Lumbung Padi dan Berladang, Tradisi yang Mulai Ditinggalkan

“Lumbung padi itu dibangun tahun 1977”, ungkap pak Hendrik Nuin (53 tahun), putera dayak sekaligus kepala adat desa Tanjung Paku, ketika saya menunjuk satu bangunan yang berada di samping belakang rumahnya. “Berarti sudah 35 tahun bangunan itu berdiri dan masih terlihat kokoh”, kata saya dalam hati.  Menurut Pak Hendrik, selama puluhan tahun berdiri, perbaikan hanya dilakukan pada bagian dinding yang terbuat dari kulit kayu.

Menurut pak Hendrik yang tinggal di salah satu desa di hulu Sungai Seruyan, kabupaten Seruyan, Kalteng, lumbung padi milik tetangganya yang terbuat dari kayu ulin itu dapat menampung hingga 1.300 gantang padi.

Ukuran berat padi dalam masyarakat dayak biasanya menggunakan satuan gantang, bukan kilogram. Satu gantang sekitar 1,6 kilogram. Jadi lumbung padi itu dapat digunakan untuk menyimpan sekitar dua ton padi.

Menurut pengakuan pak Hendrik, saat ini dia memang tidak punya lumbung padi. Jadi hasil panen padi disimpan di dalam rumah. Dia bercerita, kalau sekarang ini padi yang dihasilkan dari ladang lebih sedikit, karena luas ladangnya makin berkurang. Orang-orang dulu memang hasil panen ladangnya banyak karena ladang mereka luas.

Jaman dulu, untuk mendapatkan beras, orang-orang hanya mengandalkan dari ladangnya. Jadi sebagian besar ladang ditanami padi. Waktu itu, belum ada pekerjaan lainnya, kecuali berkebun, mencari ikan, mencari rotan atau berburu. Tapi sekarang ini, warga masyarakat sudah punya pekerjaan lain.

Saat ini hasil panen padi dari ladang tidak sebanyak dahulu karena generasi sekarang pola pikirnya berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi sekarang lebih berpikir ekonomis. Kalau saya bisa punya usaha atau kerja di perusahaan dan dapat uang, kemudian uangnya saya gunakan untuk beli beras, kenapa saya harus capai-capai berladang?

Mereka yang tidak tertarik bekerja di ladang, memilih berwirausaha ternak ayam potong, bekerja sebagai karyawan perusahaan, menjadi guru atau PNS. Menurut mereka, bekerja di ladang lebih berat, banyak mengandalkan kerja fisik dan lokasinya jauh dari desa.
Berladang memang termasuk pekerjaan berat dan menyita waktu, karena prosesnya panjang, mulai mencari lokasi, menebang pohon, menebas semak-semak, membakar, menugal (buat lubang tanam), menanam hingga menunggu hasil panen.

“Saya sendiri selain berladang, juga punya usaha ayam potong”, ungkap Pak Hendrik. Apa yang dikatakan pak Hendrik benar. Pada waktu itu, istrinya terlihat menimbang satu keranjang berisi beberapa ekor ayam potong yang akan dijual ke Koperasi Karyawan (Kopkar) perusahaan. Begitu selesai ditimbang, langsung dimuat ke dalam truk milik perusahaan yang sudah stand by.

Suplai ayam potong dari warga desa Tanjung Paku ke Kopkar cukup lumayan. Menurut Ketua Kopkar perusahaan, sekali beli sekitar 600 – 700 kg. Harga per kg 24.000 rupiah. Dalam sebulan, dua kali truk perusahaan datang ke desa untuk mengangkut ayam-ayam potong untuk konsumsi karyawan perusahaan dan keluarganya. Tidak ada biaya transportasi bagi masyarakat. Pelayanan angkutan disediakan gratis oleh perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan tersebut. Prinsipnya, masyarakat yang beternak ayam, pemasarannya dibantu sepenuhnya perusahaan.

Jika warga desa Tanjung Paku mensuplai minimal 1.200 kg ayam potong per bulan, berarti omzet dari usaha tersebut paling sedikit 28 juta rupiah. Jumlah tersebut belum termasuk hasil dari suplai ayam potong ke desa-desa lainnya.

Pada saat harga ayam potong di Nanga Pinoh Kalbar melonjak menjelang lebaran, harga ayam potong di desa Tanjung Paku justru tetap. Dengan sendirinya, Kopkar akan membeli ayam potong yang harganya lebih murah dan jaraknya lebih dekat.

Karena warga punya pilihan pekerjaan lain, dengan sendirinya jumlah orang yang berladang makin sedikit. Luas lahan yang digarap sebagai ladang juga semakin berkurang. Kalau hasil padi dari ladang makin sedikit, darimana mereka punya beras? Karena mereka punya usaha atau kerja sebagai karyawan. Pendapatan mereka pekerjaan tersebut yang sebagian dibelanjakan untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“Kalau Pak Hendrik sudah punya uang hasil ternak ayam potong dan bisa beli beras, terus kenapa sampai sekarang masih berladang?”. Dia menjelaskan, “Berladang bukan cuma sekadar menanam padi untuk menghasilkan beras. Berladang adalah tradisi orang Dayak, yang harus kami jaga dan lestarikan. Saya tidak ingin tradisi  ini hilang ditelan jaman”.

Sebuah harapan sekaligus ungkapan kekhawatiran seorang tokoh adat, akan hilangnya sebuah tradisi yang telah turun temurun hadir dalam kehidupan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s