Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


16 Komentar

Gimana Kalau Nama di Tiket nggak sama dengan KTP?

Waktu transit di bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Pontianak, ada pemeriksaan tiket sebelum masuk ruang boarding. Iseng-iseng saya tanya ke petugas yang memeriksa tiket. Karena waktu itu dia minta saya dan penumpang lainnya supaya menunjukkan KTP.

Setelah selesai memeriksa boarding pass, saya iseng-iseng tanya,”Kalau nama di tiket nggak sama dengan di KTP, gimana, Mas?”.

“Nanti akan kita tanya lagi, Pak. Darimana dapat tiketnya, apakah beli dari agen atau beli dari orang lain”, jelasnya.

Waktu itu saya nggak bertanya lagi karena buru buru masuk ruang boarding dan penumpang lain di belakang sudah antri. Padahal waktu pertama kali check in di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya sudah diminta menunjukkan KTP. Waktu tiba di bandara transit juga sudah lapor ke petugas. Lha, ini waktu mau masuk ruang boarding Soekarno-Hatta, kok harus diperiksa lagi KTPnya.

Kalau yang bertanya seperti itu adalah petugas di bagian check in di bandara Tjilik Riwut, saya bisa paham. Karena dia ingin memastikan bahwa penumpang yang berangkat namanya sama dengan identitas dirinya dalam KTP atau SIM. Hal ini sudah ada aturannya. Namun kalau sebelum masuk ruang boarding masih harus menunjukkan KTP lagi, apakah hal itu tidak berlebihan? Atau hal itu sudah menjadi bagian dari SOP pemeriksaan tiket penumpang? Memang kelihatannya sepele. Dan kalau memang namanya sama dengan di KTP, kenapa sih harus khawatir?

Bukan masalah khawatir nggak khawatir. Saya cuma berandai-andai saja. Apa kalau nama penumpang di tiket nggak sama dengan di KTP, terus jadwal keberangkatannya ditunda dan penumpang nggak bisa terbang saat itu? Mungkin teman-teman ada yang tahu jawabannya.


2 Komentar

Demi Seporsi Ketupat Kandangan

IMG01965-20140912-0711

“Akhirnya kesampaian juga pak Yudhi makan ketupat kandangan”komentar seorang teman.

Seporsi makanan khas Banjar yang kami nikmati di warung H. Idah ketika hari kedua di Palangkaraya. Makanannya sih sederhana. Potongan ketupat ukuran besar dari beras tanpa campuran ketan. Ditambah kuah santan, lauk ikan haruan yg diasap dan ditaburi bawang goreng. Lauknya inilah yang membedakan dengan ketupat yang biasa disantap ketika lebaran Idul Fitri.

Demi seporsi ketupat kandangan ini, saya dan dua orang teman akhirnya nggak merasakan menu sarapan di Swiss Bell Hotel International Danum. Kalau dipikir-pikir, memang lebih enak sarapan di hotel. Menunya macam-macam dan bisa memilih sesuka hati. Restorannya juga nyaman. Berada di tepi taman dan kolam renang. Makanya, dua orang teman memilih sarapan di hotel daripada ikut menikmati ketupat kandangan. “Banyak santannya”katanya. Mungkin takut kolesterolnya naik kali ya.

Namun karena terlanjur janji dengan teman yang tinggal di Palangkaraya, rencana sarapan di hotel lima bintang itu nggak jadi . Apalagi teman itu membawa sendiri mobilnya dan menjemput kami di hotel. Rasanya nggak enak hati kalau dia sudah datang ke hotel, tiba-tiba agenda makan ketupat kandangan dibatalkan.

Berangkat dari hotel jam 06.45 WIB, kami berempat langsung meluncur ke kota menuju warung ketupat kandangan. Lumayan, masih ada waktu satu jam lima belas menit sebelum acara dimulai. Rupanya letak warung makan itu nggak jauh dari rumah makan spesialis ikan bakar Al Mu’minun yang sehari sebelumnya kami makan siang di situ.

Tiga orang selesai makan duluan. Selesai menikmati seporsi ketupat kandangan dan segelas teh manis hangat, saya bergegas ke depan. Saya terkejut ketika tanya ke ibu yang meracik ketupat kandangan,”Berapa semuanya?”.  Dengan logat Banjarnya ibu itu menjawab,” Sudah dibayar sama bapak itu”.

Alamak, baik benar kawan satu ini. Sudah menjemput di hotel, menyetir sendiri mobilnya dan membawa kami makan ketupat kandangan, masih pula dia yang membayari kami bertiga.


