Jauh di Fisik, Dekat di Hati

Menurut pendapat beberapa orang, rumah tangga yang ideal adalah jika suami istri serta anak-anak bersama-sama tinggal di rumah dan kota yang sama. Tiap hari anggota keluarga dapat bertemu dan saling bertegur sapa. Di pagi hari, aktivitas  dimulai ketika seorang ayah mengantar anak-anaknya ke sekolah, setelah itu ia berangkat ke tempat kerja. Sebelum berangkat, biasanya anak-anak akan mencium tangan ibunya dan sang suami mencium kening istrinya.

Sementara itu, si istri tinggal di rumah, membereskan pekerjaan rumahnya dengan pembantu, mulai dari berbelanja, mencuci, memasak, menyetrika dan menyiapkan makan siang untuk anak-anak dan sang suami. Pada siang hari, ia akan pergi untuk menjemput anak-anak di sekolah. Dan pada saat jam makan siang tiba, anak-anak dan suami sudah siap di depan meja makan. Begitulah sebagian dari ritme sebuah rumah tangga yang anggota keluarganya tinggal bersama-sama di satu kota.

Namun demikian, pada saat ini keadaan telah berubah. Tuntutan ekonomi rumah tangga, tugas dan pekerjaan terkadang menyebabkan  anggota keluarga baik suami maupun istri,  tidak dapat tinggal bersama-sama dalam satu kota. Pada saat ini, suami istri berpisah lain kota,  beda pulau, bahkan lain negara bukan lagi hal yang mengherankan.

Coba kita lihat bagaimana para TKI harus merantau sampai ke luar negeri, seperti Arab Saudi, Hongkong, Taiwan dan berpisah dengan anggota keluarganya di tanah air untuk mencari nafkah. Seorang suami sekaligus ayah yang berprofesi sebagai dosen, kemudian mendapatkan beasiswa untuk meneruskan studi S3 ke luar negeri, juga harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya, karena sang istri lebih memilih berkarier di kotanya.

Begitu pula dengan aparat negara yang harus berpisah dengan keluarganya, karena harus bertugas selama berbulan-bulan di daerah perbatasan yang jauh dari keramaian dengan fasilitas yang sangat terbatas. Tentara yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB dan bertugas di negara yang dilanda konflik,  juga harus berkorban terpisah dengan istri dan anak-anaknya selama setahun .

Dengan kondisi seperti itu, frekuensi pertemuan secara fisik dan komunikasi seorang ayah atau ibu dengan anggota keluarga lainnya sulit berlangsung setiap hari.  Kesibukan tugas yang tiada henti, ketiadaan jaringan telekomunikasi dan kesalahpahaman yang belum dapat dipahami antara suami istri merupakan  faktor-faktor yang menyebabkan proses komunikasi dengan anggota keluarga lainnya tidak berjalan dengan baik.

Ketidaklancaran komunikasi  suami istri yang tinggal berjauhan  dapat menyebabkan terjadinya problema berupa :

1.  Rasa Keterasingan Diri (Teralienasi)

Rasa keterasingan dan tidak mengenal secara mendalam anggota keluarga yang lainnya dapat terjadi bila seorang ayah merasa asing dengan anaknya, karena pada saat si anak digendong, si anak justru takut dan menangis. Saat sang ayah datang, si anak bukan mendekat dan bermanja-manja di pangkuan sang ayah, namun justru tetap asyik bermain dengan teman-temannya.

2.  Munculnya Pihak Ketiga (The Other Man/Woman)

Dengan keterpisahan jarak dan tempat, salah satu problema yang dapat terjadi adalah adanya hubungan khusus dengan pihak ketiga (the other man/woman) dalam kehidupan suami/istri. Berawal dari curahan hati kepada lawan jenis dengan cara tatap muka maupun jejaring sosial, jika hubungan tersebut tidak segera disadari dan dikurangi,  maka bencana dalam rumah tangga siap menanti.

Menghadapi situasi dan kondisi seperti itu, perlu penyikapan yang tepat agar masing-masing pihak, baik suami maupun istri tetap dapat membina bahtera rumah tangga dan menghadapi berbagai problema.

Ada beberapa sikap yang diperlukan untuk meraih hal tersebut, yaitu ;

1.  Komitmen suami dan istri yang kuat.

Komitmen yang kuat tersebut dapat terbentuk jika dilandasi satu tujuan yang jelas, seperti  mereka berpisah tempat untuk sementara demi masa depan dan pendidikan anak-anak.

2.  Saling mempercayai satu sama lain.

Tidak cepat berburuk sangka ketika suami atau istri tidak melakukan kontak melalui telepon maupun internet pada waktu tertentu. Berbagai informasi yang diterima dari pihak lain menyangkut  kondisi suami atau istri  harus dilakukan cek silang. Rasa saling percaya akan muncul jika kita memiliki keyakinan diri bahwa suami atau istri akan berbuat yang terbaik demi keluarga.

3.  Saling memahami kondisi masing-masing.

Pada saat seseorang memutuskan menikah dan menjadi suami atau istri, berarti sebelumnya dia telah mengetahui dan menerima kondisi dan latar belakang pasangannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

4.  Proses komunikasi yang terjalin dengan baik.

Dengan semakin lancarnya jaringan telekomunikasi, frekuensi komunikasi sebaiknya dilakukan secara rutin agar masing-masing pihak mengetahui perkembangan dan permasalahan yang terjadi.

5.  Berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Upaya – upaya yang telah dilakukan akan terasa lengkap bila disertai dengan doa atau permohonan tiada henti kepada Tuhan. Kita  harus sadar bahwa tidak ada kekuatan yang dapat melindungi keluarga kita, menyelamatkan suami, istri dan anak-anak kita  selain yang berasal dari Yang Maha Kuasa. Doa dan permohonan kepada Tuhan juga akan menentramkan batin dan jiwa kita, sehingga akan mengurangi perasaan was-was dan khawatir tentang orang-orang yang kita sayangi .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s