Tamu dari Luar Negeri

Berbagai tamu datang silih berganti ke lokasi kerja. Mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti dan mekanik alat berat sampai pejabat pemerintah. Dan pada bulan Ramadhan, ada tiga orang ustad yang juga datang untuk mengisi kegiatan di bulan suci ini.

Tamu-tamu yang datang itu berasal dari berbagai tempat. Mereka tidak hanya dari dalam negeri, bahkan ada juga dari manca negara. Khusus tamu dari manca negara, banyak cerita yang saya dapatkan ketika ngobrol dengan mereka. Pernah ada satu cewek yang datang dari Belanda. Dia masih SMA, tapi posturnya sudah seperti anak kuliah.

Dia datang bersama – sama dengan dosen dan mahasiswa antropologi dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa. Mereka datang ke lokasi kerja untuk melakukan kajian sosial masyarakat di tiga desa.

Sang dosen bercerita kalau cewek Belanda itu anak profesornya yang dulu membimbing dia ketika ambil S3 di Amsterdam, Belanda. Walaupun sudah menyelesaikan S3, sang dosen nampaknya masih punya hubungan yang baik dengan profesornya.

Dari obrolan tersebut, ada satu hal menarik yang menjadi catatan saya. Cewek itu bisa pergi dan jalan-jalan ke Indonesia karena dia punya tabungan hasil kerja part time. Rupanya dia sekolah sambil kerja. Dia bilang ke orangtuanya yang profesor itu kalau ingin ke Indonesia.

Sewaktu dosen S3 tadi ke Amsterdam, profesornya menitipkan anaknya agar bisa ikut ke Indonesia. Dia ingin melihat hutan hujan tropis yang nggak ada di negaranya. Itu adalah pengalaman pertamanya pergi ke Indonesia dan juga ke Kalimantan atau Borneo.

Memang saya pernah membaca, kerja part time bagi pelajar SMA atau mahasiswa adalah hal yang biasa di luar negeri. Bahkan pelajar dan mahasiswa asal Indonesia yang sedang studi di luar negeri juga melakukan seperti itu.

Sambil sekolah atau kuliah, mereka bekerja sebagai loper koran, pengasuh anak kecil, atau pelayan restoran. Bayarannya bukan per bulan, tapi per jam. Apa nggak lumayan untuk ukuran orang Indonesia. Minimal untuk tambahan biaya hidup selama tinggal dan studi di negeri orang.

Masih tamu dari benua Eropa. Pernah, ada satu mahasiswa S2 dari Kopenhagen Denmark yang datang untuk menguji coba peralatan penginderaan jauh (remote sensing). Waktu saya tanya bagaimana kesannya di lapangan dan melihat hutan tropis?

Dia bilang,” Di sini jenis tumbuhannnya bermacam-macam, ada puluhan bahkan ratusan jenis. Tidak seperti di negara saya”. Dia menjelaskan kalau di negaranya, jenis pohon atau tumbuhan berkayu di hutan cuma 1-2 jenis. Biasanya adalah pohon jenis konifer atau berdaun seperti jarum.

Pengalaman lain lagi saya peroleh ketika mendampingi para peneliti dari negeri matahari terbit. Ada salah satu profesor yang datang dengan mahasiswi yang sedang studi S2. Profesor ini meneliti sifat genetik daun pohon meranti yang berasal dari hutan alam dibandingkan dengan tanaman.

Saya melihat ada satu hal yang menonjol dan patut ditiru. Apakah itu ? Rasa hormat mahasiswi pada profesornya yang tinggi. Respek seorang murid pada gurunya begitu terlihat. Dia memanggil profesornya dengan sebutan sensei. Saya pun kadang-kadang keceplosan memanggil profesor tersebut dengan panggilan sensei.

Ketika waktu makan, presentasi maupun pengambilan data di lapangan, terlihat sekali mahasiswi tersebut begitu hormat dan taat pada apa yang dikatakan senseinya. Jarang sekali si mahasiswi tersebut mendebat pendapat atau instruksi dari profesornya. Benar-benar terhormat profesi pengajar, guru atau dosen di negeri sakura.

Satu hal lagi tentang para peneliti yang datang dari negeri matahari terbit. Selain rasa hormat yang tinggi pada gurunya, mereka mendapatkan gelar PhD atau Doktor (Dr) dalam usia yang relatif muda, sekitar 30 tahun.

Ada satu cewek, ahli identifikasi jenis burung, umurnya 34 tahun dan telah bergelar Doktor. Dia pasang jaring di tempat – tempat tertentu untuk mengetahui jenis burung yang ada. Dari hasil pengamatan di lapangan yang dipresentasikan, saya baru tahu burung yang memakan serangga, bentuk paruhnya berbeda dengan burung yang mengisap nectar. Burung yang habitatnya di hutan yang masih perawan atau belum pernah ditebang, beda dengan jenis burung yang habitatnya di hutan yang pernah ditebang.

Selama mendampingi tamu-tamu tersebut, ada satu pelajaran yang bisa saya petik. Ternyata, untuk mendapatkan tambahan informasi dan pengetahuan baru, tidak hanya diperoleh dari kursus atau pelatihan.

Belajar hal-hal baru tidak selalu harus di dalam kelas atau di ruangan. Dari ngobrol dan diskusi dengan mereka, saya bisa belajar banyak. Mereka datang ke negara kita untuk belajar dan meneliti tentang keanekaragaman flora dan fauna di hutan tropis.

Tidak hanya itu, mereka juga dapat menjadi sumber – sumber pengetahuan dan informasi terbaru yang perlu untuk saya ketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s