Pangkas Rambut 3 Orang Cuma ½ Jam

Benar-benar pemangkas rambut kilat. Betapa tidak, ketika saya pangkas rambut dengan dua anak, nomor tiga dan si bungsu, semuanya selesai nggak lebih dari ½ jam. Pemangkas rambut yang bodinya kekar dan tinggi besar tersebut begitu lincah memainkan pisau cukur elektrik. Giliran pertama adalah anak saya yang bungsu. Sudah lama dia menagih janji minta agar rambutnya dipangkas.

Biasanya kami pangkas rambut di salah satu salon di jalan Hijas. Lokasinya di dalam bangunan ruko dua tingkat yang bagian bawahnya digunakan untuk berjualan handphone dan asesorinya. Ruangan pangkas rambut sendiri berada di lantai bawah di bagian belakang. Ada tiga kursi putar tempat pangkas rambut dan sebuah cermin besar berntuk persegi panjang. Di belakang kursi putar ada deretan kursi bagi tamu yang menunggu giliran atau para pengantar.

Terakhir kali kami pangkas rambut di tempat itu, sekitar tiga bulan yang lalu. Waktu itu hanya ada satu orang tukang pangkas rambut yang bekerja. Setahu saya ada tiga orang, tetapi yang dua orang tidak terlihat sedang bekerja. Padahal waktu itu saya sedang menunggu giliran.

Waktu saya dipersilakan duduk di kursi putar dan mulai dipangkas, saya tanya, “Kemana dua orang kawannya yang lain?”. “Sudah berhenti, Pak, kerja ditempat lain. Sekarang cuma saya sendiri yang kerja disini”, jawabnya sambil tangannya tetap memangkas rambut saya menggunakan gunting dan sisir.

Di tempat itu, cara memangkas rambut masih menggunakan gunting dan pisau cukur elektrik. Setelah memperpendek rambut kepala, biasanya rambut-rambut halus di bagian pipi dan tengkuk serta kumis dirapikan menggunakan pisau silet. Setelah itu diberi bedak bayi, rambut yang sudah rapi disemprot uap air dan terakhir bagian bahu dan kepala dipijat. Rambut pun disisir rapi dan selesai sudah. Kalau dihitung-hitung satu oang perlu waktu sekitar 45 menit. Ongkosnya 20 ribu rupiah

Hari itu (13/9), setelah berbelanja, kami langsung menuju ke tukang pangkas rambut langganan. Masuk ke jalan Hijas, keadaannya cukup ramai. Di sepanjang jalan mobil dan motor memadati tempat parkir. Jalan tersebut memang diramaikan oleh berbagai ruko yang sebagian besar digunakan tempat berdagang. Mulai warung kopi yang jualannya berkolaborasi dengan pedagang gado-gado dan soto ayam lamongan, tempat jualan handphone dan asesorinya, hingga tempat jualan lukisan.

Kendaraan berjalan pelan melewati depan ruko pangkas rambut. Namun, agak kesulitan juga kami mencari-cari papan nama ruko tersebut. Biasanya ada tulisan nama ruko berwarna hitam dengan dasar biru laut yang terpasang di dinding atas bagian depan. Saat itu kami tidak melihatnya. Dugaan kami, mungkin pangkas rambutnya sudah tutup dan pindah ke tempat lainnya. Dengan terpaksa kami keliling lagi mencari tempat pangkas rambut.

Untungnya, istri ingat kalau dia pernah dikasih tahu temannya, di dekat sekolah Santo Petrus ada tukang pangkas rambut langganannya. Teman istri yang sering ketemu waktu sama-sama mengantar anaknya yang masih TK. Kebetulan anaknya teman istri dan si bungsu ini sekelas waktu TK.

Ternyata tidak sulit mencari lokasi pangkas rambut tersebut. Berada satu deretan dengan kompleks sekolah Santo Petrus. Di lokasi itu, juga ada semacam kantin dan terlihat anak-anak dan orangtuanya yang baru pulang sekolah sedang menikmati makan dan minum di tempat yang dindingnya terbuka.

Sekitar pk. 11.30 WIB, kami memasuki ruangan yang ber AC, kami menunggu sekitar 10 menit. Terlihat satu orang petugas yang sedang melayani seorang ibu yang rambutnya yang terurai dibikin seperti ulir, sementara anak perempuannya menunggu di sampingnya. Model apa lagi nih?

Setelah anak bungsu selesai dipangkas, selanjutnya saya dan terakhir anak yang ketiga. Gaya memangkasnya memang terlihat cekatan. Dengan lebih banyak menggunakan pisau cukur listrik untuk memangkas dan merapikan rambut, kerjanya seakan-akan menunjukkan kalau dia tidak ingin buang waktu. Tidak ada pisau silet untuk merapikan rambut di pipi atau tengkuk. Apalagi pijat kepala dan bahu. “Sudah selesai, Pak. Siapa lagi yang mau pangkas?”, katanya. Kalau dia itu diibaratkan petinju, gayanya mungkin mirip Mike Tyson. Kalahkan lawannya secepatnya, kalau perlu KO di ronde pertama.

Terakhir, anak saya yang nomor tiga. Awalnya dia nggak mau, tapi setelah dibujuk oleh si pemangkas rambut, akhirnya menyerah juga dan mau rambutnya dipangkas. Selesai ketiganya dipangkas, belum sampai jam dua belas siang. Awalnya saya khawatir, perlu waktu paling tidak satu jam untuk pangkas rambut tiga orang. Ternyata perkiraan saya meleset, pangkas rambut 3 orang nggak sampai ½ jam. Berapa ongkosnya? 60 ribu rupiah untuk 3 orang.

Bagi orang yang melihat cara kerjanya, kesannya seperti terburu-buru. Tapi bisa jadi, dia justru menikmati dengan cara seperti itu : cepat, efisien dan nggak buang-buang waktu dan hasilnya lumayan juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s