Kekhawatiran Dibalik Tontonan di Televisi

Media televisi memiliki kelebihan dibandingkan media lainnya, karena audiens bisa langsung menyimak berita sekaligus melihat peristiwa yang terjadi di suatu tempat, bahkan secara langsung.

Selain olahraga, acara yang sering ditayangkan  langsung di layar kaca adalah talk show, debat, reality show, liputan bencana, ataupun kecelakaan transportasi.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penayangan acara tersebut, karena tugas media adalah menyampaikan informasi terbaru dalam bentuk berita dan gambar secara langsung kepada para pemirsanya.

Namun bila tayangan tersebut diekspos secara berlebihan, seperti acara live show pernikahan sepasang penyanyi yang menghabiskan waktu selama kurang lebih 3 jam, rasa kejenuhan tidak dapat dihindari.

Saya sendiri nggak betah kalau harus berjam-jam mengikuti tayangan seperti itu dari awal sampai akhir. Terus kalau memang perlu menonton sampai selesai, apa manfaatnya? Bagi saya  pengetahuan tentang penyanyi A yang menikah kembali dengan penyanyi B sudah cukup.

Demikian juga dengan acara debat yang ditayangkan langsung secara rutin di salah satu stasiun televisi. Awalnya saya tertarik mengikuti acara tersebut karena temanya selalu mengangkat kejadian atau permasalahan terbaru.

Namun belakangan ini, acara tersebut saya tinggalkan karena malah melenceng menjadi debat kusir. Acara debat yang mempertontonkan egoisme masing-masing pihak, karena mengaku dirinya paling benar dan bukannya mencari solusi kongkret atas permasalahan yang ada.

Selain acara debat yang tidak terarah, tayangan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum masyarakat atau aparat, tawuran pelajar, bentrok warga dengan aparat juga sering menghiasi layar televisi.  Tayangan – tayangan tersebut secara tidak langsung memunculkan rasa pesimisme dan kekhawatiran, sepertinya yang terjadi di negara kita sudah sedemikian parahnya.

Pikiran dan emosi kita terpengaruh, sehingga tidak heran kalau nilai-nilai kekerasan justru diperkenalkan dan secara perlahan ditanamkan pada diri dan keluarga kita melalui media televisi.

Tidak semua acara televisi berpengaruh negatif, karena ada juga yang bermanfaat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi kita untuk berbuat yang bermanfaat.

Semuanya kembali pada diri kita, kendalinya ada di tangan kita. Kita punya kemampuan untuk memilih tontonan yang bermanfaat atau larut dalam tayangan yang merusak jiwa kita.

Akhirnya, daripada waktu dihabiskan untuk menonton acara seperti itu, lebih baik digunakan buat postingan atau kegiatan lain yang bermanfaat.

Sumber gambar : http://www.hukum.kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s