bersilaturahmi ke rumahnya. Teman istri yang juga tetangga sebelah rumah itu memang pernah ke Borobudur bulan April lalu, bersama suami dan tiga anaknya.

Sebuah informasi baru sekaligus agak mengejutkan bagi kami. Dulu waktu masih SD sekitar tahun 80 an, pernah juga lihat Candi Borobudur. Tapi waktu itu nggak ada keharusan harus pakai sarung untuk masuk ke Borobudur.

Hingga akhirnya ucapan teman istri itu memang terbukti, ketika saya dan keluarga berkunjung ke Borobudur akhir Agustus lalu. Sebagai obyek wisata yang terkenal hingga manca negara, Candi Borobudur adalah satu tujuan kami saat pulang kampung. Setelah melihat Gembira Loka, Taman Pintar, Benteng Vredeburg, Malioboro dan Lawang Sewu, Borobudur adalah obyek wisata yang masuk daftar yang wajib dikunjungi sebelum balik ke Pontianak.

Berangkat dari Semarang tanggal 31 Agustus menuju Jogja, kesempatan ini harus kami gunakan untuk singgah di Candi Borobudur. karena besoknya tanggal 1 september harus kembali ke Pontianak. Jangan sampai menyesal kemudian, ke Jogja tapi nggak lihat salah satu tujuh keajaiban dunia tersebut. Apalagi anak-anak semuanya memang belum pernah ke sini. Orang-orang dari luar negeri yang ke Indonesia saja ingin sekali melihat tempat ini.

Tiba di halaman parkir candi Borobudur sudah agak sore, sekitar jam tiga. Setelah membayar tiket masuk 30 ribu rupiah per orang untuk dewasa dan 12 ribu untuk anak-anak, kami memasuki halaman taman candi Borobudur. Rupanya dari tempat ini untuk menuju candi, disediakan kereta dan dokar. Kalau naik kereta, harus bayar lagi. Taripnya 7.500 rupiah per orang. Kalau mau naik andong, ongkosnya 30 ribu. Kalau mau jalan kaki juga silakan.

Enaknya kalau naik kereta, sebelum masuk ke candi kita bisa keliling dan lihat pemandangan di sekitarnya. Setelah turun di depan pintu candi, kami berjalan menuju boulevard. Nah, di sini pengunjung diingatkan petugas agar menggunakan sarung pada saat memasuki candi. Di tempat ini puluhan bahkan mungkin ratusan sarung berwarna biru putih sudah disediakan oleh petugas.

IMG01559-20130831-1534

Bagi yang berumur 16 tahun ke atas diminta agar memakai sarung. Karena sibuk memilih dan memakai sarung, saya nggak sempat tanya kenapa masuk candi harus pakai sarung. Mungkin karena candi Borobudur sebenarnya adalah tempat ibadah, jadi memakai sarung adalah bagian dari penghormatan terhadap bangunan tersebut. Atau mungkin karena pertimbangan lain? Teman-teman blogger ada yang tahu?

Membandingkan Borobudur saat ini dengan yang saya lihat waktu SD dulu banyak perubahannya. Selain urusan memakai sarung, saat ini banyak petugas security yang berjaga-jaga di sekitar stupa. Petugas langsung mengingatkan pengunjung yang duduk di stupa supaya berpindah. Termasuk pengunjung yang mencoba merogoh dan menyentuh patung di dalam stupa, juga diingatkan petugas kalau hal itu nggak diperbolehkan lagi.

IMG01567-20130831-1543

Ngajak londo berfoto ria, sekalian praktek ngomong Inggris

IMG01586-20130831-1605

Lucunya, ada seorang pengunjung yang bilang,”Saya jauh-jauh dari Padang baru pertama kali ke Borobudur, masa menyentuh patung saja nggak boleh”. Jangankan yang dari Padang, bule-bule saja yang datang dari luar negeri juga dilarang. Larangan ini menurut petugas karena setelah letusan gunung Merapi, candi Borobudur selama beberapa pekan tertutup abu vulkanik. Sisa-sisa abu tersebut masih ada yang menempel di bangunan candi meski sudah dibersihkan.

