Resign

Tinggal berjauhan dengan keluarga, terkadang tak bisa dihindari dalam hidup ini. Termasuk bagi yang sudah bekerja. Di sisi lain, hal itu juga dapat menjadi penyebab seseorang memutuskan untuk resign.

Seperti salah seorang teman, sebut saja si A, akhirnya kembali ke Jawa setelah kurang lebih tiga tahun bekerja di lapangan. Sang istri keberatan kalau harus tinggal berjauhan. Dia bekerja di Jawa, sementara suaminya di Kalimantan.

Akhirnya, sang suami yang mengalah. Mengundurkan diri baik-baik dan pulang untuk mendekatkan jarak dengan keluarga, istri tercinta.

Perkenalan mereka terjadi di tempat kerja, ketika berawal dari kunjungan tamu. Sang istri yang baru dikenalnya, saat itu sebagai tamu sekaligus guide para peneliti dari negeri matahari terbit. Dari mulai kenalan, sama-sama mendampingi tamu, akhirnya tumbuh benih cinta di antara keduanya.

Setelah menikah, sang suami kembali ke tempat kerja dan sang istripun tetap bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di Jawa. Mereka menjalani awal-awal masa pernikahan dengan tinggal terpisah.

Hingga akhirnya keterpisahan itu justru makin menguatkan tekad mereka untuk bisa berkumpul kembali. Keputusan si A untuk pulang sudah bulat, demi istri tercinta. Saran dari pimpinannya agar pikir-pikir lagi dengan keputusan itu, tetap tidak mampu menahannya untuk resign.

Dalam kisah lain, resign juga bisa disebabkan keinginan orangtua.

Sebagai contoh, si B, salah seorang teman kerja juga. Istrinya tinggal bersama-sama di tempat kerja sang suami. Istri yang dikenal ketika melakukan praktek lapangan. Setelah lulus dan bekerja, akhirnya sang istri mengalah dan menyusul suami ke tempat kerja. Buah hati tercinta pun telah hadir di tengah rumah tangga mereka.

Namun, setahun yang lalu, sang suami memutuskan untuk resign. Karena pihak orangtua istri menawarkan pekerjaan bagi menantunya. Bapak mertua bela-belain mencarikan lowongan kerja bagi menantu lelakinya. Mungkin ada keinginan orangtua, agar tetap bisa dekat dengan anak, menantu dan cucunya.

Saat ini bukan hal yang aneh, bila pasangan suami istri harus berpisah tempat karena faktor pekerjaan. Masing-masing bekerja di kota yang berbeda dan terpisah jarak.

Tak mudah memang tinggal berjauhan dengan pasangan hidup. Apalagi bagi yang baru menikah. Rasa rindu hanya mampu terobati dengan mendengar suaranya di telepon atau melihat wajahnya di skype.

Sekali telpon, tak cukup lima atau sepuluh menit. Karena begitu banyak yang ingin diungkapkan oleh suami. Dan juga tak sedikit cerita yang ingin disampaikan sang istri. Belum lagi jika terjadi permasalahan yang perlu segera diatasi.

Hidup tak lepas dari keterampilan dalam memilih dan mengambil keputusan. Termasuk bagi pasangan yang ingin membina bahtera rumah tangga. Bagi istri yang tidak bekerja, biasanya nggak terlalu susah untuk memutuskan tinggal di mana. Karena dia cenderung mengikuti dimana suaminya bekerja.

Namun bagi keduanya yang bekerja, perlu ada kompromi apakah sang suami yang mengalah, atau sang istri yang mengikuti suami. Bahkan, ada juga yang memilih menjalani kehidupan seperti sebelum berkeluarga, tetap bekerja di kota yang berbeda dan tinggal berjauhan satu sama lainnya.

Tak perlu ada yang disesali dengan setiap pilihan yang telah diambil dan dijalani.
Karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan, memiliki konsekuensi dan risiko yang harus dihadapi.

20 pemikiran pada “Resign

  1. Saya jadi inget saat menikah dulu mas, suami tanya mau tinggal di mana, di sana apa di sini, aku jawabnya sih ikut suami, walau andai aku bilang tinggal di tanah air dia juga bakal nurut ,krn yg penting itu mnrtku sama sama nyaman buat suami istri, kalau aku terus terang nggak bisa mas berjauhan sama suami, begitu juga dia. Salut sama mereka yg sdh menikah dan hrs berjauhan krn bisa mengelola rindu🙂

    1. Wah, salut juga dgn keputusannya,mbak. Penuh dialog dan rasa toleransi yg tinggi.Ada kompromi dan tidak ingin memaksakan pendapat.Terlihat kalau mbak Ely dan suami sudah saling pengertian dan memahami satu sama lain. 🙂

      1. sama-sama ya, mbak. btw …makasih jg postingannya udah diterbitkan di dunia Ely… sambutannya wow… luar biasa.. hitung2 tambah kawan, mbak🙂

      2. sama sama mas, terima kasih byk juga sdh menulis di blog ku🙂
        temannya bertambah nggak hanya saat ini saja mas, insya Allah ke depannya akan juga bertambah🙂

  2. setuju sama kalimat terakhirnya mas.
    apapun yang dah dipilih – hendaknya menjalaninya dengan penuh semangat, penuh tanggung jawab.

  3. betul sekali, setiap pilihan ada konsekuensinya. Daripada “meratapi” jarak yang jauh, lebih baik ambil sisi positifnya. Dengan saling berjauhan, masing2 akan jadi lebih mandiri

    1. Sepakat, mbak Nanik. Setiap pilihan tetap ada sisi positipnya. Bagi yg berjauhan memang terasa lebih mandiri, dan juga kadang2 dipaksa harus cepat ambil keputusan kalau ada masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s