Sinyal HSDPA di Tengah Rimba

Saat ini, saya tak perlu lagi menempuh perjalanan sampai puluhan kilometer untuk sekadar mendapatkan sinyal GPRS. Tak perlu lagi di malam hari, beramai-ramai sampai belasan orang menumpang kendaraan, sekadar kirim kabar pada keluarga atau orang-orang tercinta lewat telepon.

Sebelum tahun 2010, ketika belum ada jaringan telekomunikasi seluler di tempat kerja, kalau ingin sekadar menelepon, benar-benar perlu perjuangan untuk mendapatkan sinyal telepon seluler (HP).

Perjuangan biasanya dimulai ketika selesai makan malam. Orang-orang yang mau cari sinyal, istilah kami para pemburu sinyal, langsung siap-siap dan menunggu di gazebo. Selain HP, pulsa secukupnya, headset dan batere charger juga tidak lupa dibawa.

Perjalanan pun dimulai sekitar jam 7 malam, menggunakan kendaraan yang bisa memuat 12 orang. Personil yang datang terlambat jangan harap bisa ikut, pasti ditinggal dan tunggu giliran esok hari. Ya Robbana, mau menelepon saja harus pakai masa tunggu sehari. Ada juga yang datang terlambat dan belum makan malam, tapi dia nekat berangkat karena kendaraan masih bisa muat penumpang.

Sampai di lokasi sekitar jam 8, kemudian paling lambat jam 11 harus sudah pulang ke base camp. Ini berlaku untuk hari-hari kerja. Lumayan, ada waktu tiga jam untuk menelepon atau berselancar di dunia maya.

Bagi yang tinggal di kota, mungkin agak mengherankan, masa untuk menelepon sampai berjam-jam? Bagaimana tidak? Bagi rekan – rekan yang tinggal di kota, kegiatan menelepon, menerima panggilan masuk atau buka internet bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Di rumah, di sekolah, di kantor, atau di jalan. 24 jam sehari sinyal tersedia, bahkan dari beberapa operator seluler.

Tetapi bagi yang tinggal dan bekerja di tengah rimba belantara, kegiatan berburu sinyal dan menelepon adalah kesempatan langka yang harus digunakan sebaik-baiknya. Apalagi hanya terdapat satu operator seluler.

Pada saat berburu sinyal, sebenarnya ada beberapa lokasi yang bisa menerima sinyal HP, tidak hanya di satu titik. Ada di km 0, km 10, km 14 dan km 22, meskipun hanya ada satu menara BTS (Base Transmission Station) yang berada di ibukota kecamatan. Waktu tempuhnya sekitar 15 menit naik motor dari km 0. Kami sendiri sehari-hari berada di km 35. Kalau pas lagi sial,  sudah disempatkan pergi, tiba di lokasi, ternyata nggak ada sinyal.

Lokasi yang paling banyak peminatnya memang di km 0, karena di tempat itu tersedia warung yang menyediakan makanan, minuman dan voucher pulsa. Selesai menelepon, bisa ngopi, ngeteh atau ngemi dulu. Lokasinya pun luas dan para pemburu sinyal bisa leluasa memilih. Apakah mau di warung, di kantor, di masjid atau di bawah pohon karet (asal tahan kena angin malam saja).

Kalau besoknya hari libur, beberapa orang pemburu sinyal tidak ikut pulang ke base camp, tetapi menginap dan pulang esok harinya. Tidurnya dimana? Di tempat kawannya atau di masjid.

Kalau ingat kejadian waktu itu, saya sering tersenyum geli. Namun sejak tahun 2010, kegiatan berburu sinyal mulai hilang, setelah salah satu operator seluler yaitu Telkomsel mendirikan minitower. Pemasangan  jaringan telekomunikasi seluler di base camp benar-benar memberikan kemudahan bagi saya, rekan-rekan kerja dan keluarganya untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak tanggung-tanggung, jaringan yang didirikan bukan hanya berkualitas 2G, tetapi 3G atau HSDPA.

Saya baru tahu, rupanya menara yang didirikan dan cara pemasangannya berbeda dengan menara yang biasa didirikan di kota-kota. Istilahnya minitower combat. Menara yang dipasang di base camp tersebut dibawa menggunakan truk khusus dari Jakarta. Melihat bentuk  truknya, memang kendaraan tersebut khusus dibuat  menggendong peralatan jaringan telekomunikasi seluler, seperti yang terlihat pada gambar.

Ada tiga perlengkapan utama pemasangan menara yang berada pada truk : menara, sumber energi atau batere dan kaki penumpu. Bentuk menaranya bukan disambung, tetapi seperti antene radio yang terdiri dari beberapa ruas dan bisa ditarik keluar sehingga utuh.

Ukuran menara ini lebih pendek daripada menara yang biasa dipasang di kota-kota. Selain itu,  pemasangannya juga berada di tempat yang agak tinggi, agar bisa menerima sinyal  menara induk  di kecamatan.

Tinggi lokasi untuk pemasangan menara sekitar 340 m di atas permukaan laut. Petugas dari Telkomsel sebelumnya telah melakukan survey di beberapa tempat menggunakan GPS, untuk menentukan lokasi yang tepat (tidak terhalang bukit, pepohonan atau bangunan). Radius sinyal HSDPA yang diterima memang agak pendek, sekitar 5 km.

Bukan berarti setelah menara didirikan, tidak ada masalah. Kalau batere terlambat diisi,  sinyal  tiba-tiba hilang dan tidak ada layanan. Padahal lagi asyik-asyiknya menelepon, chatting, ngeblog atau upload data. Tetapi untuk ukuran kami yang berada di daerah pedalaman, fasilitas sinyal HSDPA atau 3G tersebut lebih dari cukup dan lumayan bagus. Minimal daripada tidak ada sinyal sama sekali.

Banyak tamu yang datang tidak menyangka, ternyata di tengah rimba ada jaringan HSDPA. Sekali waktu, pernah saya bicara dengan seorang teman dari Jakarta lewat telepon. Dia bertanya,” Ini posisi dimana? Di Pontianak atau di camp? Suaranya kok jelas sekali ”.  Awalnya dia nggak percaya, kalau waktu itu posisi saya berada di base camp, di tengah rimba. Setelah saya jelaskan, baru dia percaya.

7 pemikiran pada “Sinyal HSDPA di Tengah Rimba

  1. Waah…. itu pake pengajuan atau pihak telkomselnya yang sengaja bahagiain konsumen? tempat ane untuk HSDPA masih belom lahir… ga tau deh kapan bisa nikmati jaringan HSDPA sambil selonjor dirumah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s