Pelajaran Dari Seorang Tukang Ojek

Di tengah persaingan mendapatkan penumpang, tukang ojek punya strategi khusus untuk menarik penumpang. Hal tersebut saya alami ketika tiba di kantor bis DAMRI selasa malam (7/8) sekitar jam 18.15. Begitu penumpang satu per satu turun, para penjual jasa transportasi tersebut langsung berkerumun menyambut di pintu depan bis.

Tanpa henti, mereka saling bersahutan menawarkan jasa ojek kepada para penumpang. “Taksi Pak. Mau ke mana Pak, Bandara?”, tanya mereka pada para penumpang, tak terkecuali saya. ”Saya dijemput keluarga”, jawab saya sambil mengambil tas di bagasi.

Sambil menenteng travelling bag, saya langsung ke kantor Damri ambil tiket ke Nanga Pinoh yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Tiket untuk tanggal 10 Agustus malam, harganya 120 ribu rupiah. Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan ke surau di belakang kantor Damri. Sholat maghrib dulu, karena istri mengabarkan akan jemput Aysha dulu di tempat les, setelah itu baru ke Damri.

Selesai sholat, saya kembali ke depan kantor Damri. Di tempat tunggu itu suasananya ramai sekali. Ada dua bis yang parkir dan banyak penumpang tujuan Sintang dan Nanga Pinoh. Ditambah lagi para pengantar dan kendaraannya.  Saya cari tempat lainnya yang agak kosong. Akhirnya ada juga, berjarak dua bangunan dari kantor Damri, di depan toko kue yang spesialis menjual  lapis legit.

Sekitar 5 menit menunggu keluarga, tiba – tiba ada ada satu tukang ojek yang mendekati saya dan menawarkan lagi mengantar saya ke rumah. Rupanya tukang ojek tadi yang belum dapat penumpang. Kalaupun dia menawarkan lagi, saya tetap menolak dan menjelaskan kalau sedang menunggu jemputan.

Dugaan saya nggak meleset. Kesekian kalinya dia menawarkan untuk mengantar ke rumah. Mendapatkan penolakan yang sama, dia tidak kehabisan akal. Dia ajak ngobrol saya. Dia tanya saya tinggal dimana, sambil menasehati supaya hati – hati kalau turun dari bis, karena banyak jambret. Apalagi sekarang ini dekat-dekat lebaran dan banyak pengangguran. Terus dia sebut nama satu tempat dan menceritakan anaknya yang pernah kehilangan anting-anting gara-gara kena jambret.

Tidak hanya itu, untuk mengakrabkan suasana dia juga coba-coba nebak tempat asal saya. “Bapak dari Jawa ya?” Dari wajah kelihatan kalau bapak orang Jawa. ”Dari Semarang”, jawab saya singkat. Dia tanya lagi,” Jawa mana itu pak?”, sambungnya. “Jawa Tengah”, kata saya agak cuek.

Setelah puas bertanya, akhirnya dia pesan, ”Kalau bapak perlu ojek, bisa hubungi saya. Ini saya kasih nomor HP saya”, sambung si tukang ojek yang ternyata bernama Soni. Saya masukkan nomor HP-nya dan saya tanyakan siapa namanya. Saya coba misscalled nomor dia dan HP-nya berdering, tanda ada panggilan masuk.

Benar-benar gigih tukang ojek tersebut. Nggak pakai gengsi dan kelihatan pede sekali. Dia tetap ulet dan tahan banting menarik simpati calon penumpang, walaupun berkali-kali saya tolak. Segala jurus untuk menjaring pelanggan dia keluarkan. Nggak kalah dengan para sales atau agen asuransi yang gencar merayu konsumen untuk membeli produknya. Walaupun akhirnya konsumen tidak membeli jasanya, dia tetap berusaha dan tidak patah semangat.

Padahal Soni, si tukang ojek itu belum tentu pernah ikut kursus ilmu pemasaran yang efektif, belajar bagaimana agar konsumen tetap loyal, atau tips memenangkan persaingan agar dapat merebut pelanggan.

Ada dua pelajaran yang saya petik dari kejadian itu.

1. Ikhlas.
Saya tersadar, walaupun si Soni telah berkali-kali menawarkan jasa ojeknya dan saya tolak, dia tidak terlihat kecewa, sedih atau marah. Makin saya tolak, justru dia makin berusaha untuk mendekati saya. Dari sinilah saya memperoleh pelajaran tentang apa itu ikhlas.

Tidak peduli dengan penolakan saya, dia tetap berusaha menawarkan jasanya dengan berbagai cara. Ini menjadi pelajaran, sekaligus motivasi dan pencerahan bagi diri saya. Di bulan Ramadhan ini, Allah mengirimkan seorang tukang ojek untuk memberi pelajaran pada saya, tentang apa itu sebenarnya keikhlasan.

Kalau dikaitkan dengan kejadian yang pernah saya alami sebelumnya, memang ada benarnya pelajaran tentang keihklasan itu. Terkadang, saya merasa kecewa, ketika apa yang saya kerjakan tidak dihargai oleh orang lain. Atau saya merasa kehilangan semangat, ketika apa yang saya lakukan tidak dianggap berarti oleh pihak lain.

2. Perhatian
Dengan menawarkan jasanya, mengajak ngobrol calon penumpangnya dan memberikan nomor HP dan namanya, adalah satu bentuk perhatian. Ya, perhatian. Sebuah kata yang nampaknya sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Dalam bisnis pelayanan atau jasa, perhatian memegang peran penting untuk merebut konsumen atau pelanggan.

Benar-benar pelajaran yang saya peroleh dari kehidupan nyata. Walaupun berkali-kali penawarannya saya tolak, melihat kegigihannya berikhtiar, dalam hati saya berkata, “Suatu saat, kalau saya ke Pontianak lagi, saya akan naik ojekmu untuk mengantar ke rumah”.

Sumber gambar :

  • indonesiamatters.com

9 pemikiran pada “Pelajaran Dari Seorang Tukang Ojek

  1. Pengalaman yg luar biasa pak, apapun jenis pekerjaan kalu ditekuni dan kerja keras di iringi doa insya Allah pasti berhasi, bukan begitu pak?

  2. saya kadang juga jengkel klo ada tukang ojek bujuk2 terus, padahal dah bilang dah di jemput. Sok akrab nanya ini itu dan masih juga berusaha menawarkan jasanya, padahal dah berulangkali di bilangi klo saya dah di jemput🙂

  3. saya juga pernah mengalami hal seperti ini..tapi gak kepikiran bahwa ada hikmah dan pelajaran berharga dari setiap peristiwa yang dialami..
    Terima kasih pak sudah berbagi..
    Salam sukses..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s