Saat ini, banyak pemandu yang terlihat mendampingi pengunjung. Setelah membayar tiket dan memasuki halaman candi, petugas memberitahukan jika pengunjung ingin menggunakan jasa pemandu, tarifnya 75 ribu.

Sama seperti tempat wisata lainnya, di candi Borobudur ini banyak pedagang yang menawarkan dagangannya. Begitu keluar dari kendaraan, langsung disambut ibu-ibu yang menjual topi. Ada juga yang menawarkan sewa payung, ongkosnya 5 ribu rupiah. Begitu keluar dari candi, setelah mengembalikan sarung ke petugas, beberapa pedagang kembali menghampiri kami. Pedagang yang menggelar dagangannya di halaman juga berulang-ulang menawarkan kepada pengunjung.

Banyak sekali yang ditawarkan, mulai kaos, gantungan kunci, topi, miniature candi dari kayu, tas, hingga mainan anak-anak. Kalau  urusan belanja suvenir, anak-anak yang paling suka, terutama Nadia dan Aysha. Mereka senang karena harganya termasuk murah dan bisa ditawar.

IMG01570-20130831-1545

IMG01597-20130831-1616

Tak terasa, waktu sudah sekitar jam 5 sore. Pintu gerbang candi sudah mulai ditutup. Waktu dua jam terasa singkat dan nggak cukup untuk melihat-lihat seluruh lokasi candi. Namun, anak-anak setidaknya sudah melihat langsung bangunan yang dibangun pada masa Dinasti Wangsa Syailendra itu. Bangunan warisan sejarah yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Tak hanya mendengar cerita  gurunya di sekolah, membaca sejarahnya di buku pelajaran, atau melihat gambarnya dari televisi dan internet.

Lawang Sewu, ternyata Pintunya Tak Sampai Seribu

IMG01499-20130830-0929

Selain Simpang Lima dan Tugu Muda, Lawang Sewu adalah salah satu bangunan warisan Belanda yang menjadi ikon kota Semarang. Dalam bahasa Indonesia, Lawang berarti pintu dan Sewu sama dengan seribu. Jadi Lawang Sewu adalah bangunan yang memiliki seribu pintu.

Tapi nanti dulu. Faktanya, jumlah pintunya sebenarnya tak sampai seribu. Menurut Pak Muhadi, pemandu yang menjelaskan saat kami melihat bangunan bersejarah tersebut, jumlah pintu dan jendela 465 buah. Kenapa jendela juga dihitung? Karena bangunan ini memiliki jendela yang tinggi dan lebar, sehingga dianggap masyarakat sebagai lawang atau pintu (wikipedia). Karena jumlahnya yang sangat banyak, masyarakat Semarang menyebutnya dengan Lawang Sewu.

Seperti halnya obyek wisata lainnya, untuk masuk ke Lawang Sewu, kami harus membayar tiket 10 ribu per orang untuk dewasa dan sewa pemandu 30 ribu. Ada 3-4 pemandu yang standby di depan loket penjualan tiket masuk. Setelah membayar, petugas loket akan memanggil salah satu pemandu.

IMG01498-20130830-0924

Menurut pemandu kami, pak Muhadi,  Lawang Sewu pada masa pemerintahan Belanda adalah kantor pusat administrasi perkereta apian di pulau Jawa. Jejak itu bisa kita lihat dengan jelas di bagian halaman depan, sebuah lokomotif uap yang masih berdiri kokoh.

IMG01520-20130830-1005

Saya masih ingat, dulu semasa SD, sekitar tahun 80 an, rel kereta api terlihat di bagian luar Lawang Sewu, tepatnya di jalan Pemuda.

Kondisi Lawang Sewu saat ini sudah lebih bagus daripada yang saya lihat semasa kecil. Saya memang lahir di Semarang. Waktu itu tinggal di Jl Citarum daerah Semarang Timur, dan sekolah di sana sampai kelas tiga SD.

