Berlibur ke Sinka Island Zoo, Paduan Wisata Pantai dan Kebun Binatang

Akhirnya rencana berlibur bersama keluarga ke Sinka Island Zoo terlaksana juga. Bersamaan dengan libur lebaran dan cuti bersama, saya dan keluarga menyempatkan melepas penat dan rutinitas dengan mengunjungi salah satu obyek wisata andalan di Kalbar.

Sinka Island Zoo, sebuah tempat wisata yang menggabungkan konsep wisata alam berupa pantai dan kebun binatang dalam satu lokasi di daerah Singkawang, tiga jam perjalanan dari Pontianak. Tempat wisata yang memungkinkan para pengunjungnya melihat satwa mamalia, burung dan kera serta keindahan pantai dalam satu area.

Kalau biasanya kita melihat pantai dan kebun binatang di tempat yang terpisah, bahkan berbeda kota, maka di Sinka Island Zoo, kita akan mendapatkan kedua obyek itu dalam satu area. Ibaratnya menggabungkan keindahan pantai Pangandaran di Ciamis dengan kebun binatang Ragunan di Jakarta, meski belum sebagus keduanya.

Keunikan lain adalah kondisi medan atau topografi yang bervariasi mulai dari datar sampai curam. Kita bisa melihat paduan topografi wisata pantai yang datar, hingga daerah perbukitan yang dijadikan sebagai area kebun binatang.

Oleh karena memerlukan waktu tiga jam menuju lokasi, kami berangkat dari Pontianak jam 6 pagi. Istri sudah bangun jam 3 pagi untuk menyiapkan sarapan bagi kami berenam, plus bekal untuk makan siang di lokasi.

Pada waktu silaturahmi hari pertama lebaran, kami dapat informasi dari salah satu tetangga yang pernah ke obyek wisata tersebut dan disarankan membawa bekal makanan dan minuman secukupnya plus tikar.

Nasi, rolade, tumis buncis, buah semangka disiapkan istri tercinta dibantu anak-anak, malam hari sebelum berangkat. Saya sendiri menyiapkan makanan ringan, air putih dan minuman kaleng cincau plus memastikan kendaraan carteran. Kendaraan sudah saya pesan di awal puasa. Tarifnya 700 ribu rupiah per hari, sudah termasuk BBM dan sopir.

Untuk urusan berlibur ini, saya memang tidak mau sembarang pesan kendaraan carteran. Harus yang benar-benar profesional dan terbukti bagus pelayanannya. Jangan sampai niatnya menikmati liburan, akhirnya malah berantakan gara-gara  jemputan datang terlambat, mobil rusak di jalan atau supirnya yang tidak hapal rute yang akan dilalui.

Saya pesan kendaraan carter langganan, namanya pak Aban. Umurnya sekitar 50 tahun. Dia punya usaha kendaraan antar jemput dan carteran di dalam maupun luar kota. Kalau saya pergi ke bandara, biasa dia yang antar. Demikian juga waktu jemput saya bila selesai bepergian dari Jakarta atau Jogja.

Sesuai rencana, hari selasa (21/8) jam 5.50 kendaraan sudah siap di depan rumah. Perjalanan ke Singkawang pun dimulai diiringi cuaca pagi yang masih berkabut

Tiba di lokasi sekitar jam 9 pagi dan kami langsung menuju ke Sinka Zoo. Untuk beli tiket masuk, kami tidak perlu turun dari kendaraan. Ada petugas berseragam safari hitam lengan panjang yang menghampiri kami dan melihat jumlah penumpang di dalamnya.

Saya pun membayar tiket untuk 4 orang, masing-masing harganya 15 ribu rupiah per orang. Anak-anak gratis, termasuk juga pak Aban. Awalnya saya kaget, kok dia tidak bayar. Setelah dijelaskan pak Aban, saya baru mengerti, rupanya supir taksi carteran yang bawa pengunjung ke lokasi wisata tidak perlu bayar.

Kata pak Aban, sehari sebelumnya dia juga mengantar penumpang ke Sinka Island. Besoknya juga dapat pesanan untuk mengantar ke tempat yang sama. Dia juga menawarkan mau lihat lokasi Rindu Alam, Pulau Simping, Pulau Bajau atau Sinka Zoo. Istri saya bilang lihat Sinka zoo dulu baru ke pantai.

