Jangan Remehkan Pendapat Anak

Dua hari yang lalu (14/6), dalam perjalanan ke tempat keberangkatan bis, saya ngobrol dengan istri mengenai kerusakan komputer  di rumah. Sekarang  ini, komputer memang sudah menjadi kebutuhan. Artinya, kalau komputer rusak, bisa bingung seisi rumah. Bagaimana tidak, semua anggota keluarga menggunakannya. Satu desktop dipakai bergantian untuk 5 orang.

Sewaktu anak-anak berada di sekolah, komputer digunakan oleh istri untuk mencari informasi dari internet kalau ada sesuatu hal yang belum diketahui.

Siang hari, Nadia yang kelas dua SMP dan Aysha yang kelas 5 SD sering memakai Microsoft Office untuk mengerjakan pekerjaan rumah setelah pulang sekolah. Belum lagi kalau harus buka internet dan browsing mencari materi yang berkaitan dengan tugas sekolah. Ditambah lagi “tugas” tambahan, yaitu chatting dengan teman-temannya.

Kalau mbak-mbaknya sedang les, komputer biasa dipakai anak nomor tiga yang masih kelas satu SD, Andra, dan si bungsu Nabil yang masih TK untuk main game mulai siang sampai sore hari. Nah, waktu malam hari, komputer baru dimatikan karena mereka harus belajar. Itu pun kalau besoknya bukan hari libur. Kalau musim liburan seperti saat ini, makin panjang jam kerja komputer.

Anak-anak sekarang memang sangat akrab dengan yang namanya teknologi dunia maya dibandingkan orangtuanya, apalagi dengan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Bahkan saya pun baru tahu kalau pengguna Black Berry itu bisa tukar-menukar PIN dan chatting gratis, justru dari anak saya yang pertama. Dari mana mereka belajar, padahal saya dan istri tidak pernah mengajari? Jawabannya, belajar dari teman-temannya.

Tidak hanya itu, pada saat komputer rusak pun dan memilih untuk diperbaiki atau beli laptop baru, anak-anak tampaknya punya pendapat yang lebih mengena dan logis daripada pendapat saya dan istri.

Ceritanya, waktu istri membicarakan masalah komputer rusak tersebut dengan dua anak pertama, si sulung sempat bilang, “Ma, lebih baik komputernya diperbaiki saja, harddisk-nya diganti daripada beli laptop baru. Sayang kalau beli baru, apalagi desktop yang rusak prosesornya pernah diganti dan memori RAM-nya sudah ditambah. Kalau beli baru terus CPU, monitor dan keyboard-nya yang lama untuk apa, akhirnya jadi mubasir? Sayang uangnya ”.

Memang sempat terlintas dalam pemikiran saya dan istri untuk membeli laptop baru untuk menggantikan desktop. Tidak hanya sudah cari informasi spesifikasi yang diinginkan, bahkan cara pembeliannya apakah secara tunai atau kredit pun sudah kami diskusikan. Jadi kesimpulannya waktu itu, saya dan istri sudah memutuskan untuk beli baru daripada keluar biaya untuk perbaikan.

Hitung-hitungannya, kalau ganti harddisk perlu biaya sekitar 700 ribu rupiah, tapi kalau beli laptop baru dengan spesifikasi yang diinginkan perlu dana tunai 2,7 juta rupiah. Kalau mau beli kredit, angsurannya 300 ribu per bulan selama 12 bulan.

Memang dengan membeli, akan dapat barang baru, namun uang yang disediakan sekitar empat kali lipat. Ditambah lagi, dana yang sudah terpakai untuk ganti prosesor dan penambahan RAM akhirnya juga percuma, karena desktop tidak bisa digunakan lagi. Jadi kalau beli barang baru, total dana yang dibelanjakan akan lebih besar daripada kalau hanya mengganti harddisk.

Pendapat si sulung tadi yang diamini oleh adiknya, akhirnya membuat kami menganulir keputusan untuk membeli laptop baru. Saya benar-benar tidak menyangka, selain anak-anak itu lebih menguasai seluk beluk gadget dan dunia maya, mereka juga memiliki pendapat dan analisis yang tajam dalam melihat suatu permasalahan.

Jadi saat ini, sudah bukan jamannya lagi menganggap kalau yang namanya orang tua selalu lebih tahu daripada anak-anak. Bukan saatnya lagi, kalau orangtua berpikir bahwa pendapatnya mesti lebih baik daripada pendapat anak-anak.

Iklan

2 pemikiran pada “Jangan Remehkan Pendapat Anak

  1. Anak memang tak selalu harus mencontoh orang dewasa, dalam beberapa hal terkadang anak menjadi guru bagi kita sebagai orang tua.

    Saya jadi ingat isi buku 30 Hari Jadi Murid Anakku, Ibu Mel dalam buku tersebut mencatat banyak ilmu yang ia peroleh dari anaknya.

    1. Betul, Kang. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari anak-anak kita.
      Sudah selayaknya orang tua pada saat tertentu memposisikan dirinya sebagai teman dan sahabat anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s