Cuti Mendadak (2)

Sepanjang perjalanan, saya lihat supir menjalankan kendaraan agak slow meski jalan sepi. Jarum speedometer Innova bergerak antara 60-80 km/jam.

“Nggak bisa lebih cepat dikit?” pinta saya

“Tadi malam saya barusan antar penumpang dari Ponti ke Pinoh, pak. Tidur nggak sampai dua jam, terus disuruh bawa kendaraan lagi ke Ponti”, kata supir.

“Nanti kalau singgah di rumah makan, saya istirahat sebentar ya, Pak”, sambungnya.

Setelah tahu kondisi fisik sopir seperti itu, saya pun nggak bisa maksa dia lebih cepat bawa mobil. Sangat beresiko terjadi kecelakaan.

“Nanti kalau mengantuk, bilang ya”, saya ingatkan dia.

Masalah nggak selesai sampai di situ.

Saya juga baru tahu, rupanya jarum indikator BBM di dashboard hampir menyentuh huruf E, alias BBM tinggal sedikit.

“Kenapa  waktu di Pinoh nggak isi solar dulu?”, tanya saya

“BBM di SPBU habis, pak”, jawabnya.

“Terus nanti mau diisi dimana?”

” Setelah simpang Pinoh – Sintang, pak”

“Itu kan masih satu jam lagi, nggak bakal cukup BBMnya. Bisa-bisa kita mogok di jalan gara-gara habis bensin”. Kamu mau susah-susah cari minyak kalau mobil mogok. Udah, beli eceran saja di jalan, 5 atau 10 liter, nanti baru isi lagi di SPBU”,  saya sedikit memaksa.

Akhirnya, mau juga dia dengar omongan saya. Melihat penjual eceran bensin di tepi jalan, dia berhenti.

“Saya cuma beli 5 liter, pak. Mahal, seliter Rp 7.000. Biasanya saya beli eceran seliter Rp 5.500”, kata supir yang saya taksir berusia 20 – 25 tahun itu.

“Nggak apa-apa, yang penting isi dulu daripada habis di jalan. Kalau sampai mogok, malah bikin repot”, saya jelaskan.

Perjalanan pun dilanjut lagi.  Sampai di SPBU, mobil berhenti dan isi bensin lagi. Itupun nggak sampai full.

“Lho, kenapa nggak diisi penuh?”, tanya saya.

“Nanti di daerah Peniti, isi lagi pak”.

“Wah, rupanya begini trik dia  memanfaatkan waktu untuk istirahat. Berhenti di tempat-tempat tertentu  dan memejamkan mata sejenak”, kata saya dalam hati.

Dan ternyata dugaan saya nggak meleset. Waktu singgah di rumah makan sekitar jam satu siang,  dia memilih pesan minuman, rokok dan minta ijin tidur.  Sementara saya makan siang dan sholat dhuhur dan sekalian dijamak dengan ashar.

Termasuk juga ketika mengisi lagi bensin di Peniti. Sambil menunggu saya selesai dari toilet, dia memanfaatkan waktu untuk mengisap rokok.

Demikian juga ketika singgah makan malam di Sosok sekitar jam setengah tujuh malam. Sewaktu saya menikmati makan malam dan sekaligus sholat maghrib, dia cuma pesan kopi dan kembali mengisap rokok.

“Kalau sudah jalan jauh gini, saya cukup minum kopi dan ngerokok, Pak. Makan cukup  di Pinoh “, jelasnya

Satu jam perjalanan dari Sosok, tiba-tiba dia merasakan mobil jalannya nggak stabil.

” Kayaknya ban depan kanan bocor, Pak”, katanya sambil memegang kemudi.

“Coba berhenti dan dicek dulu”, kata saya.

Dan ternyata benar, ban depan kanan kempes. Satu masalah selesai, dalam hitungan jam, muncul lagi masalah baru. Dan yg bikin saya kaget… Ya Robbana, ternyata dia nggak bawa ban serep lagi.

