Berpagi-pagi Menjemput Rejeki

Pukul 3.55 WIB, kami tiba di terminal bis Sidomulyo Nanga Pinoh, setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam dari Pontianak. Meski masih sangat pagi, aktivitas di terminal mulai bergeliat. Tukang ojek yang menawarkan jasanya mendatangi para penumpang yang turun dari bis, warung yang mulai buka untuk melayani penumpang yang singgah dan minum teh atau kopi. Saya memang ada janjian dengan kawan untuk ketemu di terminal sebelum melanjutkan perjalanan sekitar 2,5 jam ke base camp.

Dari sekitar 10 buah warung, baru ada 2 yang buka di pagi hari itu. Setelah bertemu kawan di warung di dekat pangkalan ojek, saya pun memesan secangkir kopi susu untuk menghangatkan badan. Segelas kopi juga dipesan oleh kawan yang tiba di terminal terlebih dahulu.

Setelah penumpang turun dari bis yang ditumpangi kawan tadi, kegiatan berlanjut ke bongkar muat barang. Berbagai sayuran, paket-paket kiriman dibongkar satu persatu dari bagasi bis yang terletak di bawah tempat duduk penumpang. Sepeda motor roda tiga Tossa telah siap menyambut untuk membawa barang-barang tersebut ke kota.

Sambil menyeruput hangatnya kopi susu, adzan subuh terdengar dari surau yang terletak di sudut bagian depan terminal. Tanpa menunggu secangkir kopi susu habis, saya bergegas menuju masjid dan mengambil air wudhu. Sholat subuh berjamaah pagi itu diikuti 6 orang jamaah dipimpin imam yang sekaligus merangkap sebagai muazin. Terasa damai dan tenang hati ini selesai menjalankan sholat subuh berjamaah. Mata yang tadinya masih mengantuk, segar kembali.

Perjalanan kami lanjutkan ke kota menggunakan ojek dari terminal. Sepanjang perjalanan saya ngobrol dengan si pengojek. Dia yang lebih dulu membuka percakapan, “Tadi di terminal pengojek lain marah, Pak”. Lho, kenapa?”, tanya saya. “Mereka marah karena nggak dapat penumpang. Saya bilang masing-masing orang sudah punya rejekinya sendiri-sendiri”, ungkap si pengojek sambilan tersebut.

Pengojek sambilan? Ya, menurut pengakuannya, dia menjadi tukang ojek cuma waktu pagi dan malam hari saja. Terus pagi hari setelah mengojek, kerja apa Pak?, tanya saya penasaran. “Saya kerja di perusahaan kebun, Pak, di bagian pembibitan. Jam 7 saya berangkat kerja dan sore pulang. Terus malamnya saya kerja mengojek lagi”.

Tanpa terasa obrolen terhenti ketika kami tiba di depan agen bis yang tadi saya tumpangi. Suasana masih sepi, hanya tampak juru parkir yang terlihat menyapu dan merapikan kursi tunggu penumpang.

“Berapa pak ongkosnya?”, tanya saya. Sebenarnya saya sudah tahu kalau dari terminal ke kota, per orang ongkosnya 10 ribu rupiah. “Terserah bapak, berapa mau kasih”, kata dia agak pasrah. Langsung saya keluarkan selembar 20 ribuan. “Ini untuk Bapak dan ambil saja kembaliannya”, sambil saya serahkan uang tersebut. Hitung-hitung sedekah di hari Jumat ini, kata saya dalam hati.

Karena agen bis langganan saya tersebut belum buka dan warung kopi di seberangnya masih tutup, sambil menunggu kendaraan yang akan mengantar ke logpond, saya berjalan kaki sekitar 20 meter menuju warung kopi lain. Warung kopi yang juga sebagai tempat agen bis Maju Terus (Marus). Sampai di tempat, rupanya di dalamnya sudah banyak orang yang duduk-duduk menikmati segelas kopi, teh dan melihat berita pagi di televisi. Warung kopi terpagi yang buka di pusat kota.

Di saat warung kopi lainnya baru buka sekitar pukul 5.30, warung kopi itu buka dua jam lebih awal. Karena hampir semua kursi terisi, saya memilih duduk di pojok dekat layar televisi. Segelas teh tawar alias tanpa gula saya pesan. Ingat nasihat bos ketika di Pontianak, umur sudah kepala empat memang sudah saatnya mengurangi konsumsi gula. Bukan apa-apa, masih ingin panjang umur dan sehat, bukan karena mengikuti tren atau sok hemat.

Waktu di warung kopi itu, saya langsung mikir. Lha iya, kalau dia buka warung lebih awal, tanpa iklan, promosi dan dibujuk-bujuk, orang-orang juga mau datang sendiri. Kalau selisih cuma dua jam saja dia buka warung lebih awal, berapa banyak orang yang singgah dan minum di warung itu. Berapa banyak uang yang lebih banyak masuk, jika segelas kopi atau teh pembeli harus bayar 3 ribu rupiah.

Kalau kita tiba di kota Nanga Pinoh pagi-pagi dan bilang ke tukang ojek atau juru parkir ingin minum kopi, teh atau makan mi, pasti dia akan langsung tunjuk warung kopi itu, Benar-benar jurus promosi mulut ke mulut yang efektif.

Sementara di warung atau toko lainnya masih tutup dan belum terlihat ada kegiatan, di warung itu pembeli sudah menghirup hangatnya secangkir kopi. Di saat pemilik warung lainnya mungkin masih tertidur lelap, di warung itu penjaganya sudah mengelap meja-meja yang baru saja ditinggalkan pembeli.

Jadi kalau warung itu lebih maju, lebih banyak untungnya, lebih banyak pembelinya, ya wajar. Kenapa? Karena dia telah memenuhi keperluan dan melayani pembelinya lebih pagi. Pembeli-pembeli itulah yang menjadi sumber rejeki bagi si pemilik warung kopi. Dia telah berpagi-pagi menjemput rejeki.

Dan Allah Swt telah melimpahkan rejeki itu di awal pagi untuk semuanya, tanpa pilih kasih. Siapapun yang menjemput rejeki di awal pagi, maka dia mendapatkan kesempatan dan keberkahan yang tidak dimiliki oleh setiap orang. “Ibarat ikut lomba, dia sudah menang start, Pak”, kata sopir di dalam mobil yang membawa kami melanjutkan perjalanan ke camp.

2 pemikiran pada “Berpagi-pagi Menjemput Rejeki

  1. rindu rasanya susasana warung kopi khas nanga pinoh.
    Dulu, tempat itu menjadi tempat efektif mencari inspirasi dgn sedikit melamundan seskali baca koran.. hehe Salam pak Yudi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s