Satu persatu lokasi dijelaskan kepada kami, mulai dari Rindu Alam, tempat yang berada di puncak bukit dan terdapat pondok-pondok untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan pantai. Di lokasi ini juga dibangun tempat peristirahatan bagi pemilik obyek wisata ini.

Kemudian pulau Simping, wisata pantai yang memiliki jembatan sepanjang 200 meter untuk menuju pulau kecil di seberangnya. Ada juga pantai Bajau, obyek wisata yang baru dibuka berbatasan dengan pantai Pasir Panjang. Terakhir, Sinka zoo, kebun binatang yang berada di daerah perbukitan dan untuk memasukinya, kami harus melewati jalan yang menanjak.

Karena sering membawa penumpang ke tempat tersebut, pantas dia hapal sekali dengan lokasi-lokasi di obyek wisata ini. Dalam hati saya bergumam, saya tidak salah pilih menyewa kendaraan plus sopirnya. Selain sebagai pengemudi yang profesional, pak Aban ternyata juga seperti pemandu wisata yang handal.

1. Sinka Zoo
Sinka zoo atau kebun binatang sinka merupakan lokasi pertama yang kami kunjungi. Tempat ini hampir mirip dengan taman safari, dimana para pengunjung sambil naik kendaraan dapat berkeliling melihat berbagai satwa, seperti monyet, siamang, owa-owa, burung merak, kerbau albino, gajah, burung elang laut, burung kakatua, ular, biawak, harimau, singa, dan rusa.

Perbedaannya adalah di taman safari, satwa dilepas dan pengunjung tidak diperbolehkan turun dari kendaraan. Sementara, di sinka zoo, satwa berada di dalam kandang dan pengunjung diperbolehkan turun dari kendaraan untuk melihat dari jarak dekat dan memotret.

Di beberapa tempat, seperti kandang kerbau albino dan rusa sambar, pengunjung bahkan dapat memberi makan satwa tersebut dari luar kandang. Tampaknya, pihak pengelola telah menyediakan rumput di dalam karung di dekat kandang.

Pada waktu singgah di kedua tempat tersebut, anak-anak terutama Andra dan Nabil terlihat senang sekali memberi makan kerbau albino dan rusa sambar. Tidak ada rasa takut walaupun mereka baru pertama kali melihat dan memberi makan dua binatang tersebut.

Tidak hanya itu, tanduk dan kepala kerbau tersebut juga dipegang anak-anak. Tidak cukup hanya berkeliling sekali, kami berputar sekali lagi untuk melihat-lihat satwa sebelum menuju ke obyek berikutnya, pantai Simping.

2. Pantai Simping
Setelah melihat obyek kebun binatang, kami menuruni jalan untuk menuju pantai Simping. Di lokasi ini, kami harus membayar tiket masuk 15 ribu rupiah per orang. Sama seperti di Sinka Zoo, kami membeli 4 tiket.

Lokasi pantai Simping terlihat lebih ramai pengunjung daripada Sinka Zoo. Tempat parkir kendaraan penuh dengan mobil-mobil pribadi maupun bis yang sedang menurunkan penumpang. Di tempat ini pengunjung dapat menikmati pemandangan pantai sambil duduk beralas tikar atau di kursi yang disediakan di sepanjang tepi pantai. Selain itu, di area ini juga terdapat kolam renang yang berdekatan dengan deretan warung makan, mulai dari pintu masuk hingga ke dekat jembatan.

Di lokasi ini juga tersedia pedagang souvenir yang menjajakan hiasan jam meja, pigura, dan hiasan gantung lainnya yang terbuat dari kerang.

Karena waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, kami memilih di lokasi ini beristirahat dan menyiapkan makan siang. Setelah kami duduk di depan kolam renang, bekal makan siang pun ditata di atas meja. Tak lupa tiga butir kelapa muda juga dipesan untuk melepaskan dahaga.

Namanya juga anak-anak, ketika orangtuanya lagi sibuk-sibuknya menyiapkan makan siang, Aysha, Andra dan Nabil bukannya duduk manis, tapi justru lari ke arah pantai untuk mencari umang-umang dan kepiting kecil. Setelah dapat kepiting, Nabil kembali ke meja makan untuk mencari wadah untuk menyimpan hasil tangkapannya.

