Ikut Workshop

IMG00905-20130306-0756

Cerita ini masih kelanjutan dari postingan sebelumnya, baik Kipas Koran maupun Mumet dan Mual. Karena satu dengan lainnya saling bersambung. Di postingan Mumet dan Mual, ada cerita sekilas tentang persiapan untuk ikut workshop tanggal 5-6 Maret di Pontianak. Nah, kali ini, saya teruskan cerita tentang ikut workshop itu.

Bukan sekadar ikut sebagai peserta, lho. Tapi juga diminta tampil sebagai penyaji materi sekaligus pembicara di workshop yang diadakan di Uninersitas Tanjungpura (Untan). Temanya  Forestry and Local People “Toward A Joint Use and Management of Tropical Rain Forest, Indonesia”.

IMG00906-20130306-0759

Organizing Committee yang minta supaya dari pihak perusahaan yang menjadi lokasi riset, ada wakil yang menyampaikan presentasi. Di tempat kerja memang menjalin kerjasama dengan Kyoto University selama 3 tahun. Perguruan tinggi itu juga menggandeng perguruan tinggi lain dari dalam negeri seperrti IPB, UGM, Untan dan  LIPI sebagai counterpart dari Indonesia.

Menjelang kerjasama berakhir pada akhir bulan ini, panitia mengadakan workshop untuk mempresentasikan hasil-hasil riset yang telah dilakukan para peneliti sekaligus dosen dari masing-masing perguruan tinggi.

Menyampaikan presentasi bukanlah hal yang asing bagi saya. Kalau presentasi di lingkungan perusahaan sudah biasa. Karena tiap bulan salah satu tugas rutin memang menyajikan progres kegiatan dan permasalahan di hadapan manajemen cabang. Presentasi di level manajemen pusat juga sudah pernah, meski cuma sekali. Diminta untuk presentasi di depan instansi kehutanan propinsi, juga pernah mengalami.

Tapi diminta untuk presentasi dalam workshop internasional, wow baru pertama kali ini terjadi dan mudah-mudahan juga bukan yang terakhir. Ini benar-benar pengalaman yang menantang. Tampil sebagai penyaji materi dan pembicara di forum workshop international, di hadapan para akademisi dan peneliti.

IMG00918-20130306-1219

Dari tempat kerja ada tiga wakil yang diberikan kesempatan mengisi dua sesi. Dua wakil tampil di sesi pertama dan saya tampil di sesi kedua. Masing-masing diberi waktu 30 menit untuk presentasi.

Sementara tiga sesi lainnya diberikan kepada para peneliti dari lembaga-lembaga tersebut ditambah dari perwakilan NGO, yaitu WWF yang juga pernah melakukan survey populasi dan distribusi orangutan dan wau-wau di lokasi kerja.

Startegi pun mulai disusun. Kami bertiga berbagi tugas sesuai tema yang telah ditentukan panitia. Dua teman kerja diminta untuk menyiapkan  materi “Socio-economic condition and challenges in SBK Consession”. Sementara panitia meminta saya untuk menyajikan materi yang bertema “Intensive Forest Management System by SBK”.

Setelah materi dirancang, langkah berikutnya adalah latihan preentasi.  Maklum, karena baru pertama kali tampil di forum international, persiapan harus matang. Latihan presentasi dilakukan dua kali.

Latihan pertama masih banyak kekurangan. Mulai isi materi yang tampilannya kurang nyaman dibaca seperti angka dalam tabel yang terlalu kecil, data angka yang belum lengkap, sampai warna huruf atau angka yang kurang kontras dengan backgroundnya.

Itu belum lagi dengan teknis penyampaian materi. Pada latihan pertama tanggal 25 Pebruari, pembicara duduk sambil melihat laptop untuk menjelaskan isi materi. Padahal cara ini lebih sulit dibandingkan dengan berdiri dan melihat di layar. Karena si pembicara harus membagi fokus dari layar laptop, layar lebar dan mengklik tombol enter utuk perpindahan slide.

