Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


24 Komentar

Terbang dengan ATR 72-600

IMG01122-20130717-0944

“Saya beberapa kali dikomplain dan ditanya oleh masyarakat mengapa kalau dari Pontianak ke Palangkaraya atau Banjarmasin harus ke Jakarta dulu. Padahal, ini kan, sama sama di Pulau Kalimantan,” ujar Gubernur Kalbar, Cornelis, saat peresmian penggunaaan pesawat ATR 72 – 600 oleh maskapai Kalstar di Bandara Supadio, seperti dikutip dari harian Kompas cetak 6 Juli 2013.

Tepat enam hari setelah peresmian penggunaan pesawat ATR 72-600 itu, saya diberikan kesempatan merasakan terbang dengan pesawat yang digunakan oleh maskapai Kalstar itu.

Pesawat berbaling-baling tersebut melayani rute penerbangan Pontianak – Putussibau, Sintang dan Ketapang. Nggak hanya rute itu, pesawat juga melayani rute Pontianak – Semarang melalui Ketapang.

Ini benar-benar diluar dugaan saya.

Rezeki memang sudah ada yang mengatur, demikian orang bilang. Setelah selesai mengikuti rapat dua hari di Pontianak, tanggal 10-11 Juli, saya diminta oleh pimpinan untuk pulang ke camp keesokan harinya bersama 5 orang tamu.

Misinya, kembali ke tempat tugas sekalian mendampingi tamu yang akan berkunjung ke lapangan. Karena tergolong tamu VIP, mereka menumpang pesawat Kalstar dari Pontianak ke Sintang. Kalau nggak mendampingi tamu sih, biasanya saya pulang ke tempat kerja naik bis malam.

Bukan pertama kali ini saja saya naik Kalstar. Sebelumnya juga sudah pernah. Cuma yang bikin saya heran, kok di tiket tertulis keberangkatan pesawat jam 07.00? Biasanya, seperti bulan lalu, pesawat berangkat jam 15.30. Kok jam terbangnya berubah? Sudahlah, ikuti saja jadwalnya sesuai tiket. Besoknya, tanggal 12 Juli jam 5.30 saya sudah meluncur ke bandara.

Sebagai pendamping tamu, lebih baik datang duluan. Lucu kan kalau saya sampai di bandara, justru tamunya sudah menunggu duluan. Di bandara juga sudah ada  teman dari kantor yang ikut mengantar keberangkatan kami.

Agak khawatir juga sampai jam 06.00. tamu belum muncul di bandara. Padahal sudah check in tiket. PSC juga sudah dibayar. Cuma belum bisa boarding karena menunggu barang-barang bawaan tamu yang harus masuk bagasi.

Kontak via telepon pun berulang-ulang dilakukan untuk memastikan di mana posisi terakhir. Waktu pertama dihubungi masih sarapan di hotel, telepon kedua posisi sudah di perjalanan. Terbayang kalau sampai terlambat datang di bandara dan ketinggalan pesawat.

Lega juga akhirnya, jam 06.20, tamu dengan menggunakan dua kendaraan tiba di bandara. Buru-buru saya ajak tamu ke ruang pemeriksaan dan masuk ke ruang boarding.

Setelah berada di ruang boarding, ada pengumuman, ternyata pesawat delay saudara-saudara. Menurut informasi petugas bandara, ada masalah cuaca di sekitar bandara Susilo, Sintang. Setelah menunggu 20 menit, akhirnya sekitar jam 07.20 kami boarding dan naik bis menuju pesawat.

Dibandingkan pesawat sebelumnya, pesawat ini kapasitas kursinya lebih banyak. Saya hitung ada 72 tempat duduk. Empat baris ke samping dengan susunan dua-dua dan delapan baris ke belakang. Saya baru tahu arti ATR 72 – 600, angka 72 itu mungkin menunjukkan kapasitas tempat duduk atau penumpangnya. Kalau 600 artinya apa ya? Ada reman blogger yang bisa menjelaskan?

Suasana di kabin agak lengang. Jumah penumpang hanya separuh dari jumlah kursi yang ada. Selain jumlah penumpang, perbedaan dengan generasi pesawat sebelumnya adalah ketinggian terbang.