14 Komentar

Terbang ke Palangkaraya

Setelah satu tahun, akhirnya dapat kesempatan lagi ke bandara. Nggak cuma lihat-lihat, tapi sekalian terbang dari Pontianak ke Palangkaraya via Jakarta. Ada tugas dari kantor untuk mengikuti sosialisasi peraturan terbaru dari Kemenhut. Juga kendala dan permasalahan jika aturan baru itu dilaksanakan di lapangan.

Terakhir kali terbang akhir Agustus tahun lalu waktu pulang ke Jogja. Itu pun setelah ada kepastian pengalihan tiket dari Batavia ke Express Air.

Kali ini merasakan pengalaman lain naik Lion Air. Bagi yang hobi ngemil dan nggak tahan lapar, kalau mau naik Lion Air baiknya bawa cemilan. Karena di pesawat ini nggak nyediain snack dan minuman secara gratis. Tapi kalau mau beli di dalam pesawat ya silakan.

Untungnya sebelum ke bandara, jam 5.15 sudah sarapan nasi goreng di rumah buatan istri. Selesai sarapan jam 5.30 terus meluncur ke bandara. Taksi avanza yang dipesan rupanya sudah stand by di depan rumah. Berangkat pagi-pagi karena pesawat take off 07.10.

Tiba di bandara rupanya dua teman dari camp sudah datang duluan. Janjian ketemuan sih jam 6. Pagi. Rupanya setengah jam sebelumnya mereka sudah di berdiri di depan ruang keberangkatan. Syukurlah bukan saya yang menunggu mereka hehehe. Kami bertiga langsung masuk ke ruang check in dan ternyata konter Lion Air masih sepi. Dapat antrian nomor tiga.

Waktu orang kedua check in inilah ada kejadian lucu. Seorang bapak di depan saya kelihatan bingung dan bertanya,”Lihat kardus punya saya nggak?” Saya balik tanya,”Lho, tadi diletakkan di mana, pak?” Sambil check in, dia mencari-cari kardusnya di sekeliling tempatnya berdiri. Nggak ketemu juga.

Petugas chek in pun sempat bilang,”Apa terbawa masuk ke bagasi?” Akhirnya bapak itu pun masuk ke tempat timbangan bagasi barang dan mencari-cari kardusnya. Giliran saya yang check in dan saya serahkan tiket plus KTP.

Seumur-umur, baru kali ini saya lihat ada penumpang kehilangan barang bawaan di ruang chek in. Dan mencarinya sampai ke tempat kerja petugas check in. Rupanya nggak ketemu juga.

Saya pun setelah dapat boarding pass terus mengajak teman-teman antri bayar pajak PSC dan masuk ruang boarding. Moga-moga ketemu deh, pak, barang bawaannya.


7 Komentar

Quick Count ala Rumah Makan

Setiap kali menempuh perjalanan Pinoh-Pontianak pergi pulang menggunakan kendaraan umum, bis yang saya tumpangi selalu singgah di rumah makan di daerah Sosok. Ada beberapa rumah makan yang menjadi persinggahan bis-bis antar kota maupun antar negara. Masing-masing rumah makan memiliki pelanggan dari perusahaan otobis yang berbeda.

Di tempat ini, para penumpang yang ingin makan dipersilakan antri mengambil hidangan yang diletakkan di etalase kaca secara prasmanan. Selesai mengambil makanan, penumpang duduk di dalam ruangan yang terpisah dengan sopir. Tak lama, ada karyawan yang mendatangi meja penumpang dan menanyakan jenis minuman yang diinginkan. Setelah memesan minuman, dia lalu melihat apa saja hidangan yang tersaji di atas piring. Tanpa kalkulator dia langsung melakukan hitung cepat dan mencatat pada sepotong kertas harga makanan yang sedang dinikmati penumpang.

Hasilnya, tak sampai setengah menit kertas yang berisi harga makanan itu diletakkan dalam posisi angkanya tertutup di atas meja. Biasanya saya penasaran ingin tahu berapa sih harga makanan yang harus dibayar. Tapi rasa penasaran itu saya tahan dulu sampai selesai makan.

