Dilema Warga di Daerah Perbatasan

Obrolan dengan seorang wakil rakyat dua hari yang lalu membuka wawasan berpikir saya. Permasalahan di wilayah perbatasan, ternyata tidak hanya terjadi dalam dalam level nasional atau negara, tapi juga daerah.

Akses transportasi darat yang minim ke pusat pemerintahan menjadi penyebab utama warga lebih banyak berinteraksi dengan daerah tetangga. Dua wilayah yang dibatasi oleh batas administrasi yang bernama kabupaten, propinsi atau bahkan negara tidak cukup efektif untuk mencegah warga berinteraksi dengan warga lainnya di wilayah tetangganya.

Warga yang tinggal di daerah perbatasan hanya berpikir sederhana. Mereka akan memilih wilayah yang lebih mudah dijangkau, membeli barang dengan harga lebih murah, membayar ongkos perjalanan lebih rendah dan waktu tempuh lebih pendek. Sebuah pilihan dan keputusan yang sangat logis.

Menjual hasil kebun, belanja kebutuhan pokok, membeli sepeda motor, sampai urusan menyekolahkan anak-anaknya, wilayah tetangga menjadi tujuan utama mereka.

Memang serba dilematis. Di satu sisi warga berdomisili di wilayah Kalteng, tetapi mereka menjual getah karet dan ayam potong di Kalbar. Sehari-hari warga tinggal di wilayah Kalteng, tetapi mereka berbelanja kebutuhan pokok, membeli barang-elektronik dan membuka rekening tabungan di wilayah Kalbar. Lahir dan tinggal di wilayah Kalteng, tetapi setelah lulus SD, mereka harus berpindah ke Kalbar melanjutkan ke tingkat SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Waktu tempuh yang hanya sekitar 4 jam dari desa ke ibukota kabupaten di Kalbar, lebih efisien daripada menempuh perjalanan sehari untuk sampai di ibukota kabupaten di Kalteng. Apalagi, mereka juga mendapat bantuan pelayanan kendaraan dari salah satu perusahaan perkayuan di sekitar tempat tinggal mereka.

Kendaraan truck yang akan mengantar warga dari desa ke terminal kendaraan umum dan sebaliknya. Lumayan, bisa menghemat biaya separuh perjalanan. Warga tinggal melanjutkan perjalanan 1,5 jam ke ibukota kabupaten di Kalbar.

Hal yang sama juga terjadi dalam skala nasional, di wilayah perbatasan RI-Malaysia. Akses jalan yang sangat bagus di negeri jiran, menjadi magnet untuk warga di wilayah RI sering bepergian ke negeri jiran.

Tidak heran, kalau warga perbatasan banyak yang menjual hasil kebunnya dan berbelanja ke Malaysia. Mereka pun lebih sering menggunakan ringgit daripada rupiah dalam bertransaksi dagang. Bahkan diberitakan di salah satu media elektronik, karena jarak tempuh yang dekat, anak-anak pun memilih  bersekolah di  negeri jiran.

Oleh karenanya, jangan katakan bahwa warga tersebut tidak nasionalis. Jangan salahkan mereka kalau lebih mengenal lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, daripada Indonesia Raya.

Iklan

14 pemikiran pada “Dilema Warga di Daerah Perbatasan

  1. Pemerinta sampai saat ini memang mash terkesan pilih kasih. baik yang diperbatasan maupun yang di indonesia timur. sejauh ini menurut saya pemerintahan masih saja berpusat di jawa. begitu pula akses penunjangnya.

  2. farhah faridah

    Hm….iya ya…..gpp sih lebih kenal lagu kebangsaan negara lain and sekolah di sana, asal negara kita jangan dicaplok aja.

    1. Cerita sekolah di luar negeri, ada anekdot:
      Kalau orangtua di kota besar, biasanya anaknya dikirim ke luar negeri setelah anaknya tamat SMA. Tetapi warga yang tinggal di perbatasan, anaknya baru SD sudah disekolahkan ke luar negeri…. hahahaha

  3. puji suswanto

    Maaf pak, slam kenal 🙂 sya termasuk yg senang mengunjungi blok Bpk, bnyak cerita menariknya.
    Oiya, itu yang sering terjadi interaksi seperti itu, perbatasan kalteng-kalbarnya di daerah mana Pak, apakah kab. Katingan (kec. Bukit raya) – kab. Sintang ? Atau yg lainnya ?

    1. Salam kenal kembali. Yang sering terjadi interaksi warga Kalbar-Kalteng di daerah Tanjung Paku, Kab Seruyan, Tumbang Kaburai dan Tumbang Kajamei Kab. Katingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s