Jangan Mudah Menyerah

“Alhamdulillah, sudah dapat tempat untuk jual tasku”kata istri via SMS beberapa hari lalu. Setelah beberapa cara ditempuh istri dan berujung pada kegagalan, akhirnya dapat tempat untuk menitipkan barang dagangannya. Produk berupa tas yang bisa dipakai untuk belanja, kondangan atau berwisata.

Langkah pertamanya menjual lewat arisan ibu-ibu yang diadakan di rumah, gagal total. Setelah ditawarkan, tak ada satu pun peserta arisan yang membeli produknya. Alasannya, mereka sudah punya tas dan saat ini belum perlu.

Lima belas tas yang dikirim dari Semarang dan Cirebon itu pun masih utuh di rumah. Lima tas kiriman dari ibu mertuanya dan sepuluh tas beli secara online.

Pada hari selanjutnya, upaya lainnya ditempuh istri. Mendatangi temannya yang punya toko kecil di lokasi yang baru berkembang. Setali tiga uang, temannya menolak dengan halus untuk dititipi dagangan.

“Sudah datang jauh-jauh, ternyata dia nggak mau terima”katanya. Menyerahkah dia? Enggak juga. Langkah berikutnya menawarkan ke tetangga sebelah rumah. Kebetulan dia memang punya usaha rias pengantin dan keluarga besarnya sering kumpul-kumpul untuk arisan.

Lima contoh tas pun diserahkan untuk ditawarkan ke saudara-saudaranya waktu arisan keluarga pada hari Minggu. Arisan kali ini giliran diadakan di rumah orangtuanya. Nggak jauh sih, cuma lima menit jalan kaki dari rumah kami.

Titik terang mulai tampak. Di luar dugaan, saat arisan di hari minggu itu, salah seorang anak tetangga tersebut siangnya datang ke rumah. Dia disuruh ibunya menanyakan masih ada nggak model tas yang seperti contoh yang dibawa. Sebuah tas dengan tiga warna.

Bergegas istri mengambil stok yang berada disamping lemari pakaian anak-anak. Diserahkannya satu buah tas sesuai yang diminta dan anak itu pun kembali ke rumah kakeknya.

Lumayan, ada dua orang yang tertarik untuk membelinya. Satu orang bayar kontan, satu lagi bayar dua kali.

Berarti masih ada tiga belas tas lagi yang belum terjual. Harus cari jalan agar barang-barang itu bisa terjual semua. Usaha dan ikhtiar sudah dilakukan istri. Doa-doa lewat sholat dhuha pun nggak lupa dipanjatkan.

Min haitsu la yahtasib. Jalan keluar yang nggak disangka-sangka itu akhirnya muncul. Berawal dari ketemu tetangga juga waktu istri belanja di warung, setelah mengantar anak-anak sekolah. Obrolan yang mulanya sekedar cerita tentang anak sekolah, keluarga, lama-lama akhirnya menjurus ke urusan dagang.

Dengan antusias, tetangga yang anaknya satu sekolah dengan anak kami itu malah meminta supaya stok barang yang ada di rumah dibawa ke tokonya.

Setelah pertemuan itu, istri pun menyerahkan contoh barang ke rumahnya. Dan di luar dugaan, dia juga meminta istri supaya nggak cuma barang itu saja yang dititipkan. “Semuanya bawa saja ke sini, Bu. Kalau ada barang lainnya seperti suvenir, saya juga terima”pintanya.

Nggak hanya itu tawaran yang dia berikan. Dia juga banyak berbagi ilmu tentang gimana membuat produk untuk dijual. Semuanya diberikan gratis untuk istri. “Kalau mau bikin suvenir, ibu bisa saja beli bahannya di Jawa, kemudian dibuat di sini. Banyak yang cari suvenir untuk pernikahan”katanya.

“Jarang lho Mas, ada orang seperti itu. Dia nggak pelit dengan ilmu yang dimiliki. Dia nggak merasa tersaingi kalau ada orang lain mau nitip barang ke tokonya. Malah saya diajari gimana buat produk yang khas yang biasa dicari orang” kata istri lewat telpon ketika kami punya waktu luang untuk mengobrol.

“Terus pembagian untungnya gimana?” tanya saya.

“Nah itu dia, waktu ditanya nanti gimana pembagian keuntungannya, dia bilang semua hasilnya akan disetor ke saya. Terserah saya katanya. Cuma saya tetap akan kasih dia persentase dari barang yang terjual” kata istri.

Memang nggak mudah menemukan orang seperti itu. Sudah mau membantu menyediakan tempat untuk jualan, mengajari supaya membuat variasi produk, ditambah lagi nggak mau menentukan persentase keuntungan.

Benar-benar salut dan angkat jempol mendengar ceritanya.

Iklan

25 pemikiran pada “Jangan Mudah Menyerah

  1. Dunia Ely

    orang yg mas ceritakan di atas itu malah sumber rejekinya mengalir terus ya mas mnrtku, beruntung kalau kita punya teman spt beliau ya mas , soalnya memang nggak mudah menemukannya 🙂

  2. never give up… kadang, di saat rasa lelah menyerbu, kesuksesan sebenarnya tinggal satu langkah lagi dari posisi sekarang.

    Hebat nih mas… terus usaha.

    1. tepat sekali Bro Ryan. ibarat pelari, perlu kesabaran dan daya tahan ekstra supaya bisa sampai garis finish.
      istri yg punya usaha itu, Mas. lumayan,untuk tambahan penghasilan keluarga sekalian membantu memasarkan produk dalam negeri

  3. pokoknya saya selalu salut ama orang yang mau berusaha. walaupun saya belum menemukan bakat dagang, tapi saya tuh percaya banget jika terus berusaha, walau awalnya dicuekin, orang tetap ingat koq apa yg sudah kita lakukan. so suatu saat mereka butuh, mereka datang2 sendiri menanyakan.
    jadi jerih payah kita pertama kali tadi sebagai promosi juga.

  4. saya paham betul itu bagaimana kecemasan ketika menyetok barang dan masih bingung cara ngejualnya hehehe…terus berusaha ntar pasti ketemu jalannya…saya doain sisa tasnya yg belum laku segera laku dan restock lagi 😀

    1. makasih banyak saran dan doanya, Nal. untuk urusan gimana ngabisin stock barang dan restock, memang harus belajar sama yg lebih pengalaman spt kamu, Bro 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s