Solidaritas Supir Bis Antar Kota

Image

Senin, 12 Nopember 2012 sekitar jam 5.30 WIB, setengah jam perjalanan lagi tiba di Nanga Pinoh, ibukota Kabupaten Melawi, Kalbar. Ruas jalan yang telah dilebarkan dan beraspal terasa begitu nyaman dilalui. Perjalanan yang sebelumnya memakan waktu 2 jam dari Simpang Pinoh ke kota Nanga Pinoh, kini cukup ditempuh separuhnya.  Di beberapa tempat, karena masih terdapat jembatan yang belum selesai diperbaiki, kendaraan harus berjalan perlahan-lahan.

Tiba-tiba, bis yang saya tumpangi berhenti mendadak di dusun Bonet Desa Engkabang, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang.

Saya kira bis DAMRI yang berangkat dari Pontianak jam 19.30 WIB itu mengalami kerusakan mesin atau pecah ban. Rupanya dugaan saya meleset. Bis tersebut berhenti karena melihat di sebelah kanannya, ada satu bis antar kota lain yang terjebak di jalan tanah selepas jembatan yang baru diperbaiki.

Saya yang duduk di kursi nomor 5C melihat dengan jelas, bagaimana roda bagian belakang bis ATS tertanam dalam lumpur dan tidak bisa digerakkan. Sebenarnya bis tersebut sudah lolos melewati jembatan beton yang baru saja dibangun. Tapi, tak sampai sekitar tiga meter dari jembatan, roda depan dan belakang bis terjebak jalan yang belum ditimbun dan berlumpur karena diguyur hujan.

Bis yang saya tumpangi lolos dan tidak terjebak lumpur, karena melintas di sebelah kiri jembatan tersebut. Menyusuri jalan darurat yang bergelombang dan licin.

Setelah melihat nasib kawannya gagal menggerakkan roda bis yang terjebak lumpur, supir bis DAMRI pun memarkir kendaraannya di depan bis ATS. Supir turun dari bis dan bermaksud membantu untuk menarik bis ATS.

Beberapa penumpang termasuk saya, turun dari bis untuk melihat kondisi bis ATS dan sekalian menggerakkan badan setelah kurang lebih 8 jam duduk manis. Sebagian penumpang lagi, masih tertidur dalam bis.

Image

Menurut informasi supir, untuk menarik bis ATS yang berkapasitas sekitar 40 orang tersebut, harus menggunakan dua truck. Alternatif lainnya, menggunakan sesama bis antar kota. Upaya menarik bis ATS dengan bis DAMRI gagal, karena tidak ada cantolan di bagian belakang bis untuk mengikat kawat sling yang sudah disiapkan.

Sekitar 10 menit kemudian, ada bis antar kota lainnya melintas di samping bis ATS. Bis berwarna biru bernama Maju Terus yang juga mencoba melintasi jalan darurat di sebelah bis ATS yang terperosok.

Setelah berhasil melintasi jalan darurat, sejenak bis tersebut berhenti. Supirnya terlihat berbicara serius dengan supir bis DAMRI dan supir bis ATS.

Saya baru mengetahui isi pembicaraan mereka, setelah melihat bis Maju Terus tersebut mengambil posisi mundur untuk menarik bis ATS. Rupanya mereka bertiga berembug untuk mencari jalan keluar agar bis ATS lolos dari kubangan lumpur.

Saya lihat ada yang bertugas pemberi aba-aba yang berdiri di samping belakang bis Maju Terus. Dia yang memberi kode bis agar mundur, memerintahkan mengikat sling, dan menyuruh supir bis Maju Terus dan ATS untuk menjalankan kendaraannya.

Image

Perlu pengaturan yang tepat agar pada saat bis di depannya mulai menarik, kawat sling pada posisi tegang, dan bis di belakangnya segera menginjak pedal gas. Semuanya perlu gerakan yang seirama dan serempak. Jika tidak seirama, bisa saja kawat sling putus, lepas dari ikatannya atau bis di belakang menabrak bis penarik yang sudah berhenti.

Setelah pemberi aba-aba mengatakan siap, bis Maju Terus mulai secara perlahan menarik bis ATS. Tidak mudah memang untuk lolos. Perlu tenaga penarik yang cukup kuat untuk mengeluarkkan bis dari kubangan lumpur.

