Terima Kasih

terimakasih

Setiap kali mengakhiri bicara via telepon, istri nggak lupa bilang, “Makasih Mas, sudah menelepon”. Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa dia harus bilang terima kasih? Bukankah sudah sewajarnya kalau seorang suami menelepon istrinya? Apakah ada sesuatu yang istimewa sehingga dia harus bilang terima kasih? Wong kalau telepon, paling-paling yang dibicarakan kabar anak-anak atau kondisi di rumah.

Pertanyaan itu sempat cukup lama nggak terjawab. Sampai ketika saya teringat anak ketiga, Andra, yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SD. Pada waktu TK besar, gurunya pernah bicara ke istri, ”Andra ini jarang bilang terima kasih kalau diberi sesuatu sama guru atau teman-temannya”.

Ekspresinya datar dan diam ketika dia menerima pemberian orang lain. Melihat responnya seperti itu, gurunya  berpesan supaya dia dibiasakan bilang terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain. Agar kebiasaan ini terbawa sampai besar.

Sebagai orangtua, kami pun berterima kasih pada Ibu Guru yang begitu perhatian. Sampai-sampai dia tahu kebiasaan murid-muridnya. Termasuk Andra yang jarang mengucapkan terima kasih.

Nasehat gurunya coba kami praktekkan di rumah. Sewaktu menerima pemberian dan lupa bilang terima kasih, kami ingatkan dengan pertanyaan, ”Bilang apa kalau sudah dikasih? Dia pun menjawab, ”Terimakasih”. Nggak bosan-bosannya istri di rumah mengingatkannya untuk tidak lupa berterima kasih.

Ucapan terima kasih memang tampaknya sepele. Sepertinya kalau seseorang memberikan kepada kita sesuatu, itu sudah seharusnya terjadi. Tanpa perlu lagi kita merasa berterima kasih. Seolah-olah semuanya yang kita terima dianggap taken for granted. Padahal tidak ada sesuatu yang ujug-ujug terjadi di dunia ini. Semua melalui proses dan memerlukan waktu.

Padahal nggak susah kok bilang terima kasih atas sesuatu pemberian orang lain. Nggak rugi juga kita menyampaikan ucapan itu kepada orang lain atas upaya yang dilakukannya.

Ucapan terima kasih adalah tanda bahwa kita menghargai dia. Penghargaan atas upaya, waktu dan juga tenaga yang diberikan pada kita.

Untuk urusan berterima kasih ini, tak ada salahnya mencontoh sikap mbak-mbak pramugari yang selalu mengucapkan terima kasih pada para penumpang yang berjalan keluar dari pesawat. Meski ada beberapa penumpang yang langsung ngeloyor pergi dan cuek tidak membalas ucapan itu.

Bisa juga belajar dari petugas satpam dan mbak-mbak teller di bank, yang selain bilang terima kasih juga masih menanyakan  apa ada lagi yang bisa dibantu.

Meski mereka melakukannya atas dasar tugas karena sebagai bagian dari pelayanan, namun ucapan itu terasa menyejukkan hati. Apalagi bila disertai senyum ramah penuh ketulusan. Rasa letih seakan hilang.

Ngomong-ngomong, kalau anda sebagai penumpang pesawat atau nasabah sebuah bank, jika selesai urusan ingin diberikan ucapan terima kasih atau dicuekin?

Eits, hampir saja lupa, terima kasih juga sudah membaca postingan ini.

Sumber gambar :

alfalah.iwkz.de

Iklan

6 pemikiran pada “Terima Kasih

  1. Ely Meyer

    mas, kalau di sini itu ucapan terima kasih itu diobral di mana mana, di toko, kantor, bank , di mana saja, orang terbiasa berterima kasih, belum ditambahi kata kata have a nice day dll kalau di pelayanan umum, sudha sesuatu yg wajib kayaknya dan orang orang siapapun itu biasa mengucapkannya

    kalau aku sendiri di rumah juga puluhan kali dengar kata terima kasih dr mama sama suami, sesuatu yg sdh sgt amat biasa di sini mas

    sama sama mas, terima kasih juga dgn tulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s