Bangunan Lawang Sewu saat itu terlihat kusam. Kesan angker tak bisa dihindari setiap orang yang melihat dari bundaran Tugu Muda. Setiap kali saya main ke rumah kakek nenek di daerah Pendrikan Kidul, sering saya melewati Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Namun saat ini, tiga puluh tahun kemudian, kondisinya agak berbeda. Setelah direnovasi, beberapa bagian terlihat lebih indah dan rapi.

Pak Muhadi menjelaskan, betapa dulu Belanda telah merancang bangunan dengan sangat teliti dan cermat. Di bagian tengah Lawang Sewu, ada halaman terbuka yang luas. Sebatang pohon beringin berdiri tegak dan tajuknya terlihat rimbun. Disain bangunan yang telah direnovasi tergambar dengan baik disini. Inilah sisi terbaik yang saya lihat dari Lawang Sewu.

IMG01500-20130830-0929

Terlihat disainnya yang memiliki banyak jendela dan ventilasi. Setiap jendela berukuran lebar. Untuk menyesuaikan dengan iklim negara tropis yang panas, Belanda mengantisipasinya dengan banyak membuat jendela. Sehingga sirkulasi udara lancar dan tak perlu pendingin udara (AC).

Kebalikan dengan bangunan dan kantor-kantor saat ini. Justru jendela dan ventilasinya kecil-kecil. Bahkan terbuat dari kaca. Sehingga sirkulasi udara terhambat dan suhu udara pun meningkat.

Konstruksi di dalam ruangan berbeda lagi. Antar ruangan justru pintunya sedikit sekali. Untuk ruang kerja dibuat berderet memanjang. Antar ruangan ada jalan koridor atau lorong, gunanya memudahkan karyawan dalam berkomunikasi.

IMG01511-20130830-0946

Waktu memasuki ruang pertemuan atau aula, satu hal yang menurut saya sangat unik. Bagian daun jendelanya justru terbuka ke dalam dan ke atas. Kalau sekarang yang namanya jendela terbuka ke luar dan ke bawah.

IMG01514-20130830-0950

IMG01504-20130830-0940

Pemasangan seperti itu dirancang untuk mengurangi debu yang masuk ke ruangan. Tak hanya itu, bila ada orang yang jongkok lalu berdiri, kemungkinan kepalanya terantuk daun jendela lebih kecil. Kami juga sempat melongok ruang bawah tanah. Gelap, lembab dan lubang masuknya sempit. Untuk masuk ke ruang ini harus menggunakan sepatu boot dan membawa senter. Perlengkapan itu tak disediakan cuma-cuma alias harus bayar.

Terakhir, kami diajak naik ke lantai tiga. Tempat ini luas dan kita bisa melihat konstruksi atap Lawang Sewu. Atapnya tanpa plafon, jadi kuda-kuda dari kayu-kayu bantalan kereta api yang besar-besar, terlihat jelas.

IMG01515-20130830-0952

Setelah dari lantai 3, kami diajak keliling ke halaman samping. Ada beberapa ruangan yang belum direnovasi sama sekali. Sangat kontras dengan ruangan sebelumnya yang kami lihat. Alasannya klasik, dananya belum ada. Terlihat plafonnya lepas, dindingnya berlumut dan temboknya terkelupas.

IMG01516-20130830-1003

Lokasi parkir kendaraan pengunjung juga kurang memadai. Supir kendaraan yang mengantar kami dari Jogja mengeluh. Lahan parkir nggak disediakan secara khusus. Jadi akhirnya parkir di jalan sempit di tepi sungai, di luar Lawang Sewu. Tarifnya pun tergolong mahal, lima ribu rupiah. Sebenarnya di sebelah kanan pintu masuk ada halaman yang cukup luas untuk tempat parkir, tapi tidak digunakan. Namun, keluhan sopir itu agak tertutupi setelah melihat Lawang Sewu.

“Awalnya saya heran, kok ada orang jauh-iauh dari Pontianak mau melihat Lawang Sewu. Ternyata setelah sampai disini, bangunannya memang indah”, ungkapnya.

