Biaya Rindu

Rabu dini hari, 30 Januari  jam 00.03. Mata masih segar dan belum mau istirahat.

Karena terlalu lelah, Selasa jam 19.30 habis makan malam udah langsung tepar dan bablas ketiduran.

Suara SMS tiba-tiba membangunkan saya. Dari nomor yang nggak saya kenal, jadi saya tanya balik. Rupanya dari teman SMA yang tinggal di Bekasi. Terus dia tanya kabar, kondisi disini aman atau nggak. Juga ngasih tau kalau adiknya sekarang ini kerja di Pontianak. Dapat tugas untuk kirim alat-alat untuk ngebor.

Telanjur bangun setelah tidur 1,5 jam dan balas SMS, mau ngapain lagi  enaknya malam-malam. Ah, telepon mamanya Dea. Kali-kali aja belum tidur. Dan ternyata benar, dia baru saja nemenin anak-anak belajar.

Sebagai penganut LDR, yang namanya nelpon keluarga kadang2 bisa sejam sampai kuping terasa panas. Kalau banyak yang mau diobrolin, minimal 30 menit.

Macam macam topik yang diomongin, mulai dari juru foto yang tadi siang antar album ke rumah, tawaran adik ipar yang ngajak bisnis tas, ajak andra dan nabil jalan sore, sampai cerita kelas dea yang dapat kursi baru dari kelas RSBI.

Jadi nggak berlaku itu slogan bicara seperlunya. Karena setiap topik menarik untuk diobrolin.

Nggak heran untuk mengobati LDR alias Letih Dilanda Rindu, biaya pulsa telpon sering membengkak. Gak apa-apalah,  demi keluarga ytc.

Bukankah kerja dan cari nafkah itu untuk keluarga juga?

8 pemikiran pada “Biaya Rindu

      1. Tiap hubungi dia, malah tidak bisa ngomong pak. Selalu ada rasa sedih dan kangen yang muncul kalau dengar suaranya. Jadi bingung saya pak, ga dihubungi rindu, ga dihubungi makin rindu. -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s