Sebelum menuju kasir saya buka kertas itu. Tertulis Rp 16.000 untuk sepiring nasi putih, sayur daun ubi, dua potong tahu goreng, sepotong tempe goreng dan segelas teh panas manis. Kenapa saya hanya makan dengan lauk seperti itu? Belajar dari pengalaman teman yang pernah juga makan di rumah makan tersebut. Makan di rumah makan dengan perhitungan ala quick count seperti ini memang harus hati-hati memilih lauknya. Saya biasanya menghindari mengambil lauk berupa ayam atau daging, karena harganya mahal.

Tak hanya itu. Kita juga perlu sedikit kritis dan tidak terburu-buru langsung membayar ke kasir. Perlu teliti apakah harga yang harus kita bayar tidak kemahalan dengan menu yang dimakan. Karena menghitung harga makanan  dengan cara quick count seperti ini bisa saja salah. Apalagi kalau kita makan tak hanya sendirian, tapi bersama-sama keluarga atau teman-teman.

Ini yang pernah dialami istri saya ketika makan bersama anak-anak. Waktu menerima kertas yang berisi harga makanan yang harus dibayar untuk lima orang, istri saya minta supaya hitungannya dicek lagi karena terlalu mahal. Akhirnya setelah dicek ulang, ternyata memang benar ada kesalahan perhitungan. Memang nggak semua penumpang mengecek ulang hasil quick count harga makanan. Waktu yang hanya sekitar setengah jam untuk singgah di rumah makan terkadang membuat penumpang tak sempat lagi untuk memeriksa apakah harganya wajar atau terlalu mahal.


6 Komentar

Lebaran, Tiket Bis Damri Pinoh-Pontianak Nggak Naik

IMG01911-20140725-1226

Di saat harga-harga barang dan jasa merambat naik menjelang lebaran, ternyata masih ada tiket transportasi yang nggak naik. Ini yang saya alami ketika membeli tiket bis Damri Pinoh-Pontianak untuk keberangkatan tanggal 26 Juli 2014. Tarifnya masih sama seperti hari-hari biasa. 145 ribu rupiah per penumpang untuk bis yang warna putih. Tarif ini sama dengan tiket yang saya beli tanggal 8 Juli lalu dengan rute dan bis yang sama.

IMG01913-20140725-1227

Kalau ada bis yang warna putih, apa ada bis yang warna lain ? Ya, ada dua bis yang dimiliki Damri untuk rute tersebut. Penumpang biasa menyebut bis eksekutif dengan bis putih dan bis super eksekutif dengan bis merah atau royal. Royal ini mungkin semacam tipe atau serinya. Kalau yang jurusan Pontianak – Kuching Malaysia sebutannya lain lagi, yaitu Legacy.

Bedanya adalah bis putih tempat duduknya 2-2, sehari dua kali trip, berangkat pagi jam 9 dan malam jam 7. Bis merah kursinya 1-2, tarifnya 175 ribu rupiah dan hanya berangkat malam hari jam 7. Nah, rencana pulangnya nanti naik yang bis merah ini. Moga-moga tarifnya juga nggak naik. :-)

Tarif yang nggak naik itu tidak hanya terjadi tahun ini, namun juga tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket untuk hari-hari menjelang lebaran tidak ada kenaikan atau kena tambahan tuslah sekitar 25 % dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini yang agak berbeda dengan transportasi bis antar kota di Jawa. Saya pernah baca postingan di blognya mas Ochim tentang tarif lebaran bis antar kota di Jawa yang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Kebijakan tarif ini bisa jadi bervariasi antar perusahaan otobis dan daerah operasinya. Bagi penumpang, tarif lebaran yang tetap ini dapat menghemat keuangan karena pos terbesar biaya mudik lebaran adalah untuk transportasi.


12 Komentar

Buka Puasa di Bis dan Sahur Jam 23.15

Berpuasa saat dalam perjalanan memang menyisakan beberapa kenangan. Mulai bekal makan malam yang perlu dibawa sebab bis berangkat jam 19.00 sampai sahur yang terlalu awal karena bis hanya sekali singgah di rumah makan.

Sebenarnya kalau kita dalam perjalanan yang jaraknya lebih dari 80 km, diberikan keringanan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga satu hari puasanya bolong gara-gara bepergian. Apalagi saat ini sarana transportasi begitu mudah dan nyaman. Jadi nggak salah juga kalau ada orang yang berpuasa meskipun statusnya dalam perjalanan. Semuanya dikembalikan ke niat masing-masing orang.

Ini yang saya alami beberapa hari lalu ketika ada tugas ke Pontianak. Berangkat dari camp jam 5 pagi ke Nanga Pinoh dengan tiga teman kerja. Sampai Pinoh terus naik bis antar kota yang berangkatnya jam 9 pagi. Sebelum ke terminal saya sempatkan belanja snack dan minuman karena diperkirakan buka puasanya di dalam bis.

