Jenang Gulo

 Sehari tanpa musik terasa ada yang kurang. Bekerja di depan laptop sambil dengarkan musik terasa rileks. Istirahat siang, leyeh-leyeh sambil menikmati musik terasa menentramkan. 

Bicara musik tentu nggak lepas dari lagu-lagu yang didengarkan. Selain lagu pop negeri sendiri dan lagu barat, lagu favorit yang sering saya dengar berulang-ulang dan nggak pernah bosan adalah campursari. Lagu khas berbahasa Jawa yang diiringi alat musik modern dan gamelan. 

Tembang-tembang Jawa yang isinya sarat dengan makna, seperti Sewu Kuto dan Tanjung Mas Ninggal Janji-nya Mas Didi Kempot. Juga tembang-tembang Jawa lawas yang dinyanyikan Bu Waldjinah atau Mus Mulyadi. Tembang lawas yang masih enak didengar seperti Jenang Gulo, Lelo Ledung, Yen Ing Tawang Ono Lintang.  

Tembang jaman dulu yang sering saya putar di winamp laptop pas waktu kerja, termasuk saat menulis postingan ini. Bahkan tembang itu saya simpan juga di Black Berry. Jadi, kalau di perjalanan pengin ndengerin, tinggal putar dan pasang earphone

Kenapa jadi suka dengan tembang-tembang itu ya? Padahal sewaktu tinggal di Semarang dan Jogja dulu, rasanya nggak sering-sering banget mutar lagu itu. Tapi kenapa setelah tinggal belasan tahun di Kalimantan dan jarang balik ke Jawa, jadi pengin ndengerin lagu itu? 

Apa karena sekarang tinggal di rantau, jadi kangen dengan hal-hal yang berbau kampung halaman? Kangen dengan hal-hal yang beraroma Jawa. Rindu dengan tembang-tembang campursari, kangen dengan makanannya : gudangan/urap, pecel, gudeg, tape ketan, tiwul, wedang ronde.

Apa perasaan seperti ini cuma saya sendiri yang mengalami, atau juga dialami sama teman-teman blogger yang merantau ke tempat lain? Termasuk yang pergi merantau nun jauh ke luar negeri.  Merantau ke tempat yang berbeda adat-istiadat dan budayanya. Dan merasa rindu dengan sesuatu yang khas dari kampung halaman.

Iklan

10 pemikiran pada “Jenang Gulo

  1. Ely Meyer

    Aku akhir akhir ini juga sering mendengarkan lagu Jawa mas, yg sering kudengarkan tiap hari itu cublak cublak suweng, romo ana maling, nggak tahu ya, nggak pernah bosen bosennya saat ini, mungkin benar juga krn jauh dari kampung halaman terus suka mendengarkan lagu daerah

  2. Pasti karena rindu kampung Pak. Saya juga begitu, kalau lagi kangen kampung putar lagu Minang. Jadi terbayang masa-masa indah dulu disana, suasananya, aroma tanahnya, pemandangannya dan sebagainya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s