Obyek Wisata Buatan yang Tampak Alami

Pagi ini, sebenarnya saya nggak ada rencana untuk posting. Biasanya selesai sholat subuh, terus baca koran sambil menunggu jam 5 pagi mengikuti pengajian wisata hati ustad Yusuf Mansyur di Anteve.

Dua rutinitas itu hari ini tidak saya lakukan karena stok koran Kompas di kamar yang belum saya baca nggak ada lagi. Sementara koran yang baru belum datang. Meski saya kerja di tengah hutan dan sekarang ini era media online, namun saya tetap langganan koran edisi cetak. Agak beda memang membaca koran online dan koran cetak.

Yang pertama cepat menyampaikan informasi karena suatu kejadian yang berlangsung dapat diketahui dan dibaca saat ini juga. Kalau koran cetak, saya harus menunggu 2-3 hari dari tanggal terbit untuk bisa mengetahui beritanya. Maklum, pengiriman koran tersebut dari Jakarta sampai ke camp via udara dan darat juga perlu waktu lebih dari sehari.

Meski terlambat mandapat informasi, kelebihan koran cetak adalah penyampaian atau ulasan suatu peristiwa lebih mendalam daripada koran online. Dan satu lagi, kalau baca koran cetak, tidak terganggu iklan-iklan yang sering menginterupsi dan tiba-tiba muncul ketika sedang asyik membaca.

Agenda yang kedua, mengikuti pengajian wisata hati juga tidak bisa saya ikuti karena saluran televisi pagi ini tidak dinyalakan. Sambil menunggu waktu berangkat ke kantor, daripada nggak ada kerjaan, saya menfaatkan untuk membuat postingan ini.

Lima hari yang lalu saya cerita kalau sudah bergabung sebagai kompasianer dan buat tulisan yang pertama. Sampai hari kemarin, rupanya tulisan itu masih nangkring di highlight rubrik muda dan sudah dibaca 300 kali.

Setelah lima hari  bergabung,  saya dapat tujuh teman kompasianer. Lumayan untuk seorang pemula. Salah satunya bernama Aulia. Dia cewek yang tinggal dan kerja di Hongkong. Saya tertarik dengan tulisan dia yang menceritakan pengalamannya waktu jalan-jalan di beberapa obyek wisata di sana. Ada satu hal menarik yang baru saya ketahui dari isi ceritanya.

                                            dokumentasi oleh Aulia

Rupanya di negeri tersebut, beberapa tempat wisata sifatnya artifisial atau buatan. Waktu saya melihat foto danau yang dinamai inspiration lake yang disajikan di tulisan tersebut, saya pikir danau tersebut alami, maksudnya terbentuk melalui proses alam layaknya danau-danau yang ada di Indonesia, seperti danau Toba, danau Singkarak, danau Poso dll. Pemandangannya bagus sekali, airnya jernih dan di belakangnya ada pemandangan perbukitan. Setelah saya baca lebih lanjut, ternyata danau tersebut adalah danau buatan manusia (man made).

Tidak hanya itu, di obyek wisata lainnya ada satu pohon yang dinamai wishing tree,pohon bertuah.  Pengunjung dapat melihat pohon besar yang daunnya rimbun dan berbuah banyak. Sepintas orang yang melihat akan beranggapan pohon itu alami. Setelah didekati ternyata pohon yang terbuat dari plastik yang mirip dengan pohon aslinya, baik batang, daun hingga buahnya.

                                             dokumentasi oleh Aulia

Just make a wish by throwing an orange up to the top of the tree, soon or later your dream will be come true. Do you believe it? I don’t!, mengutip penjelasan mbak Aulia.

Pohon aslinya yang telah berumur ratusan tahun tetap masih ada, namun untuk menjaga agar tidak rusak, dibuatlah pohon artifisialnya. Semuanya di buat dan dikelola dengan sangat serius dan profesional, sehingga pengunjung yang baru datang merasa dan mengira obyek tersebut asli.

dokumentasi oleh Aulia

Sampai seperti itu upaya pemerintah Hongkong memanfaatkan tempat-tempat terbuka dengan membangun obyek wisata buatan.

Bandingkan dengan di negeri kita tercinta yang memiliki potensi wisata alam yang luar biasa.  Beragam obyek wisata yang alami tersebar dari Sabang hingga Merauke. Pantai, danau, dan gunung yang jumlahnya puluhan buah telah tersedia dan menunggu sentuhan pengelolaan yang serius. Belum lagi jenis wisata lainnya seperti wisata budaya dan wisata kuliner yang ada di setiap daerah.

Begitu banyak obyek wisata yang memerlukan tangan-tangan yang kreatif dalam mengemasnya hingga memiliki nilai jual yang tinggi. Untuk urusan bagaimana mengelola  suatu obyek wisata agar tampak menarik bagi wisatawan, tampaknya kita masih harus belajar banyak.

Referensi tulisan dan gambar :

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/08/28/catatan-perjalanan-menyusuri-eksotisme-alam-hong-kong/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s