Di Toko Buku

dokumentasi yudhihendros

Toko buku adalah salah satu tempat favorit saya dan keluarga. Di tempat ini kami bisa berlama-lama menghabiskan waktu, bahkan sampai toko bukunya tutup sekitar jam 21.30.

Sebulan sekali, biasanya saya ajak keluarga untuk beli buku di Gramedia di kompleks Mega Mall. Jaraknya sih nggak jauh dari rumah. Naik kendaraan sekitar 10 menit.

Tapi tadi malam (9/11), setelah sampai di halaman mall, waktu habis  cuma untuk cari tempat parkir. Meski bukan malam minggu, agak susah juga cari tempat parkir. Putar-putar dari lantai bawah sampai lantai tiga, penuh semua.

Akhirnya, setelah tak kenal menyerah, dapat juga tempat parkir yang kosong. Lokasinya di lantai paling atas, tempat biasa orang-orang yang parkir kendaraan untuk menonton bioskop.

Tempat parkirnya terbuka, maksudnya kalau kita menengok ke atas yang dilihat bukan atap, tapi langit bertabur bintang. Melihat ke arah bawah, terlihat kelap-kelip lampu bangunan di sekitar mall. Masih untung waktu itu nggak hujan.

Toko bukunya yang kami tuju berada di lantai dua. Jadi setelah naik ke lantai paling atas, kami turun lagi lewat eskalator yang ada di samping pintu masuk bioskop. Di dalam toko buku, kami langsung menyebar.

Saya langsung cari rak yang memajang buku-buku non fiksi dan novel terbaru. Ah, rupanya novel yang saya cari, buku terakhir dari trilogi Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna belum terbit. Agak kecewa juga rasanya.

Saya lihat, justru buku karangan Dahlan Iskan yang banyak mendominasi rak buku  di dekat kasir. Populer juga Menteri BUMN ini sekarang. Selain wajahnya kerap muncul di televisi, buku-buku karyanya juga jadi best seller.

Judul yang saya ingat cuma “Novel Sepatu Dahlan”. Kalau dipikir – pikir, cuma Dahlan Iskan, satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang rajin menuangkan pemikiran dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Sempat mampir juga di rak buku yang memajang buku tentang ngeblog. Tapi nggak ada satu pun yg saya beli, ambil satu baca sekilas, terus saya kembalikan lagi.

Sementara itu, istri dan tiga anak yang ikut, langsung mengarah ke rak buku di bagian ujung. Masing-masing anak saya berikan keleluasan untuk memilih satu buku yang disukai. Ada yang memilih buku ensiklopedia, ada juga yang lebih suka komik. Sekali belanja buku, biasanya menghabiskan anggaran sekitar 150-200 ribu rupiah.

Untuk beli buku keperluan anak-anak, uang segitu nggak masalah. Syaratnya cuma satu, setelah dibeli buku itu harus dibaca tuntas. Si sulung nggak ikut ke toko buku, karena mengerjakan tugas pelajaran Matematika dan IPS dari sekolah.

Sebenarnya waktu itu ibunya mau belikan buku visual basic, tapi waktu dikonfirmasi lewat telepon nggak dijawab. Mungkin sudah tidur dan daripada salah beli akhirnya buku itu nggak jadi dibeli.

Bagi saya dan keluarga yang menjalani status LDR, jalan-jalan bersama istri dan anak-anak ke toko buku adalah suatu kebutuhan. Apa itu LDR? Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh. Ini bukan cuma status untuk yang masih pacaran, tapi juga yang sudah berumah tangga.

Statusnya hampir sama dengan para TKI yang mencari nafkah ke luar negeri dan terpaksa berpisah dengan keluarga. Belum bisa bertemu setiap hari dengan istri dan anak karena faktor pekerjaan. Tampaknya, saat ini pola rumah tangga seperti ini menjadi suatu pilihan ya. Suami dan istri bertempat tinggal terpisah dan tidak dapat bertemu setiap hari.

Jadi sekali bertemu keluarga, ya prioritas waktu untuk istri dan anak-anak.  Termasuk kalau anak-anak mengajak jalan-jalan. Harap dimaklumi kalau pada kondisi ini, kuantitas postingan agak seret atau agak terlambat menanggapi komentar teman-teman narablog. Bukan maksud hati untuk tidak menanggapi dengan segera, namun ada urgensi yang memang tak bisa dihindari, keperluan untuk keluarga.

Bagi sebagian orang,  sehari-hari berkumpul bersama keluarga bisa jadi adalah hal yang biasa. Namun bagi saya dan para pengikut LDR lainnya, bisa berkumpul dan berjalan-jalan bersama keluarga adalah suatu hal yang istimewa.🙂

 

Salam

6 pemikiran pada “Di Toko Buku

  1. bagi kami enggak mas, walau sudah berkumpul setiap hari dgn keluarga, tetap saja tiap hari itu istimewa mas, bukan hal yang biasa, apalagi wiken gini kalau suami nggak harus kerja, sangat istimewa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s