Kalau ATR yang kapasitasnya 40 orang yang pernah saya posting di sini, ketinggian terbangnya 9.000 feet. Nah, ATR 72 – 600 ini terbang hingga ketinggian 12.000 feet atau 4.000 meter di atas permukaan laut. Waktu tempuhnya lebih cepat 2 menit dibanding pesawat generasi sebelumnya, Pontianak – Sintang  hanya 33 menit. Bandingkan kalau naik bus, perlu waktu sampai 10 jam. Capai deh :-)

Karena menggunakan baling-baling dan terbang tidak terlalu tinggi dibandingkan pesawat bermesin jet, pemandangan di bawah pesawat masih nampak. Ini dia kesempatan untuk memotret beberapa gambar : gugusan awan, permukaan lahan berbukit,  dan suasana di dalam kabin pesawat.

IMG01115-20130712-0737

IMG01112-20130712-0735

IMG01110-20130712-0735

Meski memiliki kapasitas penumpang lebih banyak, ada satu hal yang nggak berbeda dengan seri sebelumnya. Apa itu? Di dalam pesawat, nggak pakai nomor kursi. Meski di tiket sudah tertera nomor kursi, di kabin pesawat ternyata nggak tercantum.

“Silakan bebas memilih kursi”kata salah satu pramugari kepada penumpang yang kebingungan mencari tempat duduknya sesuai tiket yang dipegang. Nah, lho. Kok bisa begitu ya?


36 Komentar

Terbang di Ketinggian 9.000 Feet

naik pesawat

“Ketinggian pesawat ini berapa feet, mbak”tanya saya pada pramugari.

“Sembilan ribu feet, Pak”jawabnya sambil memberikan air minum dan sebungkus wafer.

Terbang dengan pesawat berbaling-baling memang beda dengan pesawat bermesin jet. Ini yang saya alami ketika naik Kalstar dari Sintang ke Pontianak (16/6).

Bukan pertama kali saya naik pesawat berbaling-baling, karena sebelumnya pernah dari Semarang ke Pontianak via Pangkalan Bun menggunakan Deraya. Sekitar tahun 2007, usai mudik lebaran.

Kali ini kesempatan itu datang lagi, sewaktu mengantar dua orang tamu pulang ke Pontianak. Tamu perusahaan yang harus transit di Bandara Supadio selama tiga jam, sebelum  terbang ke Jakarta dan selanjutnya ke Singapore.

Rasanya seperti mimpi, terbang sekitar 35 menit menggunakan Kalstar. Di postingan tahun lalu saya pernah menulis tentang pesawat yang melayani rute ini dengan judul Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang.

Postingan yang menceritakan sewaktu menjemput tamu yang naik pesawat dari Pontianak ke Sintang. Nggak sampai setahun, yang awalnya diberi tugas menjemput, sekarang malah diminta ikut naik pesawat, mendampingi tamu pulang sampai ke Pontianak. Termasuk waktu berangkat dari Pontianak juga ikut naik pesawat ini.

Sewaktu ditugaskan menjemput tamu tahun lalu, dalam hati saya ada keinginan, kapan ya bisa naik pesawat itu. Sebersit keinginan yang akhirnya menjadi kenyataan. Benar-benar pengalaman yang nggak terlupakan.

Alhamdulillah, memang kita nggak boleh berhenti berkeinginan, bermimpi dan berharap, karena suatu saat hal itu dapat menjadi nyata dan kita alami.

Pukul 16.00 WIB pesawat Kalstar dari Pontianak mendarat di bandara Susilo Sintang. Balik lagi ke Pontianak pukul 16.25 WIB.

Antri naik pesawat

Saya baru tahu, ternyata pintu masuk ke pesawat hanya satu, di bagian belakang. Pintu ini sekaligus pintu keluar bagi penumpang yang hendak turun dari pesawat. Sementara pintu bagian depan digunakan menyimpan bagasi penumpang.

Setelah berada di dalam pesawat, ada yang berbeda dibandingkan naik pesawat bermesin jet. Ternyata penumpang bebas memilih kursi. Bebas? Ya, meskipun di tiket tercantum nomor kursi, ternyata di dalam kabin kenyataannya bisa lain.

Saya yang waktu berangkat dari Pontianak dapat kursi 6 B, setelah masuk pesawat harus cari tempat duduk lain karena kursi sudah diisi penumpang. Pramugari hanya membantu menunjukkan tempat duduk yang masih kosong untuk penumpang yang belum kebagian kursi, tanpa melihat nomornya. 

Karena paling belakang masuk ke pesawat, saya kebagian kursi baris kedua dari depan. Tepat di samping baling-baling sebelah kanan. Total jumlah kursi penumpang 48 buah. Satu baris berisi 4 kursi.  Formasi dua-dua dalam 12 baris.

