Ketika Waktu itu Belum Ada E-mail

Bagi pembaca atau generasi yang saat ini telah berusia di atas 40 tahun, barangkali tidak pernah membayangkan, jika pada suatu saat, untuk berkirim surat dinas maupun surat pribadi untuk keluarga, teman atau bahkan kekasih hanya memerlukan hitungan detik untuk sampai ke tempat tujuan. Bahkan, walaupun si penerima surat tersebut dipisahkan oleh samudera dan berada di manca negara.

Demikian juga sebaliknya, bagi generasi yang saat ini berumur belasan tahun, bisa jadi sulit untuk percaya bahwa sekitar 15 tahun yang lalu, ada suatu masa ketika untuk berkirim surat memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai ke alamat tujuan. Belum lagi jika si pembuat dan pengirim surat menunggu balasannya dari si penerima, hitungan waktu menunggu bahkan bisa sampai berminggu-minggu.

Saat ini jaman telah berganti, kemajuan teknologi internet yang memungkinkan pengiriman surat secara elektronik atau electronic mail (e-mail) telah mengubah dan mempersingkat proses surat-menyurat, mulai dari pembuatan surat, editing hingga ke proses pengirimannya.

Dengan menggunakan bantuan komputer dan fasilitas internet, selanjutnya mengetikkan alamat e-mail yang hendak dituju, alamat pengirim, membuat isi surat dan diakhiri klik tombol kirim, pada saat itu juga si penerima langsung menerima surat tersebut.

Beda sekali dengan kondisi yang pernah saya dan juga beberapa pembaca alami, ketika masa itu belum ada internet dan e-mail. Seperti pengalaman saya sekitar tahun 1997, ketika menulis surat di tempat kerja untuk istri tercinta di Yogyakarta, seperti yang bisa dilihat di foto di atas.

Proses surat menyurat dimulai dengan menulis surat menggunakan pulpen atau bolpoint di atas selembar kertas surat. Tulisan tangan dalam kertas tersebut sebisa mungkin jangan sampai banyak salah tulis, karena kalau salah pasti dicoret atau dihapus pakai tipp-ex. Kalau tidak ingin banyak coretan atau bekas tipp-ex, agar suratnya kelihatan rapi dan bersih, konsekuensinya adalah surat yang salah tersebut langsung dirobek dan tulis surat baru. Terbayangkan, betapa tidak mudahnya menuangkan ide dalam bentuk tulisan sekali jadi.

Namun bagi yang sudah terbiasa berkorespondensi atau punya hobi surat menyurat dengan sahabat pena, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Istilah sahabat pena itu kalau sekarang mungkin seperti teman chatting dalam Facebook, Yahoo Messenger, Blackberry Messenger, Googlle Talk.

Itu baru proses pembuatannya, bagaimana pengirimannya? Selesai surat dibuat, selanjutnya dimasukkan ke dalam amplop dan di bagian depannya, biasanya di sebelah kanan atas ditempeli dengan perangko sebagai pengganti ongkos kirim. Waktu itu harga sebuah perangko kilat 750 rupiah, sedangkan perangko biasa 350 rupiah.

Perangko kilat itu maksudnya proses pengirimannya lebih cepat dibandingkan perangko biasa. Oleh karena saya bertugas di pedalaman Kalimantan dan pengiriman surat ditujukan ke istri di Yogya, proses pengiriman memerlukan waktu sekitar seminggu, demikian juga sebaliknya. Jadi untuk menunggu surat balasan dari keluarga, harus bersabar menunggu waktu sekitar dua minggu.

Memang, saat ini dengan bantuan internet dan e-mail, proses surat-menyurat jauh lebih ringkas dan hanya memerlukan waktu dalam hitungan menit bahkan detik, sejak pembuatan surat, pengiriman hingga menerima balasannya.

Namun, ada satu momen yang tidak akan terlupakan pada masa itu, yaitu suatu saat ketika ada teman yang membawa setumpuk surat dan bilang ada kiriman surat dari Yogya. Mendengar berita seperti itu, rasanya hati ini benar-benar bahagia dan berbunga-bunga, padahal belum tahu siapa pengirimnya dan apa isi suratnya. Apalagi kalau surat itu berasal dari kiriman istri yang benar-benar saya tunggu.

Perasaan dan sensasi seperti itu yang tidak pernah lagi saya alami, semenjak proses surat-menyurat berlangsung lebih canggih  dengan bantuan internet dan fasilitas e-mail.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s