Terjebak Kebiasaan

Biasanya seminggu 2-3 kali, saya latihan badminton sore hari sehabis kerja. Bukan bermain single tapi double, maklum kepala sudah kepala empat. Berat kalau harus main single. Baru satu set, napas sudah ngos-ngosan.

Setiap kali bertanding, saya termasuk pemain yang paling jarang melakukan smash. Padahal namanya olahraga badminton, pukulan smash itu salah satu andalan untuk dapat poin. Apalagi dengan sitem rally point.

Kalau dihitung, setiap set paling-paling hanya 3-4 kali melakukan smash. Termasuk sedikit banget ya. Cuma kalau urusan mengembalikan smash, kawan ada yang bilang kalau saya termasuk unggul dibanding pemain yang lain. Ini mungkin yang disebut tipe pemain bertahan. Smash kurang tapi pertahanan bagus.

Nggak tahu apa sebabnya, kalau olahraga yang mengandalkan smash, seperti badminton atau volley ball, tangan saya termasuk kurang terampil. Terlihat aneh dan kaku kalau memukul bola volley atau shuttle cock.

Beda dengan main sepakbola atau futsal. Kaki ini terasa lebih hidup untuk mengumpan atau menendang ke arah gawang. Meski badan kurus, tetapi beberapa teman mengakui kalau tendangan kaki saya waktu main futsal termasuk keras.

Makanya nggak heran, setiap kali main badminton, pemain lawan sering kasih bola tanggung. Mereka berpikir bola nggak bakal dismash dan dikembalikan dengan  pukulan dropshot di depan net atau lob sampai garis belakang.

Tapi minggu ini mereka terkejut. “Wah, mainnya sekarang lebih garang dan sering menyerang, Pak. Banyak smashnya dan sering masuk”kata salah satu kawan.

Rupanya mereka masih menganggap permainan saya masih seperti sebelumnya. Banyak bertahan dan jarang menyerang. Sering main reli dan jarang melakukan smash.

Dan waktu saya ganti pola permainan, mereka nggak siap. Masih sering kasih bola-bola tanggung yang jadi makanan empuk untuk dismash. Dengan cara seperti ini, banyak melakukan smash memang lebih menguras tenaga, tapi poin pun sering didapat. Otomatis peluang untuk menang juga makin besar.

Kadang-kadang, dalam hidup ini kita juga pernah terjebak dengan kebiasaan orang lain. Tidak menduga kalau orang lain juga bisa berubah kebiasaan dan perilakunya.

Mengamati perubahan kebiasaan dan perilaku orang lain, tidak ada salahnya kita lakukan. Agar kita juga tahu, apa langkah selanjutnya yang harus diambil menghadapi perubahan itu.

12 pemikiran pada “Terjebak Kebiasaan

  1. sama kayak bapak saya mas…seneng bgt main bulu tangkis…kalo mas kan salah satu hobi..kalo bapak saya cuma bulutangkis olahraga yg dia bisa hehee😛
    #smogaakugakkualat😀

    1. wow…ayahanda sampai sekarang masih bulutangkis juga. berarti fisiknya masih bagus tuh.
      tapi kalau yg namanya udah senang gimana lagi ya🙂
      kalau sudah terbiasa olahraga, lama nggak latihan, badan terasa pegal-pegal, Nal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s