Meniti Jembatan

IMG00761-20121112-0906

Meski sudah belasan tahun di Kalimantan, mata serasa berkunang-kunang kalau harus berjalan meniti jembatan kayu bulat. Kalau jembatannya dari papan dan balok masih mendingan dan berani lewat. Tapi kalau sudah jembatan kayu bulat yang lebar lantainya  cuma seukuran tapak kaki, nanti dulu ah.

Ini seperti yang saya alami ketika satu jembatan runtuh akibat banjir di bulan Nopember 2012 lalu. Hujan deras sejak sore hari hingga malam menyebabkan sungai meluap dan merobohkan jembatan. Ruas jalan utama pun terputus.

Jika masih tetap ingin melanjutkan perjalanan, pilihannya cuma ada dua. Pertama, meniti batang kayu bulat sepanjang 10 meter di atas sungai. Kedua, menyeberang menggunakan rakit.

Alternatif pertama saya coba. Setapak demi setapak, coba berjalan di pangkal batang kayu bulat. Makin ke tengah, gerakan kaki terasa makin berat dan melambat. Akhirnya… ups terhenti juga jejak kaki. Masyarakat yang melihat saya berdiri mematung, berteriak menyemangati, ”Jangan lihat bawah, Pak. Terus saja jalan lihat ke depan”.

Teriakan masyarakat nggak mampu mendongkrak nyali untuk melanjutkan langkah hingga ke seberang. Belum sampai separuhnya, keringat dingin mulai mengalir, mata pun berkunang-kunang. Waktu meniti jembatan, pikiran nggak bisa fokus dan udah bayangkan yang nggak-nggak. Daripada jatuh ke sungai, akhirnya  balik lagi ketempat semula.

Pilihan kedua juga yang akhirnya diambil. Meski harus turun ke sungai dan membayar ongkos jasa rakit 10 ribu rupiah. Itu lebih baik, daripada saya harus berkeringat dingin dan mata berkunang-kunang meniti jembatan.

Bagi warga sekitar, meniti batang kayu bulat sudah seperti berjalan di permukaan tanah. Tanpa ragu dan khawatir terjatuh, mereka melenggang sambil membawa barang-barang. Melihat mereka berjalan, seperti pemain sirkus yang meniti tali tambang di arena pertunjukan.

Robohnya jembatan dan terputusnya jalan, di satu sisi menjadi sumber rezeki tersendiri bagi mereka. Warga begitu jeli dan kreatif melihat peluang usaha. Ada yang menawarkan jasa membawa barang melewati titian jembatan,  ada juga yang menyiapkan rakit dan siap mengantar penumpang ke seberang.

Kalau dipikir-pikir, selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Hikmah yang dapat berbuah menjadi sumber rezeki yang tak terduga-duga. Menolong orang lain sambil berusaha menjemput rezekinya. Terbukti, tak ada  peristiwa yang terjadi dengan sia-sia dan tanpa makna. Semua memang tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapinya.

Iklan

17 pemikiran pada “Meniti Jembatan

  1. Ely Meyer

    Ngenes aku mas lihat foto jembatan itu, kalau di sini pasti sudah ditutup tuh jembatannya, sangat berbahaya

  2. walah, jembatan dari kayu bulat gitu? klo 2 kayu dijejer aku masih berani deh. bener2 butuh keseimbangan tuh. tappiii… kayaknya waktu SD dulu, aku biasa nyebrang kali yang jembatannya cuman 1-2 watang ( batang bambu).
    sekarang mah nggak mau nyobain deh dari pada nyemplung.

    1. Jembatan yg satu ini memang urat nadi transportasi,mbak. Setelah terputus, cepat diperbaiki dan selesainya nggak sampai seminggu. Sekarang transportasi sudah normal kembali 🙂

  3. syukurlah bila jembatannya sudah selesai diperbaiki.
    saya liatnya aja udah ‘deg deg serr-seran’ apalagi kalau berjalan di atas batang jembatan itu..
    maklum saja, aku juga takut akan ketinggian..hehe

  4. jadi ingat jama SD dulu, kalau ke sekolah mesti nyebrang sungai yang cuma terdiri dari 2 batang bambu. Dengan tangan terentang untuk menjaga keseimbangan, menggeser kaki maju pelan-pelan. Untung juga ke sekolah “nyeker” jadinya kaki bisa nempel lekat di batang bambu.

    1. Kisah semasa anak-anak seperti itu memang sangat berkesan dan nggak terlupakan ya, mbak. Bisa jadi cerita menarik anak-anak kita saat ini yg belum pernah mengalami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s