Melamun dan Merenung

Entah sudah berapa kali teman kerja memergoki saya sedang melamun atau merenung. Di ruang makan, ketika sarapan sendirian dan menatap hijaunya pohon, dia nyeletuk, ”Pagi-pagi jangan merenung, Pak”. Siang hari, ketika melihat teknisi sedang pasang AC, ada lagi yang komentar,” Kok, melamun, Pak”.

Ambil sisi positipnya saja. Masih untung ada orang lain yang kasih perhatian dengan menyapa atau menegur. Jaman sekarang yang katanya cenderung individualis, lu-lu gue-gue, jarang lho cari orang yang mau menyapa dan menegur dengan tulus.

Saya amati, ada sedikit perbedaan memang antara orang dari Kalimantan dan Jawa dalam menggunakan kata merenung dan melamun. Kalau asli Kalimantan biasanya dia menggunakan kata merenung, tapi kalau dari Jawa, kata melamun yang sering digunakan. Jawa disini maksudnya pulau Jawa lho, bukan hanya suku Jawa.

Penasaran dengan kata merenung dan melamun, saya coba buka Kamus Besar Bahasa Indonesia offline 1.3. Ini dia artinya :

Merenung = diam memikirkan sesuatu

Melamun = termenung sambil pikiran melayang kemana-mana

Inilah enaknya bikin tulisan di blog. Sebenarnya nggak ada cerita mau buka kamus bahasa. Awalnya sekadar mendengar komentar teman, eh…..malah keblalasan ingin buka kamus segala. Beda sekali dengan yang namanya bikin masalah.

Kalau ada yang bikin masalah, diusahakan cepat diatasi dan jangan sampai berkembang. Tapi kalau bikin tulisan, sekali jemari mengetik di keyboard, pikiran langsung terbang kemana-mana. Keep your hand writing. Write what you’re thinking.

Kalau perasaan saya sih, bukannya lagi melamun. Tapi memandang sesuatu obyek sambil berpikir. Dan saya baru sadar, karena seriusnya memandang, sampai nggak sadar kalau ada orang lain yang memperhatikan.

Mungkin, teman melihat saya memandang sesuatu obyek dengan tatapan kosong, pandangan yang hampa. Nampaknya, gabungan arti kata melamun dan merenung lebih pas untuk menggambarkan kondisi yang saya alami : diam memikirkan sesuatu sambil pikiran melayang kemana-mana.

Setelah membaca kamus tersebut dan coba memahami artinya, saya baru sadar. Rupanya orang lain menafsirkan yang saya lakukan seperti itu. Salah? Nggak juga, cuma beda persepsi saja, hanya  berlainan sudut pandang.

Dan kalau sudah bicara beda persepsi alias sudut pandang, nggak ada yang benar dan yang salah. Masing-masing punya dasar pemikiran sendiri yang nggak mesti dipaksakan harus sama. Kesalahan terjadi ketika salah satu pihak memaksakan pendapatnya pada pihak lain.

Nah, kalau sudah beda persepsi, terus gimana mengatasinya? Belajar memahami pendapat orang lain. Saling menghargai sudut pandang pihak lain. Dapat menempatkan diri pada posisi orang lain alias berempati. Ini yang susah, karena terkadang seseorang menganggap dirinya yang benar dan yang lain salah. Meski susah, bukan berarti nggak bisa, kan.

Sumber foto :

– S.459.photobucket.com

8 pemikiran pada “Melamun dan Merenung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s