Kepergian Seorang Sahabat

“I will resign”, ujar seorang sahabat. Berita itu begitu mendadak dan mengagetkan saya. Memang, sebelumnya saya sudah mendengar informasi dia akan berhenti dari pekerjaan. Tetapi berita itu saya anggap kabar burung dan tidak secepat ini waktunya. Setelah mendengar langsung darinya, baru saya percaya.

Sepuluh tahun lebih, kami mengenal satu sama lain.  Seorang sahabat yang sering berdiskusi tentang suatu persoalan. Seorang sahabat yang spontan mengoreksi saya bila ada kesalahan. Seorang sahabat yang sering melontarkan gagasan cemerlang. Seorang sahabat yang  sering sejalan dalam mengatasi permasalahan. Seorang sahabat yang punya karakter mirip tokoh Bima dalam dunia pewayangan. Atau Umar bin Khotob, sahabat Nabi Muhammad SAW. Lugas, temperamen, blak – blakan dan tanpa tedeng aling-aling, tapi logis.  Karakter yang tidak setiap orang siap dan bisa menerima.

Ketika berkunjung ke desa dua hari lalu dan sebelumnya singgah di tempat kerjanya, saya ditanya, ”Boleh nggak  Pak saya ikut ke desa. Saya mau pamit dengan masyarakat”. Spontan saya jawab,”Boleh, kita sekarang berangkat sama-sama”.

Dalam perjalanan, bila bertemu  masyarakat di pondok ladang, dia juga mendatangi mereka untuk berpamitan. Setelah menempuh sekitar 1,5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di rumah bapak tokoh masyarakat yang sekaligus sesepuh di desa tersebut.

Setelah tiba di rumahnya, kami diterima oleh menantu perempuan dan cucu – cucunya. “Bapak sedang di belakang, memberi makan ayam dan babi”, tambahnya. Tak lama kemudian, sang bapak  masuk rumah dan berbincang dengan kami.

Satu – persatu warga lainnya juga datang memasuki rumah bapak mantan kades tersebut. Suasana desa yang masyarakatnya penuh rasa kekeluargaan.

Setelah saya selesai berbicara  tujuan kunjungan ke desa, giliran sahabat yang menyampaikan maksudnya. Tuan rumah begitu seksama mendengarkan penjelasannya. Pada saat sahabat tadi berkata dia mau berhenti dari pekerjaan dan berpamitan, suasana tiba-tiba menjadi hening.

Di rumah yang sederhana tersebut, mata kami semua berkaca-kaca. Suara kami tercekat. Tampak butiran air mata meleleh dari wajah sahabat dan bapak. Pemandangan yang begitu mengharukan bagi saya dan warga lainnya. Apalagi ketika keduanya berjabat tangan dan berpelukan, linangan air mata pun tak terbendung lagi.

 ”Selama ini hubungan saya dengan bapak sudah seperti keluarga. Saya datang ke sini baik-baik, saya pulang juga baik-baik. Saya juga berterima kasih atas bantuan dan nasehat Bapak. Saya tidak sempat berpamitan dengan warga desa lainnya.  Hanya satu desa yang bisa saya datangi”, ujar sahabat tadi.

Hari ini (28/7), dia mencari saya di kantor untuk berpamitan. Tidak hanya dengan saya, termasuk juga dengan teman-teman lainnya. Ketika bertemu saya, dia berkata, “Meskipun kita berpisah, kita masih bisa bersilaturahmi. Masih bisa bertemu lagi. Apalagi kita tinggal di satu kota”.  Saya pun menjawab. “Insya Allah. Mudah-mudahan waktu lebaran nanti kita bisa bertemu” .  Dia pun menjabat tangan erat – erat dan memeluk diri saya.

Selamat jalan. Saya percaya, ini adalah cara Allah untuk memberikan yang terbaik bagi sahabat.

Insya Allah, sahabat akan mendapatkan hikmah dan tempat kerja baru yang lebih baik lagi.

Sampaikan salam saya untuk keluarga yang tengah menanti di rumah.

2 pemikiran pada “Kepergian Seorang Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s