Takbiran di Tengah Hutan

Harusnya postingan ini sudah terbit kemarin (26/10) agar aktual. Tapi, tak apalah baru bisa menulis hari ini. Rasa letih nggak bisa dihindari setelah dua hari yang lalu benar-benar full kegiatan. Malamnya ikut takbir keliling di lima tempat, paginya sholat Ied dan siang hari menggantikan posisi teman sebagai petugas sholat Jumat.

Ini cerita waktu takbir keliling di tempat kerja. Takbir menyambut hari Raya Idul Adha keesokan harinya. Bcara ini bertepatan dengan awal musim penghujan. Sejak sore hari hingga maghrib, hujan seperti ditumpahkan dari langit.

Udara malam cukup dingin dan menjadi ujian bagi peserta yang ingin ikut takbir keliling. Ujian dari Allah untuk mengetahui seberapa besar kesungguhan kami melaksanakan acara tersebut.

Kalau tekad nggak bulat, mungkin ada yang ngomel, “Gimana mau takbir keliling kalau hujan nggak berhenti?.
Tapi, tiba-tiba seperti ada keajaiban. Selesai sholat Isya berjamaah ditunaikan, derai hujan mulai berkurang, hingga benar-benar reda ketika para peserta bersiap-siap berangkat.

Anak-anak yang bersuka ria didampingi remaja dan para orangtua, mulai bergerak menuju mess karyawan.
Pengeras suara dan wireless juga tak lupa dibawa. Mess guru adalah tempat pertama yang didatangi. Setelah itu ke mess karyawan bengkel, mess sopir dan terakhir mess kantor.

Sebenarnya saya inginnya takbiran di masjid, supaya masjid jangan sampai kosong. Tapi pak Ketua bilang,”Bapak ikut aja takbir keliling. Selama di jalan, bapak yang bertakbir. Giliran kami yang bertakbir dan baca doa di mess yang dikunjungi”. Nggak masalah kalau harus begitu.

Di struktur pengurus masjid, saya juga bukan jadi ketua, lho. Seperti halnya kepengurusan olahraga yang pernah saya ceritakan beberapa waktu yang lalu (Tulisan : Terima kasih, tidak Memilih Saya jadi Ketua) .

Saya sekadar jamaah biasa. Jadi nggak boleh merasa dongkol kalau disuruh. Nggak boleh marah kalau diperintah. Kalau diminta oleh pengurus, tetap akan saya lakukan sebisa saya.

Prinsip saya sederhana saja, kalau ada orang yang minta, berarti dia sedikitnya sudah tahu kemampuan seseorang. Nggak logis dong, kalau dia minta tolong sesuatu yang orang itu nggak bisa kerjakan.

Di beberapa tempat yang disinggahi, tuan rumah sudah menyiapkan macam-macam kudapan. Berbagai kue basah, gorengan, minuman plus buah-buahan disajikan oleh istri karyawan di selasar halaman. Setelah melantukan takbir, dilanjutkan dengan tampilan nasyid gabungan. Vokalis dan pemukul rebananya gabungan anak-anak dengan bapak-bapak.

Setelah menikmati hidangn, kunjungan di masing-masing mess diakhiri dengan pembacaan doa oleh masing-masing wakil tuan rumah. Puncak kunjungan adalah di mess kantor yang bangunannya terletak dibagian atas mess-mess lainnya.

Sebelum tiba di mess kantor, peserta takbir keliling harus antri menaiki tangga dengan 5 kelokan. Perlu berhenti sejenak dan mengatur napas di kelokan, bagi peserta yang belum terbiasa mendaki.

Rasa lelah takbir keliling, seperti sirna ketika tiba di mess kantor. Senyum dan keramahan tuan rumah terlihat menyambut kedatangan peserta. Tak hanya itu, hidangan makan malam pun telah disediakan. Setelah semua duduk bersila di selasar, gema takbir pun dikumandangkan, lagu-lagu nasyid dilantunkan.

Selanjutnya, dengan berbaris tertib, peserta pun dipersilakan menikmati hidangan makan malam. Ada dua meja hidangan yang disediakan secara terpisah di selasar. Ketika waktu telah menunjukkan jam 9.30 malam, acara diakhiri dengan untaian doa kepada Alllah SWT. Satu per satu, para tamu berpamitan pulang.

Sebuah rangkaian acara yang sungguh berkesan, terutama bagi anak-anak yang tak terlihat rasa lelah. Justru suka cita dan kegembiraan yang ada di setiap perjalanan. Sebuah pengalaman masa kecil yang bermakna bagi mereka dan akan terbawa hingga dewasa.

Bisa jadi dua puluh tahun lagi, pada saat dewasa nanti, dia akan teringat masa itu dan bercerita kepada anak-anaknya di saat malam menjelang lebaran.

“ Dulu waktu masih kecil, Bapak pernah ikut takbir keliling, Nak”.
“Takbir keliling?”, tanya sang anak penasaran.
“Ya, takbir keliling di tengah hutan”
“Di tengah hutan?”, lanjut sang anak dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
“Ya, ketika itu bapak masih SD. Bersekolah dan tinggal di tengah hutan”, jawab sang bapak sambil pandangannya menerawang jauh.

Ya, takbir keliling adalah pengalaman menarik dan berkesan bagi anak-anak.

Ikan tenggiri di tengah lautan
Ditangkap nelayan dimasak tekwan
Andai diri kami banyak kesalahan
Harap sekiranya agar dimaafkan

Selamat Idul Adha 1433 H

4 pemikiran pada “Takbiran di Tengah Hutan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s