Geleng-geleng kepala saya, kesal campur jengkel jadi satu. Benar-benar nekat nih sopir. Perjalanan sekitar 550 km tanpa bawa ban serep, malam hari lagi.

Tapi masih untung, sekitar 50 meter dari mobil berhenti, ada tempat tambal ban motor meski sudah tutup.

Ide pun muncul. Setelah melepas ban, kami berdua pergi ke tempat tambal ban dan bertanya dimana lokasi tambal ban mobil.

“Di sini, tempat tambal ban mobil yang dekat di mana, Pak”, tanya saya

Si pemilik bilang, “Ada tapi tempatya jauh, sekitar dua kilo dari sini”.

Saya bilang, “Gini aja, Bapak tolong antar dia ke tempat itu pakai motor  bapak untuk tambal ban, biar saya di sini jaga mobil”

Bagi-bagi tugas pun dimulai. Mereka berdua naik motor sambil bawa ban yang bocor, saya menunggu di tempat tambal motor itu.

Sambil menunggu, saya hubungi istri yang sudah dirawat inap di rumah sakit dan Nadia, anak sulung baru saja UN SMP yang masih di rumah dan menunggu saya datang.

Rencana awalnya, sampai di Ponti sekitar jam 8 malam, mandi terus ke RS. Gara-gara ban mobil bocor, rencana pun harus diubah.

Saya bilang ke Nadia, “Sampai di Ponti  langsung ke RS. Nadia dan dua adiknya, Aysha dan Andra, naik taksi saja ke RS. Nanti kita ketemu di sana, karena perjalanan masih 3 jam lagi”.

” Ya, Pa. Nadia pesan taksi sekarang”, jawabnya

Satu jam kemudian, supir dan pemilik tambal motor pun tiba. Bergegas ban dipasang dan perjalanan dilanjutkan kembali.

“Sekitar jam 12 malam, baru sampai Ponti, Pak”,katanya

“Nanti langsung antar ke RS saja, nggak usah ke rumah lagi”, balas saya.

Sepanjang tiga jam perjalanan, dia banyak cerita kalau sebenarnya dia nggak mau kerja jadi supir mobil carteran. Sebelumnya dia kerja jadi karyawan. Ibunya yang memintanya supaya meneruskan kerjaan bapaknya, sebagai supir mobil carteran luar kota.

Ibunya menasehati supaya dia bisa gantikan bapaknya, jadi supir di tempat carter mobil yang sama.

Hatinya pun akhirnya luluh dan dia ganti pekerjaan, dari karyawan jadi supir.

Setelah memasuki kota Pontianak, saya bilang, “Selesai dari rumah sakit, tolong antar saya dan anak-anak ke rumah ya”.

Dia menyanggupi asalkan ada ongkos tambahannya. Saya terima permintaannya,  dengan pertimbangan nggak mudah kalau harus cari taksi di waktu larut malam.

Jam 12 malam lewat 15 menit, mobil memasuki halaman parkir IGD, saya pun bergegas naik ke lantai 3.

Setelah masuk, saya lihat Nadia yang masih duduk terjaga di samping ibunya, sementara ibunya dan ketiga adiknya sudah terlelap.

Sambil berbisik ke telinga istri, saya bilang, “Maaf, datangnya terlambat”. Dia masih tertidur dengan infus di tangan kanan.

Lalu saya bangunkan Aysha dan Andra pelan-pelan,  saya ajak untuk pulang ke rumah. Sementara Nadia menginap di RS, menunggui ibu dan adik bungsunya, Nabil.

Bagaimana cerita waktu giliran tugas jaga di rumah sakit, mempelajari data hasil cek darah dan pergerakan trombositnya, serta  mengurus surat untuk fogging? Termasuk apa saja yg harus dilakukan ketika terserang DBD?

Ceritanya masih berlanjut dan semua pengalaman itu ada di postingan berikutnya…sabar menunggu ya….

10 pemikiran pada “Cuti Mendadak (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s