Pidato Perpisahan Kelas

IMG00241-20120510-0708

Anak kedua saya yang duduk di bangku kelas enam SD, Aysha, atau biasa kami panggil Caca diberikan tugas sekolah membuat pidato perpisahan kelas. Seperti biasa, kalau ada tugas pelajaran bahasa Indonesia seperti mengarang, bikin puisi atau membuat teks pidato, dia sering kesulitan dan minta tolong mamanya.

Dibandingkan tiga saudaranya yang lain, sebenarnya dia termasuk anak yang pengomong dan agak ngeyel alias nggak mau kalah kalau lagi perang mulut dengan kakak dan adik-adiknya. Dia juga termasuk anak yang paling rajin membantu mamanya di rumah. Membantu memasak, cuci pakaian, menyetrika dan menyiapkan pakaian adiknya yang akan berangkat ke sekolah, bukan hal sulit baginya.

Tetapi ya itu tadi, kalau sudah berhubungan dengan tulis menulis atau mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dia sering kesulitan.

“Caca nggak bisa Ma, bikin tulisan panjang-panjang seperti Papa”, ungkapnya saat bersama-sama mamanya buka internet di rumah dan melihat isi blog papanya.

Lha, kalau sudah urusan seperti ini, biasanya istri saya  sore-sore atau malam hari menelepon saya dan tanya gimana membuat materi pidato. Saya yang diminta bantuan, harus spontan menjelaskan langsung di telepon, poin – poin penting yang perlu disiapkan.

Nggak ada istilah nanti  saya carikan bahannya, karena saya masih letih habis kerja. Atau tunggu dulu, nanti saya telepon balik setelah saya dapat idenya. Semua harus dijawab dan dijelaskan saat itu juga di telepon.

Saat itu juga saya bilang, inti materi pidato itu ada tiga : pembukaan, isi dan penutup. Terus, istri saya dengan penuh perhatian mendengarkan sambil mencatat poin – poin yang saya sebutkan.

“Kalau pembukaan pidato itu isinya gimana, Mas?”.

Saya jawab, “Biasanya setelah mengucapkan salam, isinya disambung dengan ungkapan syukur kepada Allah SWT dan ucapan terima kasih kepada orangtua dan guru-gurunya”. Setelah itu dilanjutkan dengan isi pidato.

Nah, ceritakan saja kalau cita-cita Caca nanti waktu besar mau jadi apa. Saya  dengar dia ‘kan cita-citanya mau jadi dosen, ini bisa jadi isi pidato. Terus supaya cita-citanya tercapai, supaya bisa jadi dosen, Caca harus sekolah dan belajar.

Perlu sekolah mulai  TK, SD, setelah lulus meneruskan lagi ke SMP, SMA dan kuliah. Selama di sekolah, Caca harus rajin belajar, kalau ada tugas atau PR cepat dikerjakan, juga hormat dengan guru-guru dan jangan bermusuhan dengan teman-temannya.

Isi pidato juga bisa berupa apa yang Caca inginkan dari guru-guru atau sekolahnya. Dia bisa ceritakan juga supaya gurunya kalau mengajar murid-murid harus sabar, jangan sering marah – marah. Jangan mudah menghukum anak yang  berbuat salah.

Sekolah juga perlu menghargai murid-muridnya yang punya prestasi. Tidak hanya yang nilainya bagus, tapi juga yang pintar membuat puisi, pandai berolahraga, terampil membuat majalah dinding.

Terakhir, penutup pidato itu singkat saja. Isinya kesimpulan dari yang sudah diceritakan di bagian isi pidato. Katakan saja, kalau setiap anak pasti punya cita-cita, termasuk Caca. Supaya setelah besar bisa menjadi seperti yang dicita-citakan, perlu bersekolah dan belajar dengan rajin.

“Pokok-pokok dari pidato perpisahan kelas seperti itu, nanti biarkan Caca tulis dengan kalimatnya sendiri”, pesan saya. Jangan sampai kata-kata yang dicatat itu ditulis sama persis untuk teks pidato. Guru pasti mengetahui tulisan itu buatan asli muridnya atau dibuatkan orangtuanya.

Setelah menutup telepon, saya sejenak berpikir, kok spontan saya bisa  menyusun poin-poin untuk bahan pidato, ya? Apa karena rajin ngeblog alias menulis di blog ? Apa karena terbiasa bikin postingan ? Kalau jawabannya ya, alangkah bermanfaatnya punya kebiasaan menulis. Alangkah bergunanya kebiasaan ngeblog dan bikin postingan.

17 pemikiran pada “Pidato Perpisahan Kelas

  1. si caca termasuk pinter donk pak… tuh terpilih ama sekolahan buat pidato. keren itu. kemampuan menulis mungkin belum terlihat. dulu saya ngrasain jadi suka nulis2 pas ada pelajaran bhs indonesia buat nulis diary di kelas 1 es em pe

    1. Baru saja mamanya cerita, kalau bahan pidato perpisahan kelas sudah ditulis Caca. Mamanya juga kasih nasehat,supaya bahan pidatonya diketik saja pakai komputer, jangan ditulis tangan🙂.

  2. betul pak dengan ngeblog kita semakin enak menjelaskan.

    ketika siswa saya minta contoh sebuah laporan peristiwa, saya ambilkan di blog saya. mereka pun senang sekali lihat contoh yg saya bawakan. krn di postingan ternyata ada salah satu teman mereka.

  3. Kebiasan menulis kan mengharus kan kita melihat gambaran besarnya terlebih dulu baru masuk ke detail. Jadi emang bermanfaat ya pak Yudhi membantu kita melihat sesuatu lebih jernih seperti membuat pidato. Selamat utk Caca yg punya ayah care🙂

    1. Betul, Bu Evi. Kebiasaan menulis juga akan membantu kita menyampaikan gagasan secara urut dan logis.

      Makasih, Bu. Saya cuma berpikir, jangan sampai sbg orangtua nggak tahu perkembangan proses belajar anak-anaknya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s