Koleksi Kartu Undangan

Bulan Nopember ini memang bulannya orang melangsungkan pernikahan. Di bulan ini juga, sudah dua kartu undangan pernikahan saya terima. Undangan pertama, sekitar sepuluh hari lalu dari guru anak saya yang kelas dua. Yang kedua, dua hari lalu dari aparat keamanan yang bertugas di tempat kerja.

Hari Sabtu (10/11), guru sekaligus wali kelas anak saya menikahkan putri pertamanya. Anaknya lima dan semuanya cewek. Awal membaca undangannya, agak terasa aneh dalam pikiran. Rupanya bukan hanya rekan-rekan gurunya saja yang diundang, tetapi juga beberapa orangtua murid.

“Usahakan kita datang, Mas. Nggak enak kalau sampai nggak datang, karena guru itu juga wali kelas anak kita”, ungkap istri ketika melihat saya ragu-ragu menghadiri atau tidak. “Ya, kita berangkat jam 16.30. Jangan lupa kartu undangannya dibawa”, jawab saya. Akhirnya, kami bertiga dengan mengendarai motor mencari alamat rumah sang pengantin, sesuai denah yang tertera di balik surat undangan.

Sambil menengok kiri kanan, saya cari jalan yang dimaksud. Istri pun sesekali mencocokkan dengan denah dalam surat undangan. Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya kami melihat beberapa mobil yang diparkir di dekat gang dan satu-dua keluarga berpakaian batik dan kebaya keluar dari gang mengendarai motor.

Ini pasti nggak jauh lagi dari rumah mempelai. Langsung sepeda motor saya arahkan belok kanan memasuki gang dan ternyata perkiraan saya nggak meleset. Di jalanan selebar sekitar 1,5 meter itu beberapa ruas dipenuhi sepeda motor yang diparkir.

Akhirnya, kami sampai juga di rumah mempelai. Setelah menikmati hidangan semangkok bakso, dilanjutkan dengan menyalami kedua orangtua mempelai wanita, kedua pengantin dan orangtua mempelai pria. Sebelum pulang, tak lupa saya minta ijin orangtua mempelai putri untuk berfoto bersama dengan pengantin.

Beruntung, waktu pergi kondangan bawa kartu undangan, jadi nggak terlalu susah mencari rumah mempelai. Setelah nggak terpakai lagi, biasanya kartu undangan pernikahan itu saya simpan. Untuk apa? Jadi koleksi pribadi. Kalau orang lain ada yang jadi kolektor suvenir pernikahan, kolektor replika  kendaraan, kolektor perangko, kolektor mata uang, kolektor lukisan, saya cukup jadi kolektor kartu undangan pernikahan.

Jadi kalau ada teman-teman blogger yang mau nikah, terus  kasih kartu undangan, dengan senang hati saya terima. Tak terasa, kalau sesekali melihat koleksi surat undangan itu, saya teringat kembali dengan masa pernikahan  sekitar 15 tahun yang lalu.🙂

Beberapa kartu undangan saat ini memang sudah mengalami modifikasi. Kalau kartu undangan sebelumnya, biasanya hanya mencantumkan nama kedua mempelai dan orangtuanya. Namun saat ini, ada gambar kedua mempelai yang dipotret saat pre wedding juga tercetak dalam kartu undangan.

Melihat foto kedua mempelai di kartu undangan, saya berharap semoga pernikahan mereka tetap rukun dan rasa kebersamaan itu tetap melekat. Selekat gambar kedua mempelai yang anggun dan mesranya terpampang  di kartu undangan pernikahan.

17 pemikiran pada “Koleksi Kartu Undangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s