Ceritakanlah Apa yang Dirasakan

Bertemu orang baru senantiasa mengasyikkan. Pasti ada pengetahuan atau ilmu baru yang saya dapatkan. Tak terkecuali, waktu ngobrol dengan karyawan baru yang sebelumnya pernah mengajar di sekolah internasional di Jakarta.

Setiap kali bertemu orang baru, biasanya saya menempatkan diri pada posisi aktif bertanya dan mendengar. Ini yang terkadang membuat pembicaraan tanpa terasa berlangsung berjam-jam. Demikian juga dengan karyawan baru yang sekarang memutuskan terjun ke bidang pekerjaan yang sesuai latar belakang pendidikannya.

“Dulu waktu saya masih mengajar di sekolah dasar, setiap hari Jumat, murid-murid diberikan kesempatan untuk bercerita, Pak. Telling story”katanya.

“Cerita apa?”tanya saya. Kemudian dia menjelaskan dengan panjang lebar.

Oleh gurunya, murid-murid secara bergantian diminta bercerita apa yang dia rasakan selama seminggu mengikuti pelajaran. Bisa juga dia bercerita tentang keluarganya atau saudara-saudaranya. Intinya, apa yang dia rasakan termasuk yang menyebabkan dirinya tidak merasa nyaman, juga boleh diceritakan.

Selanjutnya, selesai murid tersebut bercerita, teman-temannya akan merespon. Ada yang bertanya, ada juga yang menyemangati bila ceritanya membuatnya sedih. Awalnya murid-murid memang enggan mengungkapkan apa yang dia rasakan. Apalagi di hadapan teman-teman dan gurunya. Namun dengan dorongan gurunya, murid-murid pun mau bercerita.

Metode yang memberikan kesempatan murid-murid bercerita yang dicontohkan rekan kerja tersebut memang memiliki banyak manfaat. Pertama,  anak-anak diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.

Anak juga didorong untuk tidak menyimpan ketidaknyamanan yang dia alami baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian jika pada saat itu terjadi sesuatu pada diri anak, misalkan bullying, teman-teman dan gurunya akan cepat mengetahui.

Manfaat yang kedua, adalah menanamkan rasa percaya diri murid. Tidak semua orang punya rasa percaya diri berbicara dan mengungkapkan perasaan atau gagasannya di depan orang banyak.

Dengan bercerita, murid-murid diberikan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan cara berbicara di depan kelas di hadapan teman-temannya.

Manfaat ketiga, bercerita secara psikologis juga dapat mengurangi beban psikis yang dialami anak-anak. Kita tak bisa menganggap karena mereka masih anak-anak, terus tak mungkin mengalami stress atau rasa kecemasan di dalam dirinya. Dengan bercerita, minimal dia telah mengeluarkan uneg-uneg atau ganjalan yang ada dalam hatinya.

Dia juga merasakan bahwa teman-teman dan gurunya memiliki empati atas kejadian yang dialami. Rasa kepedulian dari lingkungan sekitarnya yang ditunjukkan dengan bertanya atau dukungan bagi si anak.

Murid yang mengalami kejadian itu pun tidak merasa terasing dengan lingkungan sekitarnya. Dia tidak akan menganggap teman-temannya cuek dengan apa yang dia alami dan rasakan.

Metode murid bercerita atau bertutur kata ini memang belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah di negeri kita. Dalam proses belajar mengajar, kebanyakan masih bersifat satu arah. Guru menyampaikan pelajaran, murid lebih banyak mendengarkan dan mencatat. Sementara, kesempatan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan anak dengan bercerita, masih kurang.

Dari obrolannya, dia kelihatan terkesan dan dengan metode bercerita tersebut. Pengalaman selama mengajar di sekolah internasional, benar-benar memberikan pelajaran berharga yang tidak mudah dilupakan. Tak hanya itu, rekan kerja ini juga berkeinginan mencoba menerapkannya di sekolah dasar di desa sekitar tempat kerja saat ini.

Selain  membaca,  bercerita memang sebaiknya juga dibiasakan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar.

Iklan

25 pemikiran pada “Ceritakanlah Apa yang Dirasakan

      1. itu kesimpulan saya kalau baca postingan2 mbak Ika. terutama yg aktif di kegiatan2 sosial, ketemu warga masyarakat.
        nah di situ kan diperlukan kemampuan untuk bercerita, mbak. menyampaikan pemikiran dan gagasan kepada orang banyak 🙂

      2. He,,,he,,,jadi malu. Kalo bicara sama ibu2 kalo lurus2 aja pada tidur semua pak. harus banyak cerita, joke2 wis pokok e komplit pak.

        Satu hal yang saya syukuri saya belajar banyak hal dari mereka secara gratis. Memahami kultur, karakter, nilai2 hingga saya mampu memposisikan diri dalam setip kesempatan ketika bertemu dengan orang 🙂

      3. wah, pengalaman yg sangat berharga ya, mbak. bisa ketemu dengan berbagai macam karakter orang dan belajar dari mereka. ini pelajaran kehidupan yg nggak didapat dari sekolah 🙂

  1. Dunia Ely

    Wah, baca postingan di atas jadi kangen mengajar aku mas inget murid2ku yg dr tingkat SD sampai yg umum, bapak dan ibu karyawan 😛

    Kalau sudah dibiasakan sejak anak anak, maka anak anak nggak bakalan lagi sungkan ya mas dgn ornag tua utk curhat apa saja, termasuk ttg cinta mungkin:P

    1. wow, muridnya Mbak El dari segala umur rupanya, mulai anak-anak sampai orangtua. 🙂
      kalau beda umur gitu gimana cara mengajarnya, mbak?. metode penyampaiannya jelas beda ya. pasti banyak pengalaman waktu mengajar nih, mbak El.
      Setuju, mbak. Bercerita sebaiknya memang dibiasakan sejak anak-anak, spy nggak canggung atau sungkan untuk curhat masalah2nya, apalagi kalau sudah masuk masa puber 🙂

  2. Dunia Ely

    iya mas, memang nggak selalu sama metodenya, apalagi kalau pas hrs dtg mengajar ke karyawan karyawan di kantornya yg umurnya pantas jadi ibu dan bapakku,, tapi senang juga sih byk tantangan dan pengalaman, yg seru itu murid muridku yg lagi puber mas, jadi tempar curhat jg hihihihi 😛

    iya mas, sayang sekali kalau anak lbh percaya cerita ke org lain drprd ortunya sendiri, takutnya itu kl cerita ke org yg salah, berabe khan ?

    1. itulah enaknya punya kemampuan bahasa Inggris ya, mbak. apalagi kuliahnya ambil jurusan bahasa Inggris seperti mbak El. bisa ngajar untuk anak-anak, remaja sampai orang tua. sekalian nyambi jadi konselor untuk abg-abg 🙂

      1. Dunia Ely

        bener mas, dulu nggak pernah mikir mau jad pengajar, tapi skrg inggrisku sdh kecampur campur sama bhs sini mas 😦

    1. harapannya bisa seperti itu, mbak. jadi siswa-siwa yg belajar di sekolah tidak hanya menghapal mata pelajaran, tapi juga punya keterampilan untuk mengungkapkan gagasan atau perasaannya.

      setiap pelajaran memungkinkan untuk disisipkan keterampilan bercerita tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s