Terima Kasih, tidak Memilih Saya jadi Ketua

Lho, nggak jadi ketua kok malah berterima kasih. Aneh, nggak jadi pemimpin kok justru senang. Padahal, banyak yang kepingin lho jadi ketua. Ngebet jadi pemimpin. Sampai bela-belain loby sana sini, nggak lupa juga pendekatan kiri kanan, hingga kampanye ngumpulin orang di lapangan.

Ceritanya, di tempat kerja, hari kamis malam (18/10), ada pemilihan ketua baru pengurus olah raga. Setelah ketua olahraga menyampaikan pertanggungjawaban kegiatan, dilanjutkan pembubaran pengurus lama oleh pimpinan rapat.

Nah, acara yang ditunggu-tunggu adalah pemilihan ketua pengurus yang baru. Kenapa dipilih? Ya, karena calonnya lebih dari satu orang. Enam kandidat diusulkan oleh enam bagian. Satu bagian diwakili oleh enam orang, jadi ada 36 orang yang akan menjatuhkan pilihan suaranya. Ini model baru dalam menentukan sang ketua pengurus.

Kalau sebelumnya, ketua adalah hasil penunjukkan dan bukan pemilihan. Namanya saja model penunjukkan, dijamin pasti banyak yang nggak mau. Dan juga banyak yang menolak dengan alasan bermacam-macam : nggak siap lah, belum mampu lah dan segudang alasan lainnya.

Dengan sistem pemilihan, enam orang calon tersebut tidak bisa menolak jika terpilih dengan suara terbanyak. Artinya, pemilih memang telah menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan matang.

Surat suara pun dibagikan ke masing-masing peserta. Ada enam nama calon yang tertulis di dalamnya, termasuk saya. Enam kotak berbentuk bujursangkar dibuat di depan nama setiap calon. Para pemilih cukup mencontreng di kotak yang disediakan, sesuai pilihannya.

Setelah semua surat suara terkumpul, perhitungan pun dimulai. Hasilnya, sang kandidat yang menempati nomor urut pertama, sekaligus juga menjadi peraih suara terbanyak. Ada 23 orang atau 63,89 %  yang memilihnya sebagai ketua.

Saya sendiri dapat berapa suara? Lumayan, cukup 1 suara saja. Terima kasih kepada para pemilih yang begitu cerdas tidak memilih saya. Ini berarti proses regenerasi kepengurusan telah berjalan. Terima kasih, karena kalau memilih saya, belum tentu kegiatan olahraga akan lebih semarak, seperti yang diharapkan bapak penasehat.

Biarkan saya menjadi bagian dari permainan olahraga yang sedang dipertandingkan. Menjadi pemain yang membuat setiap permainan menjadi mengasyikkan, menarik dan penuh semangat. Jatuh bangun mengembalikan shuttle cock, pontang-panting menahan smesh lawan sampai full konsentrasi sewaktu serve.

Biarkan menjadi pemain yang dapat menikmati setiap pertandingan. Karena kepuasan berolahraga tak hanya sekadar urusan kalah menang. Bertanding, skor ketat dan saling berkejaran hingga rubber game, pemain dan penonton tegang, pemenangnya sulit diprediksi adalah juga suatu kepuasan.

Biarkan menjadi pemain yang sekaligus menghibur penonton di arena pertandingan. Karena bermain olahraga tanpa penonton, ibarat sayur tanpa garam, hambar rasanya. Kecuali untuk yang lagi diet garam. Jangan sampai penonton sudah meluangkan waktu untuk melihat, permainannya malah biasa-biasa saja, tak semangat, bahkan kesannya asal main. Bermain tapi main-main.

Cuma, jangan sampai bermain olahraga itu karena ingin ditonton. Ada nggak ada penonton, ya tetap berolahraga. Wong yang perlu itu kita sendiri kok. Manfaatnya juga untuk diri kita. Supaya badan  sehat, jarang sakit dan sekaligus mengisi waktu di sore hari setelah bekerja.

Sekali lagi, terima kasih tidak memilih saya sebagai ketua.

Sumber gambar :
– music.okezone.com

12 pemikiran pada “Terima Kasih, tidak Memilih Saya jadi Ketua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s