Ranah 3 Warna, Impian – Impian A. Fuadi

Memang agak terlambat membaca novel ini. Namun, dengan penuh kesabaran akhirnya tuntas sudah membaca Ranah 3 Warna. Novel kedua dari trilogi karya Ahmad Fuadi. Novel yang mengisahkan Alif Fikri dalam menggapai impiannya, melanjutkan kuliah dan pergi ke benua Amerika untuk belajar bahasa Inggris dari penutur aslinya. Sebuah kisah yang terinspirasi dari pengalaman hidup penulisnya.

Dalam novel pertamanya, Negeri 5 Menara, kisah ini diawali ketika Alif yang dipaksa sang ibunda untuk memilih sekolah agama agar bisa menjadi ulama seperti Buya Hamka. Sebuah keinginan yang bertentangan dengan pilihannya, karena ia sebenarnya ingin menjadi ahli teknologi seperti Habibie.

Demi ketaatan kepada sang ibunda, akhirnya dengan terpaksa Alif memilih sekolah agama dan merantau ke tanah Jawa. Dua hari dua malam di perjalanan menggunakan bis diantar ayahanda, akhirnya tibalah di gerbang Pondok Madani di daerah Ponorogo Jawa Timur.

Alif belajar di pondok pesantren modern yang disiplinnya sangat ketat. Mengharuskan siswanya menggunakan lebih banyak bahasa Inggris dan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sampai-sampai, waktu menggigau pun dalam bahasa Arab dan Inggris.

Belajar dari seorang kyai yang menyuntik semangat murid-muridnya dengan mantra Man Jadda wa Jada, barangsiapa bersungguh-sungguh akan sukses.

Tak hanya itu, ketika Alif belajar di Pondok Madani, dia bersama lima orang kawan akrabnya menyebut diri sebagai Sahibul Menara. Sebuah nama kelompok yang dipilih karena mereka sering menunggu waktu menjelang sholat Maghrib di bawah menara masjid.

Di tempat inilah impian mereka berawal, ketika menjelang senja masing-masing melihat awan di angkasa dan menafsirkannya dengan bentuk berbagai benua. Ada yang menyebut seperti benua Asia, benua Eropa, benua Amerika, benua Australia atau benua Afrika. Masing-masing berbeda pendapat dan tidak mau mengalah. Namun, mereka memiliki impian untuk menjelajah ke masing-masing benua seperti yang diinginkan.

Dalam novel keduanya, Ahmad Fuady bercerita bahwa ternyata mantra Man Jadda wa Jadda tidaklah cukup untuk mengarungi tantangan kehidupan dalam menggapai impian. Karena di antara bersungguh-sungguh dan sukses masih terdapat jarak.

Dan jarak itu bisa satu menit, satu jam, satu minggu, satu tahun bahkan bertahun – tahun. Diperlukan satu mantra lagi yang menjadi jembatan antara bersungguh-sungguh dan sukses, Man shabara zhafira, barangsiapa bersabar akan beruntung.

Mimpi Alif Fikri menjadi ahli teknologi seperti Habibie belum terhenti. Setelah tamat dari Pondon Madani dia pulang ke Maninjau, Sumatera Barat dan bersiap-siap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan berikutnya menanti ketika hendak mengikuti UMPTN, ternyata dia tidak punya ijasah SMA.

Bagaimana dia akan ikut UMPTN jika tak punya ijasah SMA? Dia pun harus mengikuti penyetaraan selama setahun untuk mendapat ijasah SMA. Buku-buku pelajaran mulai kelas 1 sampai kelas 3 SMA, harus dia pelajari dalam waktu satu tahun. Hampir-hampir dia menyerah.

Semangat itu muncul kembali ketika dia terinspirasi kesebelasan favoritnya, Tim Dinamit Denmark yang berhasil menjuarai Piala Eropa tahun 1992, meski datang sebagai tim pengganti dan tidak diunggulkan.

Impian berikutnya untuk menjejakkan kaki di benua Amerika terwujud, ketika menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Unpad, dia terpilih sebagai salah satu peserta program pertukaran pemuda Indonesia – Kanada. Namun, dia kecewa, karena keinginannya untuk belajar dan bercakap-cakap dengan penutur asli bahasa Inggris tak tercapai. Mengapa?

Ternyata, dia ditempatkan di Quebec, sebuah wilayah di Kanada yang sebagian besar masyarakatnya lebih fasih menggunakan bahasa Perancis. Alif pun protes ke panitia. “Kenapa ditempatkan di Quebec. Saya sama sekali nggak bisa bahasa Perancis. Saya minta tukar tempat, Bu”, pinta Alif.

Namun, panitia tetap bersikukuh dan hanya memberikan dua pilihan. Menerima atau mengundurkan diri dan tempatnya diganti peserta lainnya. Setelah berpikir dan teringat dengan mantra man shabara zhafira, dengan berat hati Alif pun akhirnya memilih yang pertama, menerima keputusan ditempatkan di Quebec.

Mendapatkan homologue atau pasangan teman bernama Franc yang tidak fasih berbahasa Inggris, Alif pun menganggap hal itu sebagai peluang unuk belajar bahasa Prancis. Apalagi Franc juga punya keinginan bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Akhirnya mereka membuat kesepakatan. Alif akan mengajari Franc berbahasa Inggris, dan Alif akan belajar bahasa Perancis dari Franc.

Tinggal di daerah Saint Raymond selama enam bulan di rumah orangtua angkat yang juga kesehariannya menggunakan bahasa Prancis, Alif pun semakin bersemangat  untuk bisa berbahasa Perancis. Ferdinand dan Mado, orangtua angkat yang menganggapnya sebagai anak sendiri.

Dan ketika masa berpisah itu tiba, kedua orangtua angkat itupun tak kuasa menahan linangan air mata.

“Berjanjilah, Alif.  Suatu saat nanti, engkau akan kembali lagi ke sini. Anggaplah ini rumahmu sendiri”.

Begitu banyak episode dalam novel ini yang menginspirasi bagi pembacanya. Sungguh sayang untuk dilewatkan. Tak salah bila novel ini termasuk dalam kategori National Best Seller dan telah dicetak 5 kali. Inilah hadiah  terindah dari Tuhan untuk Alif Fikri, bukti sebuah kesabaran yang tiada bertepi.

Sumber foto :

– erti-hamimi.blogspot.com

2 pemikiran pada “Ranah 3 Warna, Impian – Impian A. Fuadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s