Nah, sobat blogger, kalau lagi di Semarang, jangan cuma lihat Simpang Lima atau Tugu Muda saja. Silakan singgah dan kunjungi Lawang Sewu.

Setelah itu belanja oleh-oleh untuk keluarga atau teman di Jalan Pandanaran. Ada Bandeng Presto, wingko babat dan tahu bakso serta cemilan lainnya. Lokasinya memang nggak jauh dengan Lawang Sewu.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali jalan, wisata sejarah dan kuliner sekaligus bisa dinikmati.

Vredeburg, Benteng Perdamaian di Jogjakarta

IMG01470-20130828-1057

Waktu sekolah di Jogja tahun 1989 sampai 1994, nggak pernah terpikir untuk melihat-lihat museum benteng Vredeburg. Paling hanya lewat di depannya saat melintas di jalan Malioboro. Namun saat jalan-jalan membawa anak-anak, lokasi ini termasuk salah satu yang nggak terlewatkan untuk dikunjungi.

Vredeburg adalah salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik di kota pelajar.

Menurut Wikipedia, benteng ini dibangun dalam waktu yang cukup lama, yaitu 27 tahun (1760-1787). Pada awalnya benteng ini bernama Rustenburg atau tempat peristirahatan. Dinamakan seperti itu karena pada masa kolonial Belanda, tempat ini sering digunakan sebagai peristirahatan tentara-tentara Belanda yang bertugas di Jogja. Selain itu, tempat ini juga digunakan sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda.

IMG01472-20130828-1100

Pada saat terjadi gempa bumi besar di Jogja pada tahun 1867 dan setelah dilakukan perbaikan, namanya diubah menjadi Vredeburg atau benteng perdamaian.

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi,  oleh pemerintah RI benteng ini selanjutnya dilakukan renovasi dan ditetapkan sebagai museum cagar budaya.

Lokasi museum benteng Vredeburg mudah dijangkau karena berada di pusat kota. Berada di titik nol kota Jogja. Di sekitar Vredeburg juga terdapat beberapa obyek wisata terkenal lainnya, seperti Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Taman Pintar dan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Tiket masuk ke lokasi museum benteng Vredeburg cukup murah. Hanya 2 ribu rupiah per orang. Bagi yang membawa kendaraan roda empat, juga tersedia halaman parkir yang memadai.

Terkadang para wisatawan atau pengunjung memarkir mobilnya di tempat ini dan tidak masuk benteng. Tapi selanjutnya berjalan kaki menyusuri pasar Beringharjo dan jalan Malioboro untuk berbelanja.

Setelah memasuki bagian dalam benteng, terlihat lingkungan yang bersih dan tertata rapi. Tampak bahwa obyek wisata sejarah ini benar-benar dikelola dengan baik. Di depan ruang diorama 1 dan 2 disediakan bangku bagi pengunjung yang ingin beristirahat.

IMG01483-20130828-1141

Ada rombongan mahasiswa yang duduk lesehan di halaman sambil berdiskusi. Beberapa wisatawan manca negara juga terlihat memasuki lokasi ini sambil menenteng kamera.

Bagi pengunjung yang memiliki hobi fotografi, jangan lupa untuk membawa kamera. Karena banyak point of interest yang begitu sayang untuk dilewatkan.

Ada dua ruangan utama yang berada di sebelah kiri dan kanan pintu masuk. Ruangan diorama 1 dan diorama 2. Di kedua diorama itu, suasananya cukup sejuk, karena dilengkapi pendingin udara.

Setiap peristiwa yang bernilai sejarah dibuatkan diorama yang cukup informatif. Juga ada penjelasan di bagian depannya yang disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

IMG01480-20130828-1135

Seperti peristiwa kedatangan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta di stasiun Tugu, pada saat pusat pemerintahan untuk sementara pindah ke Jogja.

IMG01473-20130828-1110

IMG01476-20130828-1113

Koleksi seragam wanita anggota palang merah pada masa-masa perjuangan merebut kemerdekaan, juga bisa dilihat di diorama ini. Semuanya ditampilkan lengkap, mulai rok, tas, penutup kepala hingga kotak obat-obatannya.

