Sin, Cos dan Tg

Bagi yang pernah duduk di bangku SMP, SMA atau sederajat, pasti pernah belajar yang namanya ilmu Trigonometri.  Ini adalah bagian dari pelajaran matematika yang banyak membahas pengukuran sudut segitiga. Dari sinilah kita kenal dan belajar apa itu Sinus (Sin), Cosinus (Cos) dan Tangen (Tg), termasuk cara menghitungnya.

Mungkin tidak banyak yang mengira kalau ilmu Trigonometri yang saya pelajari sewaktu SMP, sekitar 28 tahun yang lalu, hari ini (7/6) harus saya pergunakan lagi sebagai senjata untuk menjawab soal – soal yang diberikan pada saat mengikuti Penilaian Kinerja.

Seperti halnya murid-murid SMP atau SMA yang menghadapi ujian nasional (UN) dan salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, saya dan teman-teman kerja pun sesuai dengan kualifikasi pekerjaannya, setahun sekali dites oleh lembaga pemerintah. Tes yang lebih dikenal dengan istilah Penilaian Kinerja.

Soal-soal tes Penilaian Kinerja ini macam-macam, tergantung jenis pekerjaannya. Kalau karyawan pekerjaannya menghitung isi pohon yang masih berdiri, dia dites bagaimana menghitung tingginya. Kalau dia tugasnya menghitung isi kayu bulat, dia harus tahu apa rumusnya kalau kayu itu growong atau berlubang di tengahnya.

Nah, kalau soal-soal tes untuk saya, nggak jauh-jauh dengan ilmu trigonometri tadi. Misalkan kalau suatu tempat punya sudut kelerengan (α) = 40°, jarak datarnya = 20 meter, terus bagaimana cara menghitung jarak miringnya. Di sinilah rumus Cosinus tadi dipakai untuk menghitung.

Cos (α)             = jarak datar / jarak miring, jadi
Jarak miring = jarak datar / Cos (α)
= 20 / Cos 40°

Berapa jarak miringnya ? Coba anda hitung sendiri, nggak susah kan. Kalau ingin lebih cepat, silakan pakai kalkulator scientific. Sebagai pedoman adalah, jarak miring pasti angkanya lebih besar daripada jarak datar.

Dalam ilmu Trigonometri, semakin besar sudut kelerengan, berarti tempat tersebut semakin curam. Contohnya, tebing gunung Salak yang ditabrak pesawat Sukhoi SSJ 100 diberitakan memiliki kelerengan 85°. Kelerengan sebesar itu, artinya hampir tegak lurus.  Kelerengan disebut tegak lurus bila membentuk sudut 90°.

Nggak heran, kalau untuk menuruni atau mendaki tebing yang sangat curam itu, para sukarelawan dan anggota tim SAR untuk menemukan korban harus menggunakan tali agar tidak tergelincir. Sangat susah bagi orang biasa untuk melewati atau memanjat tebing itu tanpa bantuan alat. Kecuali kalau dia bisa merayap seperti cicak atau spiderman.

Referensi gambar :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s