Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Sebagai karyawan yang sering ditugaskan mendampingi tamu, begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan saat berinteraksi dengan mereka.

Berbagai tamu, mulai mahasiswa praktek kerja, dosen, peneliti, karyawan perusahaan lain maupun pejabat, semuanya memberikan pelajaran yang mencerahkan.

Pelajaran nyata yang belum tentu saya peroleh dari bangku sekolah maupun kuliah. Pengalaman kehidupan yang belum pasti diajarkan dalam berbagai pelatihan, kursus maupun seminar yang sering diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja karyawan.

Hari Jumat (22/6) yang lalu, saya memetik beberapa pelajaran ketika menghadiri acara pelantikan Kepala Desa (Kades) oleh bapak Bupati di desa yang berada  di ujung utara wilayah Kabupaten.

Ada beberapa sikap bapak Bupati yang telah menjabat selama dua periode tersebut yang  benar-benar membuka wawasan  saya, yaitu :

1.  Hadir  Sebelum Acara Dimulai

Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah, meskipun acara dimulai pukul 08.00 WIB, beliau tiba di desa 45 menit sebelum acara dimulai. Ini yang bikin panitia terkejut sekaligus kelabakan. Bagaimana tidak, pimpinannya sudah hadir, sementara warga masyarakat justru masih banyak yang berada di rumah.

Akhirnya,  perangkat desa dan guru-guru yang pontang-panting memberitahukan kepada masyarakat agar segera menuju gedung sekolah dimana pelantikan tersebut akan dilaksanakan. Sementara itu, menunggu acara dimulai, pak Bupati dan pejabat dari kabupaten dengan sabar berbincang-bincang dengan Kades baru di rumahnya.

Selama ini, kalau kita menerima undangan menghadiri sebuah acara lengkap dengan informasi tanggal, hari dan jamnya, biasanya yang terjadi adalah jam acara sering dimundurkan karena berbagai sebab, padahal beberapa orang telah hadir. Terkadang molornya nggak tanggung-tanggung, bisa lebih dari 30 menit, bahkan sejam lebih.

Dalam urusan disiplin, pak Bupati telah menunjukkan kepada masyarakat betapa dirinya sangat menghargai waktu. Tindakannya datang sebelum acara dimulai adalah contoh yang konkret dan jauh lebih bermakna daripada sekadar ceramah atau seminar yang membahas tentang bagaimana menghargai waktu.

2. Klarifikasi Informasi

Sempat muncul pertanyaan dalam diri saya, “Kenapa untuk melantik seorang Kades saja harus dilakukan oleh Bupati ? Kenapa harus pak Bupati yang mendatangi lokasi desa dan bukan meminta Kades untuk datang ke Kecamatan atau Kabupaten untuk dilantik ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika pak Bupati memberikan sambutannya di hadapan warga masyarakat. Dia menjelaskan, “Saya sering menerima SMS dari beberapa orang tidak dikenal yang meminta supaya membatalkan Surat Keputusan (SK) Kades terpilih. Saya tidak bisa membatalkan SK tersebut hanya karena informasi dari SMS yang belum tentu kebenarannya. Saya harus konsekuen menandatangani SK dan melantik Kades yang telah dipilih oleh suara mayoritas masyarakat di sini”.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat termasuk saya benar-benar mendapatkan informasi  yang akurat yang berasal dari orang nomor satu di wilayah kabupaten tersebut. Penjelasan seperti ini akan mengurangi tingkat keresahan masyarakat akibat  informasi yang simpang siur mengenai kepastian status  Kades yang terpilih dengan suara terbanyak .

Suatu sikap yang perlu dicontoh, ketika pak Bupati langsung mendatangi dan memberikan penjelasan sekaligus klarifikasi kepada masyarakat tentang bagaimana sebenarnya kondisi yang sedang terjadi.

3. Tugas = Tanggungjawab

Sebenarnya, poin ketiga ini ditujukan khusus untuk Kades terpilih. Seorang Kades, ketika proses pemilihan pasti ada warga masyarakat yang tidak memilih dirinya dan memilih calon lainnya. Ada warga yang menyukai dirinya, namun ada juga sebagian yang membenci dirinya.

Dalam situasi ketika Kades tersebut telah memenangkan proses pemilihan dan menjabat sebagai pemimpin, maka dia harus melayani semua warga masyarakat, baik yang memilih dirinya maupun tidak.

Dan dalam kegiatan melayani ini, pesan lain pak Bupati adalah Kades tidak perlu heran bila di luar jam kerja, ada warga masyarakat yang mendadak minta bantuan ketika Kades sedang asyik menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. Kades tidak boleh menolak, bila malam-malam ada seorang warga yang minta bantuan karena istrinya mau melahirkan.

Satu hal lagi, dalam pengambilan keputusan, pasti ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, pasti  ada tarik menarik antara keinginan menegakkan aturan dan di sisi lain adalah rasa iba terhadap seseorang. Pak Bupati bercerita bagaimana dia dengan berat hati harus mengambil sikap tegas memecat anak buahnya (suami istri) yang sering bolos kerja tanpa alasan yang jelas, meskipun di dalam hati dia merasa kasihan dengan anak-anaknya.

4. Pemimpin dan Keluarganya = Obyek Pembicaraan dan Peliputan

Setelah bercerita tentang tugas dan tanggung jawab seorang Kades, tak lupa pak Bupati juga berpesan kepada istri Kades agar menjaga nama baik dirinya dan keluarganya di depan warga masyarakat.

Pak Bupati memberi contoh sederhana, bila ada anggota masyarakat yang mengecat rambutnya dengan warna pirang, itu dianggap hal yang biasa dan bukanlah sebuah berita. Tapi bila dilakukan oleh istri Kades, pasti akan jadi bahan pembicaraan hangat warga lainnya. Setiap gerak-gerik, tingkah laku para pemimpin dan keluarganya, tidak akan luput dari perhatian dan pengamatan warga masyarakatnya.

Keempat poin di atas, disampaikan dengan penuturan yang tidak menggurui, sehingga warga masyarakat termasuk saya tidak merasa sedang diceramahi. Masyarakat pun dengan seksama menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan, contoh-contoh nyata, harapan serta rasa optimisme, sehingga waktu satu jam pun terasa cepat berlalu.

Memang, sambutan dari pak Bupati tersebut ditujukan kepada Kades terpilih, namun saya sebagai warga masyarakat merasakan bahwa hal tersebut seperti menjadi cermin bagi semuanya.

Sungguh, suatu pengalaman sekaligus pelajaran berharga di dalam kehidupan dan sebuah teladan yang membangkitkan motivasi dalam diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s