Ada juga peristiwa lain yang membuat saya tertegun cukup lama. Melihat diorama yang menggambarkan puing-puing pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh pesawat Belanda P-40 Kitty Hawk, saat hendak mendarat di pangkalan udara Maguwo. Pesawat milik warga India itu terbang dari Singapura dan membawa bantuan obat-obatan dari palang merah Malaya. Dalam peristiwa itu, Komodor Agustinus Adisucipto dan Komodor Abdul Rahman Saleh gugur.

Berada di lokasi Vredeburg jauh dari kesan membosankan. Selain mempelajari peristiwa sejarah, mengamati arsitektur bangunan jaman dulu juga sangat mengasyikkan. Ciri khasnya seperti jendela dan pintu yang besar.

IMG01479-20130828-1131

Arsitek Belanda sudah memperhitungkan, bahwa membuat bangunan di daerah tropis seperti di Indonesia, harus memiliki pintu dan jendela serta ventilasi yang besar. Agar sirkulasi udara lancar dan tidak terasa panas serta pengap. Dan juga tidak perlu lagi pendingin udara.

Di bagian belakang benteng, di atas pintu keluar terdapat jalan yang bisa kita lewati. Jalan ini sepertinya digunakan untuk pertahanan pada saat benteng diserang.

IMG01485-20130828-1143

Baru saya ketahui, pintu keluar dari benteng rupanya tersambung ke lokasi taman Pintar. Saat hendak keluar dari benteng, seorang petugas satpam mengingatkan kami, apakah sudah melihat-lihat diorama 1,2 dan ruang informasi.

Sebuah kepedulian dan perhatian yang tidak kami duga sebelumnya. Ternyata petugas pengamanan pun tidak ingin ada lokasi yang terlewati oleh pengunjung yang sudah membayar tiket masuk.

Give Away – Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Hari ini, 23 Maret, tepat satu tahun blog ini berumur. Tak terasa waktu setahun berjalan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin belajar ngeblog. Mulai daftar, pilih theme, mengisi widget, bikin postingan pertama, sampai belajar istilah dalam ngeblog seperti blogwalking, page rank, SEO.

Di ulang tahun yang pertama ini, coba-coba ikut Give Away  (GA) yang diadakan blok Tomkuu. Info ini saya dapat dari hasil jalan-jalan ke blognya beberapa teman. Ini GA ketiga yang aku ikuti. Dibandingkan dua GA sebelumnya, GA kali ini berbeda. Kalau dua GA sebelumnya  diminta untuk bikin postingan yang temanya ditentukan oleh yang punya blog.

GA Tomku ini, kita hanya diminta mencantumkan link postingan yang isinya mereview topik-topik yang beraneka ragam, seputar makanan dan minuman, produk kecantikan, buku, kesehatan, teknologi informasi, atau tempat wisata. Bisa pilih salah satu tema yang kita inginkan. Jadi nggak perlu lagi bikin postingan baru.

Kebetulan ada salah satu tema menarik, mereview tempat wisata. Nah, waktu lebaran tahun 2012 lalu, saya dan keluarga travelling ke obyek wisata di  Singkawang. Semua pengalaman, mulai dari persiapan, terus  perjalanan dari Pontianak dan kunjungan ke obyek wisata, saya tuangkan dalam postingan. Agak panjang juga ceritanya.

Ingin menyimak? Ini dia judulnya :

 http://yudhihendros.wordpress.com/2012/08/24/berlibur-ke-sinka-island-zoo-paduan-wisata-pantai-dan-kebun-binatang/

Hitung-hitung sekalian berbagi cerita dan merealisasikan resolusi tahun 2013. Apa itu? Ikut lomba ngeblog. Cuma itu? Nggak juga sih, sekalian membantu memasarkan potensi wisata di daerah. Terus, siapa tahu panitia GA tertarik dan memberikan balasan yang setimpal  :-).