Kalau tidak diingatkan oleh istri, anak-anak itu pasti maunya main terus di pantai sambil cari umang-umang, kepiting dan bisa lupa makan siang. Padahal, masih ada satu lagi obyek wisata pantai yang belum dilihat, Pantai Bajau.

3. Pantai Bajau
Pantai Bajau termasuk lokasi yang baru dikembangkan. Untuk memasuki area ini, kami juga harus membayar tiket masuk, besarnya 20 ribu per orang. Lebih mahal daripada tiket masuk ke Sinka zoo dan pantai Simping. Kalau dihitung-hitung, kami sudah mengeluarkan biaya total 200 ribu untuk tiket masuk mengunjungi tiga lokasi.

Pada saat mencari tempat sholat untuk melaksanakan sholat dhuhur sekaligus jamak sholat ashar, kami mendapati satu mushola yang baru dibangun. Anak tangga yang menghubungkan jalan dengan mushola masih belum selesai dibuat. Namun tempat wudhu sudah bisa digunakan. Tapi sayang, belum ada toilet di samping tempat wudhu.

Di lokasi ini memang pantainya berbeda dengan pantai Simping yang agak berlumpur ataupun pantai pasir Panjang. Hampir sepanjang tepi pantai terdapat batu-batu berukuran besar kecil sehingga agak menyulitkan bagi pengunjung untuk berenang.

Namun demikian, agar pengunjung dapat menikmati pantai Bajau, pihak pengelola menyediakan sarana wisata berupa banana boat, semacam perahu berbentuk pisang dinaiki oleh enam orang dan ditarik oleh speed boat hingga ke wilayah agak jauh dari pantai.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi banana boat, tarifnya 200 ribu untuk 6 orang dalam waktu 15 menit. Meskipun pengelola telah menyediakan dua buah banana boat, pengunjung yang ingin naik cukup banyak dan harus antri.

Tidak hanya itu, ada sarana lainnya berupa perahu bebek yang juga disediakan panitia untuk pengunjung yang ingin menikmati pantai dari dekat. Tarifnya 25 ribu per orang selama 15 menit.

Bagi pengunjung yang berada di pantai Bajau agar berhati-hati, jangan sampai melintas batas ke pantai pasir Panjang. Meskipun sudah ada pembatas berupa parit, namun tidak sedikit pengunjung yang tanpa disadari melewati batas dan bermain di pantai Pasir Panjang. Jika ketahuan petugas, akan ditegur dan diminta untuk kembali ke obyek wisata dimana kita membeli tiket masuk.

Sekadar saran, seharusnya pihak pengelola tidak hanya membuat batas berupa parit. Karena saya melihat di bagian muara parit yang berbatasan dengan pantai, lokasinya sudah tertutup pasir yang terhembas gelombang pantai.
Lebih baik berupa pagar dan ada papan himbauan atau larangan yang mudah dilihat oleh pengunjung.

Setelah kurang lebih 6,5 jam di lokasi wisata, jam 4 sore kami bersiap-siap kembali ke Pontianak. Sebenarnya masih ingin lihat kota Singkawang, namun karena jaraknya masih 17 km lagi, akhirnya kami memutuskan pulang. Khawatir terlalu malam tiba di Pontianak. Dan ternyata dugaan kami benar. Lalu lintas kendaraan yang menuju Pontianak di sore hari lebih padat.

Memasuki daerah Siantan, kami terjebak kemacetan. “Kita salah jalan, harusnya ambil jalan memutar lewat jalan 28 Oktober”, ungkap pak Aban. Tak ingin terjebak lagi di jembatan Kapuas, mobil dilarikan Pak Aban memutar lewat jalan trans Kalimantan. Walaupun jaraknya lebih jauh, namun kami terhindar dari kemacetan, dan tiba di rumah sekitar jam 9 malam.

Benar-benar sebuah perjalanan wisata yang tak terlupakan. Walaupun hanya satu hari dan terasa melelahkan, kami sekeluarga cukup senang dan puas. Sebuah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya dan keluarga.

5 pemikiran pada “Berlibur ke Sinka Island Zoo, Paduan Wisata Pantai dan Kebun Binatang

  1. Ping-balik: Give Away – Yudhi Hendro Berbagi Cerita | Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s