Kesalahan itu diperbaiki pada waktu latihan kedua tanggal 28 Pebruari. Pembicara tampil berdiri dan melihat layar lebar. Pointer laser digunakan untuk menunjuk obyek penting di layar, sementara perpindahan slide dilakukan oleh teman lain di depan laptop. Dan cara ini ternyata lebih efektif.

Disain slide, isi silde dan proses penyampaian materi pada latihan kedua jauh lebih baik. Terlihat kalau teman kerja yang jadi pembicara lebih rileks, nggak grogi dan percaya diri. Waktu saya mengomentari latihan  yang kedua ini lebih lancar, dia menjawab “ Malam-malam saya juga berusaha memahami isi slide dan cara nyampaikannya, Pak”.

Ooo.. rupanya selain latihan yang sudah dijadwalkan, mereka menambah sendiri di malam hari. Pantas baru sekali latihan dan banyak salah, waktu latihan kedua kok sudah lancar. Senang sekali punya teman kerja seperti itu. Mau menambah porsi latihan presentasi atas inisiatif sendiri, tanpa harus diminta atau disuruh-suruh.

Practice makes perfect. Latihan dan persiapan matang memang diperlukan untuk tampil di sebuah acara. Agar kita tahu dimana letak kekurangannya. Dari situlah kita berupaya untuk memperbaiki, sehingga pada saat tampil, kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir.

Waktu presentasi berakhir, rasanya plong sekali. Puass banget…….. Terasa ada kebanggaan saat tampil menyampaikan materi di hadapan audiens. Gimana nggak, orang lapangan dan sehari-hari kerja di hutan ternyata bisa juga presentasi.

Apalagi waktu makan siang, salah seorang peneliti yang bergelar associate professor di Kyoto University bilang, bahan presentasi itu akan dijadikan bahan kuliah buat mahasiswanya di kampus.

Wow… benar-benar apresiasi yang tak pernah diduga dan dibayangkan. Ternyata, hasil karya dan presentasi kami dihargai. Materi presentasinya bahkan sampai diminta dan sekarang mungkin sudah berada di negeri matahari terbit. Cuma berharap aja…kira-kira kapan ya yang buat materinya juga  diundang ke sana?🙂

18 pemikiran pada “Ikut Workshop

  1. weeooo keren banget lho. lengkap wes, tertulis oke, verbal mantap.
    saya pernah bisa pidato di organisasi kecil aja senengnya minta ampun klo bisa lancar. apalagi even begini. sayangnya skrg dah nggak pernah pidato2an.
    sukses terus deh, tak doain beneran ke negri sakura.

    1. makasih mbak doanya. keterampilan pidato atau bicara di depan orang banyak memang penting. dan sebaiknya mulai diajarkan sejak anak-anak.
      pengalamannya kurang lebih sama, mbak.
      awalnya aku juga sering diminta pidato di lingkungan keluarga, terus ngasih sambutan acara perpisahan SD, acara pengajian atau kalau ada tamu yg datang di tempat kerja. lama kelamaan jadi terbiasa.
      sukses juga dgn pekerjaan dan keluarga mbak Ina

  2. Jadi inget pengalaman ikut lomba pidato – pertama kali dan satu-satunya. hehehe. Lomba pidato bahasa inggris pula. urutan 1. latihan di sekolah langsung lenyap begitu sampai di atas podium. karena beda banget rasanya. grogi.
    hehehehe.
    Tapi setuju mas. Practice makes perfects – or at least makes us brave enough to do it. hehehe.
    moga undangannya segera hadir.

    1. berani ikut lomba dan tampil di atas podium sudah bagus. tinggal perlu dibiasakan supaya nggak grogi. dulu waktu smp, saya termasuk yg suka gugup dan sering berkeringat, kalau disuruh maju ke dapan kelas untuk sekadar menceritakan kembali pelajaran yg sudah diberikan.
      Kalau sekarang apa masih sering diminta untuk pidato atau bicara di depan orang banyak, Bro?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s