Paperless

IMG00860-20130129-1357

Era tablet telah tiba. Setelah ada sinyal triji, gadget jenis baru itu telah merambah ke pedalaman. Termasuk ke tempat kerja. Beberapa teman mulai tertarik memiliki. Alasannya, untuk baca berita lebih nyaman daripada dari ponsel atau Blackberry.

Dengan 1-1,5 juta rupiah sudah bisa dapat tablet. Macam-macam berita bisa didapat, cepat lagi. Uang langganan koran setahun nilainya bisa dapat sebiji tablet.

Kalau langganan koran atau majalah cetak, beritanya terbatas. Juga nggak bisa cepat dapat informasi. Hari ini ada banjir di Jakarta, baca beritanya baru 2 hari kemudian. Kalau pakai tablet, bisa tahu dan baca hari itu juga.

Tak bisa dihindari, pembaca setia koran cetak dan majalah di kantor pun menurun drastis. Kalau dihitung, yang masih berlangganan nggak sampai belasan orang. Koran dan majalah digital telah menjadi mainan baru. Untuk baca berita, cukup geser kiri-kanan atau atas-bawah layarnya.

Godaan untuk punya tablet belum mampu meruntuhkan minat saya pada koran cetak. Meski saat ini sudah masuk era paperless, langganan koran cetak masih jalan terus. Nggak tahu sampai kapan, kesetiaan pada koran cetak ini bisa bertahan.

Membaca koran cetak sudah mendarah daging sejak SMP hingga kini. Agak berat rasanya berpindah ke koran digital. Koran cetak beritanya terbatas itu betul, informasi lebih lambat diterima juga nggak salah.

Bukan informasi yg beraneka ragam atau kecepatan berita, tapi kedalaman informasi dan berita yang saya cari. Poin ini yang masih belum bisa tergantikan oleh koran atau majalah digital.

Cuma itu alasannya? Nggak juga sih. Langganan koran cetak juga bermanfaat buat orang lain.  Lho, kok bisa?

Kalau ada tamu-tamu yang cari kertas koran untuk bikin herbarium, mereka diarahkan supaya cari saya. Ada juga teman yang mengecat ulang kamarnya, terus cari saya. Bukan disuruh bantu mengecat, tapi minta koran bekas supaya lantai nggak kotor kena cat.

14 pemikiran pada “Paperless

  1. Kami juga masih berlangganan koran mas, hampir seluruh tetangga di sini juga berlangganan, tiap hari rabu dna minggu dpt 2 koran lainnya yg berbeda secara gratis

      1. iya mas, di sini selain koran berbayar, sering dpt koran gratis, buletin juga dari desa desa sekitar, kadang juga dapat koran museum, juga gratis

        yang pas bersalju itu ya mas, loper korannya gadis remaja, itu yg ngantar koran gratis tiap hari minggu

      2. Lengkap sekali korannya.
        Ya, fotonya waktu dia di depan pagar selesai antar koran. Wow, lopernya gadis remaja? Mungkin selain sekolah, dia juga punya kerja sambilan ya, mbak

      3. iya mas, khan sdh tak ceritakan di postingan kalau yg ngantar koran gratis seringnya anak anak sekolah, bangga kayaknya mereka bisa kerja, beda bgt ya sama di tanah air

      1. nggak pk, tidak bisa bacanya hi.hi.hi..
        seringnya ya masih baca yg paperless…
        tp kalau pas pulang sering beli koran, meski nggak langganan😀

  2. Keunggulan dari berita online itu selalu update, hampir setiap menit ada berita baru.
    Dimanapun, kita bisa lihat berita baru lewat internet.

    Tapi untuk koran kertas, Ayah saya lebih suka karena sudah berlangganan, dan yg pasti banyak manfaatnya juga koran bekas kalo ada tugas tinggal ngambil😀

    1. Bener banget, untuk kecepatan dan kemudahan akses, berita online lebih unggul. Juga aneka ragam beritanya.

      Kesukaan ayahnya sama dgnku dong, masih sama2 baca koran kertas. Maklum, kami lahir dan besar di jaman offline🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s