Setelah duduk dan mengencangkan ikat pinggang, sering saya melihat baling-baling, mulai lepas landas sampai mendarat. Bukan tertarik, malah khawatir kalau baling-balingnya sampai lepas atau tiba-tiba berhenti pas pesawat di udara :-).

Namun ada satu hal yang menyenangkan terbang dengan pesawat berbaling-baling. Karena ketinggiannya 9.000 feet atau sekitar 3.000 meter, pemandangan di bawah terlihat jelas.

Beda kalau naik pesawat jet yang terbang di atas ketinggian 30.000 feet. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya awan  bergulung-gulung. Terkecuali jika pesawat baru saja lepas landas atau akan mendarat.

Di dalam pesawat Kalstar, pemandangan di bawah beberapa kali saya jepret pakai Blackberry. Nggak bosan rasanya memandang alur Sungai Kapuas yang berkelok-kelok, jalan, rumah penduduk atau lahan yang baru dibuka untuk perkebunan.

Sungai Kapuas

9.000 feet

Belum puas memotret, terdengar pengumuman pramugari bahwa dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat di Bandara Supadio dan para penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman kembali. Buru-buru saya matikan smartphone dan kembali duduk manis.

Wow, benar-benar perjalanan yang singkat, nggak sampai satu jam. Jauh benar selisih waktunya dibandingkan kalau naik bis.

“Too long”kata salah seorang tamu ketika saya jelaskan perlu waktu 10 jam kalau naik bis dari Pontianak – Sintang atau sebaliknya.

 


2 Komentar

Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang

“Kalau naik pesawat, waktunya hanya 35 menit”, ungkap salah seorang tamu di dalam kendaraan jemputan. “Dari Sintang ke camp berapa jam”, tanya tamu lainnya yang duduk di sebelah kanan saya. “Masih 4 jam lagi, Pak”, jawab saya dalam perjalanan dari Sintang ke Nanga Pinoh.

Lebih cepat perjalanan dari Pontianak ke Sintang, daripada dari Sintang ke camp. Padahal jarak Pontianak – Sintang sekitar 500 km, sementara jarak tempuh dari Sintang ke camp tidak sampai sepertiganya.

Setelah pesawat Kalstar beroperasi melayani rute Pontianak – Sintang, beberapa tamu sering menggunakan moda transportasi udara ini sebagai alternatif perjalanan menuju camp. Jadwal terbang pesawat  jenis ATR tersebut setiap hari dengan kapasitas 50 tempat duduk.

Berangkat dari Pontianak pukul 13.00 WIB dan tiba di Sintang pukul 13.35. Setelah menurunkan penumpang dan barang sekitar 20 menit, pesawat terbang lagi ke Pontianak pukul 13.55.

Sebelumnya, tamu-tamu sering menggunakan bis umum eksekutif atau kendaraan travel dari Pontianak ke Nanga Pinoh. Waktu tempuhnya 9 jam, dilanjutkan menggunakan kendaraan umum sekitar 2 jam ke camp.

Perlu waktu 11 jam perjalanan untuk mencapai daerah yang masih berada dalam satu propinsi. Betapa luasnya propinsi Kalimantan Barat. Luasnya sama dengan satu setengah kali luas Jawa ditambah Bali. Kalau di pulau Jawa, waktu tempuh selama itu sudah melewati 6 propinsi : Jabar, Banten, DKI Jaya, Jateng, DIY dan Jatim.

Dengan menumpang pesawat Kalstar, total waktu tempuh ke camp menjadi 4,5 jam. Menghemat waktu dan tidak menguras fisik dan tenaga. Terus, kalau naik pesawat Kalstar, berapa harga tiketnya? Dari Pontianak ke Sintang tiketnya Rp 459.300. Sekitar empat kali lipat harga tiket bis. Kalau bicara harga tiket, memang lebih mahal. Tapi waktunya tempuhnya hanya 1/16 kali dibandingkan waktu tempuh bis. Pilih mana?

Bagi penumpang yang super sibuk, dari sisi waktu jelas lebih efisien naik pesawat. Apalagi kalau penumpang ingin meneruskan penerbangan selanjutnya ke kota lainnya. Seperti waktu para tamu tersebut pulang ke Pontianak. Setelah terbang dari Sintang menggunakan Kalstar dan tiba di bandara Supadio, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat lainnya.

Tidak perlu ke luar bandara, tidak perlu menginap lagi di hotel. Cukup menunggu di bandara untuk penerbangan selanjutnya.

Sumber bacaan ;

- Pontianak Post

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 193 pengikut lainnya.