Dugaan saya benar, satu jam sebelum tiba di Pontianak ketika bis memasuki daerah Ambawang adzan Maghrib berkumandang. Bis melaju pelan dan kami pun berbuka puasa. Beberapa teguk air minuman dan kurma saya nikmati untuk berbuka puasa. Perjalanan sekitar 10 jam itu rasanya tidak terlalu berat meskipun kami dan penumpang lainnya berpuasa.

Pengalaman yang nggak terlupakan ketika pulang kembali ke Nanga Pinoh. Beda dengan waktu berangkat yang naik bis pagi, pulangnya ke Pinoh naik bis malam. Sempat berbuka puasa dan sholat maghrib serta sekalian dijamak dengan Isya di rumah terus berangkat ke agen bis. Cuaca saat itu baru saja hujan lebat sehingga beberapa ruas jalan tergenang.

Sampai di agen, ternyata bis belum datang. Bis baru berangkat jam 19.15 dan berhenti di rumah makan di Sosok jam 23.15 WIB. Meski belum waktunya sahur, tapi waktu itu saya ikut turun dari bis untuk makan. Makan sahur yang terlalu awal. Padahal waktu bis berangkat saya baru saja menyantap bekal yang disiapkan istri.

Kalau waktu itu ketiduran dalam bis mungkin saya nggak sahur, karena bis langsung meluncur ke Pinoh tanpa singgah-singgah lagi. Di perjalanan, sebelum Imsak saya sempatkan makan buah jeruk, roti dan minum secukupnya. Sampai di terminal bis Pinoh, saat itu waktu subuh telah datang. Menjalani puasa dalam perjalanan memang perlu persiapan dan penuh kenangan.


10 Komentar

Teko yang Airnya tak Diminum

IMG01884-20140617-1837

“Teko itu dipakai untuk cuci tangan, bukan untuk minum?” kata seorang tamu kepada kawannya melihat air di teko itu akan dituangkan ke dalam gelas untuk diminum. Teman-temannya yang lain dan saya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan base camp saat itu hanya tersenyum-senyum.

Kalau melihat teko pencuci tangan seperti gambar di atas, jadi teringat waktu pertama kali ke Kalimantan Barat. Lima belas tahun yang lalu saya melihat benda itu di rumah makan di terminal Ngabang. Ketika itu bis malam rute Pontianak – Nanga Pinoh yang saya tumpangi singgah di rumah makan Padang setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam.

Para penumpang dan sopir bis berukuran tiga perempat-seperti metro mini di Jakarta-biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk makan malam atau sekedar minum kopi atau teh.

IMG01883-20140617-1837Waktu di rumah makan itu, saya heran melihat teko yang di bawahnya ada wadah berbentuk lingkaran dan bagian atasnya berlubang. Pikiran saya waktu itu sama dengan tamu, pasti air putih di dalam teko itu untuk diminum. Terus wadah lingkaran itu untuk apa?

Di tengah kebingungan gimana menggunakannnya, saya putuskan untuk makan dulu. Ketika sedang menikmati hidangan itulah, saya melihat salah seorang penumpang yang mengangkat teko itu dengan tangan kiri dan mengucurkannya ke tangan kanan di atas wadah berlubang tadi secara perlahan.

Oo… rupanya teko itu airnya digunakan untuk cuci tangan dan bukan untuk diminum. Pantas kok dia menuangkan air di teko dengan tangan kiri dan bukan tangan kanan. Karena kalau kita menuangkan air untuk minum air putih, teh atau kopi biasanya menggunakan tangan kanan. Kecuali kalau seseorang itu kidal atau dia makan nggak pakai sendok.

Biasanya kalau kita makan nggak pakai sendok di restoran, warung kaki lima atau di rumah akan tersedia mangkok kecil berisi air dan sedikit jeruk nipis untuk cuci tangan. Gunanya untuk menghilangkan bau makanan. Di Jawa, mangkok itu biasa disebut wiji’an atau kobo’an. Sekali dipakai untuk cuci tangan, airnya langsung diganti.

Namun di Kalimantan Barat, di beberapa tempat pengganti wiji’an atau kobo’an untuk cuci tangan ya teko dan wadah yang berlubang tadi. Inilah satu bukti lagi keragaman budaya di negeri ini. Beda tempat beda pula kebiasaannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.