Seorang Pemuda di Gerbong Kereta

Kereta api

Cerita ini saya dapatkan dari pesan Black Berry seorang teman lama. Teman cewek semasa SMP yang sekarang tinggal di Jakarta dan rajin kirim cerita, tawaran kerja atau promosi baju dan makanan via BB. Walaupun sudah kepala empat dan cukup lama berpisah, tapi kami masih BBM-an dan punya grup lho. Anggotanya  sekitar 10 orang.

Nama grupnya BATLAS, bukan Batman. Singkatan dari Batur Lawas alias manteman lama. Kalau cerita BATLAS, jadi ingat jaman SMP dulu waktu masih pakai seragam putih biru. Hampir sama dengan seragam anak SMP sekarang. Untuk cowok pakai baju putih dan celana pendek warna biru. Jadi masih kelihatan dengkulnya.

Isi BBM itu sebuah kisah yang cukup menginspirasi.  Pesannya adalah agar kita nggak terlalu cepat memvonis seseorang hanya berdasar apa yang terlihat. Pengin baca ceritanya?

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh dengan penumpang, seorang pemuda berusia sekitar 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya.

Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya,“Ayah coba lihat pohon-pohon itu, mereka berjalan menyusul kita”. Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh putranya.

Di samping  pemuda itu, ada sepasang suami istri yang mengamati tingkah pemuda yang menurut mereka kekanak-kanakan. Mereka berdua merasa risih. Kereta terus berlalu.

Tak lama pemuda itu kembali berteriak,”Ayah, lihat itu, itu awan kan? Lihat, mereka juga ikut berjalan bersama kita juga”. Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.

Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tak mampu lagi menahan diri. Akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu,”Kenapa anda tak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab,”Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir, ia baru dioperasi dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.

Pasangan suami-istri itu pun terdiam seribu bahasa.

Apakah saat membaca kisah ini, kita juga berpikiran seperti suami istri itu? Kalau kita jadi penumpang dalam gerbong itu, mungkin kita juga punya pemikiran yang sama dengan sepasang suami istri itu. Menganggap pemuda itu gila atau kurang waras. Atau kalau nggak, mungkin kita menganggap dia kampungan atau katrok istilah Tukul, karena baru pertama kali naik kereta.

Boleh-boleh saja kita punya pemikiran seperti itu. Namun, setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing. Oleh karena itu, jangan memvonis seseorang hanya dengan apa yang kita lihat. Bisa jadi, bila kita mengetahui kondisi yang sebenarnya, malah kita yang akan tercengang.

Semoga cerita di atas dapat kita petik hikmahnya.

Sumber foto :

chris railway

Iklan

6 pemikiran pada “Seorang Pemuda di Gerbong Kereta

  1. Ely Meyer

    Aku pernah baca cerita serupa mas di satu blog tapi lupa blognya siapa

    memang kadang diam lebih baik ya mas, karena kita nggak tahu cerita yg sesungguhnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s