Sang Pengajar dari Dunia Maya

Selama ini kita punya anggapan, namanya belajar itu murid, guru dan bahan pelajaran berkumpul di satu tempat. Belajar di sekolah, di tempat kursus atau di lokasi pelatihan. Sepertinya kalau salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, belajar dianggap tidak sah dan tidak diakui. Akibatnya, bila salah satu komponen tadi tidak hadir, proses belajar pun terhambat.

Mungkin sobat pernah mengalaminya, ketika guru yang seharusnya mengajar tiba-tiba tidak masuk karena keluarganya sakit. Bagi yang sedang kuliah, pernah merasakan ditinggal dosennya penelitian, sehingga ruang kuliah kosong. Masih mendingan kalau jadwal belajar atau kuliah itu diganti dengan hari lain. Atau selama guru dan dosen itu absen, ada guru lainnya atau asisten dosen yang mengisi jadwal kuliahnya.

Proses belajar sepert itu memang sangat tergantung pada kehadiran salah satu komponennya. Murid tergantung kehadiran dosen dan pelajarannya. Guru atau dosen mengharapkan siswa dan mahasiswanya bisa mengikuti pelajaran tanpa absen karena sakit, ijin atau keperluan lainnya.

Tak jarang, ada juga pengajar yang mempersyaratkan daftar hadir minimal untuk bisa mengikuti ujian akhir. Jangan harap mahasiswa ikut ujian, bila daftar hadir kuliahnya diwabah 75 % selama satu semester. Kalau dosennya sendiri jadwal mengajarnya kurang dari 75 %, gimana loh?

Ada juga dosen yang punya aturan, mahasiswa terlambat 15 menit lebih baik tidak ikut kuliah. Sebaliknya, kalau sang dosen dalam waktu 15 menit tidak datang, kuliah dibatalkan. Nah, kalau yang kedua ini, justru mahasiswa sendiri yang dirugikan. Dia sudah bayar mahal, masa jadual kuliahnya sering kosong.

Sebenarnya, dengan kemajuan teknologi informasi, kendala pertemuan dosen dan mahasiswa maupun guru dan murid dapat dijembatani dengan media internet. Apalagi sekarang ini, yang namanya mahasiswa dan anak-anak sudah akrab sekali dengan yang namanya gadget canggih yang bisa mengakses internet. Jadi, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, proses belajar benar-benar berada di ujung jari.

Pikiran saya langsung menerawang jauh. Jika saya menjadi dosen, saya akan buat blog untuk mahasiswa saya, supaya bisa mengakses informasi yang diperlukan. Mulai jadwal kuliah, referensi yang harus disiapkan, ringkasan materi kuliah, jadwal ujian, informasi pengumuman nilai ujian,  sampai tugas-tugas kuliah dan praktikum.

Meskipun saya  sedang mengikuti seminar di Jepang, saya masih bisa memeriksa konsep laporan mahasiswa yang sedang praktek di tengah hutan Kalimantan. Di lain waktu, saat mengikuti simposium di Jakarta, saya tetap bisa memberikan bimbingan skripsi mahasiswa yang  penelitian di Sumatera.

Ketika giliran jadi dosen terbang dan mengajar di Surabaya, saya masih sempat memberi saran mahasiswa di Jogja mengisi Kartu Rencana Studinya .

Tidak hanya itu, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga bisa berkomunikasi melalui e-mail atau bahkan skype di sela-sela kesibukan saya.

Saya bisa juga menyampaikan perkembangan ilmu pengetahuan selama mengikuti seminar atau simposium dan mengunggahnya di blog. Jadi mahasiswa juga tahu kegiatan saya selama di luar kampus. Mahasiswa juga tahu, kalau bahan kuliah tidak hanya buku teks jaman dulu yang sudah ketinggalan jaman. Tapi juga dari perkembangan yang terjadi di lapangan.

Ada keterkaitan antara mata kuliah yang saya ajarkan dengan perkembangan dalam kehidupan nyata.

Saya teringat waktu jaman kuliah dulu, selesai ujian akhir, biasanya mahasiwa menjalani libur semester dan banyak yang pulang kampung. Jika libur semesternya pas tahun ajaran baru, masa liburnya pasti lebih lama, bisa sebulan. Terkadang, mahasiswa harus titip temannya di kota untuk mengetahui berapa nilai ujiannya.

Tidak cuma itu, saya juga teringat pengalaman seorang teman yang kesulitan menemui sang dosen pembimbing skripsi, karena seringnya menjalani tugas di luar kampus. Padahal dosen pembimbing skripsinya tidah hanya satu. Setelah berkonsultasi, draf skripsi tidak langsung jadi.

Maksudnya, tetap ada koreksi sang dosen dan mahasiswa pun harus memperbaiki lagi. Mengetik ulang, mencetak dan menyerahkan lagi ke sang dosen untuk diperiksa ulang. Semua perlu tenaga, biaya dan tentu saja waktu untuk mengerjakannya. Tenaga untuk menemui dosennya, biaya membeli kertas dan mencetak ulang draf skripsinya.

Dengan bantuan internet, semua proses itu bisa diringkas. Mahasiswa bisa mengirim draf skripsi via e-mail, dosen memberi catatan di berkas tersebut dan mengirim kembali. Setelah konsultasi dinilai cukup dan skripsi telah siap, baru dicetak dan dilanjutkan dengan penyusunan skedul ujian skripsi. Jadi tidak memboroskan banyak kertas dan tinta printer.

Tiba-tiba, aiphone di meja ruang kerja berbunyi. Bagian personalia memberitahu kalau ada dua calon karyawan yang ingin bertemu. Seketika itu juga, saya tersadar dari lamunan. Cerita seandainya jadi dosen pun berakhir.

Saya tersadar, rupanya saya masih tetap sebagai karyawan yang sehari-hari bekerja di tengah hutan. Dan bukan sang dosen seperti yang tadi diceritakan.

Sumber  Foto :

antarafoto.com

Iklan

4 pemikiran pada “Sang Pengajar dari Dunia Maya

  1. Selamat pagi pak dosen, hehe. Memang andai semua dosen dan juga siswa sudah mengenal teknologi tentu kegiatan belajar mengajar akan lebih dinamis. Komunikasi tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, namun juga bisa dilakukan di luar kelas.

    Semoga saja infrastrukturnya semakin mendukung, dan daya beli kian meningkat, karena walau bagaimanapun teknologi di negeri ini masih mahal.

    1. Selamat sore mahasiswaku.
      Gimana pelajarannya? Ada kesulitan? Kalau belum paham jangan ragu-ragu bertanya ………..hahaha.

      Betul, Kang. Masa kalah sama blogger yang bisa saling komunikasi via internet.

  2. Saya sangat berantusias menjadikan teknologi menjembatani permasalahan pendidikan yang selama ini ada.
    Insyaallah… Mimpinya akan saya lanjutkan, Pak.
    Walau ngga jadi dosen mahasiswa, minimal dosen para siswa lah.. Hehe.

    1. Memang saat ini kita tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi. Karena sarana tersebut memudahkan kita menyampaikan informasi dan berinteraksi.
      Kalau Mas Ayip mau meneruskan impian saya, ide yang sangat bagus. Biar komunikasi sang pengajar dan anak didiknya tidak terputus.

      Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s