Main Bola lagi

Bagi yang sudah terbiasa olahraga, seminggu nggak olahraga, rasanya ada yang kurang. Nggak terkecuali saya. Sore hari selesai jam kerja, acaranya kalau nggak baca koran, bersihkan kamar, pasti olahraga bulutangkis.

Cuma minggu ini, para pemain dipersilahkan istirahat dulu, atau cari alternatif kegiatan lain, karena lapangannya sedang diperbaiki.

Memang nggak bisa main bulutangkis sementara waktu, tapi olahraga harus tetap jalan, demi kesehatan. Akhirnya setelah pikir-pikir, olahraga jogging pun jadi. Sore kemarin (5/7), saya pun turun ke lapangan bola untuk lari-lari keliling lapangan. Lumayan juga dapat tiga putaran walaupun diselingi jalan kaki kalau nafas sudah terasa ngos-ngosan.

Rupanya bukan cuma saya yang jogging keliling lapangan, ternyata sudah ada teman-teman lain yang duluan. Tidak hanya itu, di lapangan hijau juga sudah ada pemain-pemain yang latihan menendang bola ke gawang, rupanya sore itu ada pertandingan Tingwe. Apa itu Tingwe? Kalau dicari dalam kamus bahasa Indonesia memang nggak bakal ada. Itu cuma istilah main bola di tempat saya kerja. Selesai jogging, pertandingan sudah dimulai. Rupanya pertandingan Tingwe sore itu antara tim keluarga vs bujangan.

Melihat mereka main bola, rasanya ingin juga main bola lagi seperti dulu. Nggak pakai lama, saya pun langsung masuk ke lapangan, ambil posisi pemain tengah, padahal nggak pakai sepatu bola. Sempat khawatir juga kalau terpeleset waktu main. Dari dulu memang saya suka posisi gelandang, posisi tukang umpan bola terutama ke penyerang.

Dulu waktu masih umur 30-an, memang masih kuat main bola, sampai-sampai pas hujan pun tetap aja lanjut, main dari sore sampai maghrib. Apalagi waktu dibentuk LIGA yang berisi tiga tim : A, B dan C. Permainan jadi lebih semangat. Sebelum LIGA dimulai, pemain masing-masing tim ditentukan, supaya jangan sampai ada satu tim semuanya pandai main bola, tapi tim lainnya baru belajar menendang bola. Nggak imbang dan nggak seru dong mainnya.

Mulai dari karyawan bulanan, harian sampai petugas keamanan semuanya nggak ketinggalan ikut main. Mulai dari posisi kiper, bek, gelandang sampai penyerang semuanya dipilih sesuai dengan kualitasnya. Satu tim isinya bisa sampai 20 orang.

Tidak cuma itu, jadwal pertandingan pun disusun dengan matang, wasit pun juga dipastikan, siapa yang memimpin. Tanggal berapa tim A lawan tim B dan wasitnya harus dari tim C, kapan tim B bertanding dengan tim C dengan wasit dari tim A. Ketiganya saling berkompetisi sesuai jadwal yang dibuat. Yang menyusun pemain dan jadwal siapa, ya mereka juga yang akan bermain bola.

Paginya waktu masuk kerja, hasil pertandingan langsung jadi topik pembicaraan dan dibahas di kantor. Kenapa tim A bisa kalah, padahal pemain tim B banyak pemain cadangan yang main? Harusnya pemain yang lelah diganti, kenapa masih dimainkan? Macam-macam komentar dan tanggapannya. Nggak kalah dengan pembahasan pertandingan piala Eropa.

Kalau diingat-ingat lagi ke masa itu, cuma satu hal yang saya nggak habis pikir dengan mereka. Kenapa untuk sebuah permainan bola, mereka bertanding begitu ngotot. Untuk keberhasilan sebuah tim, mereka bermain penuh semangat dan rela berhujan-hujan di lapangan.

Padahal, tidak ada iming-iming hadiah untuk tim juara. Tidak ada bonus untuk pencetak gol terbanyak. Mereka bermain tanpa bayaran, tapi tampil seolah-olah mereka adalah pemain profesional.

Semangat bertanding yang benar-benar mengagumkan dan saya acungi jempol. Salut deh……….Kapan kita bisa buat LIGA dan main seperti itu lagi ya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s