Saya lihat dari roda bagian belakang bis Maju Terus sampai mengeluarkan asap, karena beratnya beban yang ditarik. Roda depan bis ATS juga mulai berputar dan bergerak maju mengikuti tarikan bis di depannya. Dan akhirnya, lolos juga bis ATS dari kubangan lumpur.

Selama ini, bisa jadi kita punya pengalaman buruk berlalu lintas di jalan raya. Pemakai jalan yang egois, ugal-ugalan dan tidak mau mengalah serta membahayakan pemakai jalan yang lain.

Namun dari pengalaman di atas, saya bisa menarik hikmah di pagi hari tentang rasa solidaritas dan sikap empati pemakai jalan, khususnya sesama supir bis antar kota. Sebuah sikap yang mulai langka ketika kita berada di jalan raya.

Meski mereka sama-sama bekerja sebagai sopir dan mencari nafkah untuk keluarganya, namun tidak terlihat sikap sikut-sikutan atau saling menjatuhkan di antara mereka. Justru yang terjadi adalah rasa empati, kebersamaan dan solidaritas yang kuat.

Sebuah pelajaran solidaritas dan sikap empati yang nyata di jalan raya. Solidaritas untuk mencari jalan keluar bagi sang teman yang bisnya terjebak lumpur. Sikap empati sopir yang menempatkan dirinya, seandainya dia pada posisi seperti kawannya yang bisnya terjebak. Kemudian mencoba untuk membantu mencarikan jalan keluar bagi bis serta 40 orang penumpang di dalamnya.

Memang, terkadang kita perlu belajar tentang kehidupan dari mereka. Dalam benak sang sopir pada saat itu hanya ada satu keinginan, bagaimana caranya mengeluarkan bis dari kubangan lumpur dan mengantar penumpang hingga ke tempat tujuan.

Sebuah sikap yang perlu diteladani. Seandainya para pemimpin kita memiliki etos dan sikap kerja seperti para supir bis antar kota tersebut, tak akan ada masalah yang tak terselesaikan.

12 pemikiran pada “Solidaritas Supir Bis Antar Kota

    1. Ini kondisi ruas jalan dekat jembatan yg sedang diperbaiki, mbak. Kalau lewat jalan ini seperti naik kapal kena gelombang, oleng🙂.
      Btw, ini dashboard wp di akunku kayaknya lagi problem, jadi bolak-balik saya posting baru bisa…Judulnya kok nggak muncul ya…😦

      1. iya, begitu pun tenggang rasa. semoga dunia mengenal kita sebagai bangsa yang memiliki karakter seperti itu, bukannya bangsa yang doyan kekerasan.

      2. Ya, kita perlu menyajikan informasi yang berimbang. Selama ini, informasi yang disampaikan melalui media cetak dan elektronik kurang berimbang. Lebih menonjolkan nilai-nilai kekerasan.

        Sisi lain yang bernilai positip dalam kehidupan masyarakat, seperti gotong royong, tolong menolong dan tenggang rasa juga perlu kita sampaikan.🙂

      3. setuju, media massa memang lebih sering memberitakan kejadian yang mengandung kekerasan, seakan-akan manusia-manusia Indonesia adalah penikmat tontonan kekerasan. Padahal media massa punya andil besar dalam pembentukan wajah bangsa. Kalau yang disiarkan tentang kekerasan terus, lama-kelamaan bangsa ini akan menganggap itu sebagai hal lumrah, bukan lagi sesuatu yang harus ditindas oleh sikap gotong-royong dan tenggang rasa yang lebih positif, yang nyatanya sudah ditanam dalam pikiran sejak usia belia.

      4. Ya, betul. Melalui dunia blogging ini coba kita berikan alternatif informasi lain yang bermanfaat, membangkitkan harapan dan optimisme.

        Bahwa meskipun bangsa kita menghadapi berbagai masalah, namun rasa persaudaraan dan tolong-menolong itu masih ada dalam kehidupan nyata.🙂

      5. Sangat setuju dengan Mas Yudhi. Setidaknya dunia perblogan bisa mengimbangi, dan kalau bisa mengerdilkan, berita kekerasan dengan hal-hal positif yang dibagi untuk sesama.

        Memberikan informasi bermanfaat melalui blog pun sudah terhitung suatu kepedulian akan bangsa ini. Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s