Cuti Mendadak (3-Habis)

Pagi hari 1 Mei, setelah mengantar Andra dan Aysha ke sekolah, saya ke rumah sakit lagi.

Tanggal 30 April dan 1 Mei, Nadia yang minta supaya bisa jaga di rumah sakit, karena waktunya agak longgar setelah UN SMP.

Hari ketiga tanggal 2 Mei, giliran Aysha yang bertugas. Kalau mereka di rumah sakit, saya yang kebagian di rumah dan tugas antar jemput Andra ke sekolah.

Tanggal 3 Mei, semuanya tidur di rumah karena capai. Tanggal 4 Mei, giliran saya yang jaga di rumah sakit. Jadi kami bertiga yang bergantian tugas jaga di rumah sakit. Ini terpaksa dilakukan karena kami di Pontianak adalah perantau dan tidak ada keluarga atau sanak saudara.

Keluarga di Jawa, baik orangtua saya maupun bapak ibu mertua dan saudara nggak bisa ke Pontianak. Apalagi di rumah, kami juga nggak ada asisten rumah tangga. Terbayang ‘kan? Gimana repotnya mendampingi dua orang yang sakit di rumah sakit.

Nadia, sulung kelas 9 yang seminggu sebelumnya ikut UN. Aysha, anak kedua yang baru kelas 6 dan tanggal 6-8 Mei juga mengikuti UN  terpaksa dilibatkan dalam tugas jaga ini. Sementara itu, kesempatan Andra menengok adik dan ibunya setelah pulang sekolah. Saya yang harus bolak-balik rumah – rumah sakit – sekolah.

Pernah ada peristiwa yang mengharukan. Waktu Andra menengok ibu dan adiknya hingga malam, dia tertidur di rumah sakit. Waktu dia dibangunkan karena harus pulang, dia nggak mau dan meronta-ronta ingin tetap tidur di rumah sakit.

Saya bujuk dia, “Besok pagi Andra harus sekolah. Jadi sekarang pulang dulu, besok kita nengok mama dan Nabil lagi”. Agak lama saya, Aysha dan Nadia membujuk dia agar mau pulang dan tidur di rumah.

Cerita lainnya waktu istri dan anak masuk rumah sakit dan cari kamar, ada juga kejadian menarik. Hampir saja mereka dapat kamar yang berbeda. Terus istri bilang ke perawat, minta supaya dia dan Nabil bisa satu kamar.

Rupanya ada aturan di rumah sakit. Kalau di kelas I, sebut saja ruang Melati, hanya khusus untuk pasien orang dewasa. Sementara anak-anak di kelas II dan III, sebut saja ruang bogenvil dan teratai atau sekalian di VIP Kids.

Istri saya coba minta kebijakan ke pihak rumah sakit supaya dia dan Nabil kamarnya nggak terpisah. Karena kalau sampai Nabil di kamar atau kelas lain, susah untuk menjaganya. Nggak hanya itu, yang nungguin juga harus dua orang.

Pihak rumah sakit akhirnya membolehkan istri dan Nabil dirawat di kamar yang sama.

Pantas, waktu saya minta surat keterangan dari dokter untuk fogging, ada perawat yang heran dan bertanya :

“Anaknya umur berapa tahun?”

“Tujuh tahun”, jawab saya

Staf lain di ruang perawat ada yang nyeletuk,”Anak-anak kok dirawat di ruang Melati?”

Agak kesal saya jawab,”Yang sakit nggak cuma anaknya, tapi juga ibunya”.

“Ooo, jadi ibunya juga sakit dan dirawat di satu kamar”,katanya.

“Ini surat keterangan untuk fogging, nanti minta capnya di kasir”,kata staf lainnya di ruang perawat sambil menyerahkan dua lembar surat ke saya.

Bisa dibayangkan, dalam kondisi fisik yang lemas dan trombosit yang semakin drop, istri masih harus sedikit berdebat agar bisa dirawat di ruang yang sama dengan Nabil.

Kata istri waktu berangsur sembuh,”Penanganan pasien DBD seperti berpacu dengan waktu. Seperti berlomba dengan virus yang menyebabkan trombosit merosot drastis”.

Benar apa yang dikatakan istri. Karena penurunan trombosit itu tak hanya dalam hitungan hari, tapi jam.
Pernah saya hitung, dalam waktu satu jam, penurunannya bisa antara 4 – 5 ribu poin.

Trombosit istri

Data ini saya dapatkan waktu istri pertama cek darah. Masih sekitar 138 ribu pada tanggal 30 sekitar jam 12 siang. Besoknya, 24 jam kemudian sudah turun jadi 40 ribu. Jauh di bawah standar atau nilai rujukannya yaitu 125 – 400 ribu. Ini yang terkadang kurang disadari oleh keluarga pasien DBD, dan yang membedakan demam DBD dengan demam biasa atau demam typhoid/ typus.

Gejala DBD jangan dianggap seperti demam biasa dan disepelekan. Pengalaman istri dan anak, bila sudah dua hari demam dan minum obat dari dokter ternyata tak ada perubahan, sebaiknya langsung cek darah untuk memastikan jumlah trombositnya. Biayanya sekitar 40 – 60 ribu (cek jumlah trombosit, leukosit, eritrosit, Hb).

Dari hasil cek darah, kita tahu berapa kondisi terakhir trombositnya. Bila jumlahnya di bawah 125 ribu, trombosit akan cenderung terus menurun dan berarti kemungkinan terserang DBD.

Seperti waktu istri sudah minum obat dari dokter, tapi suhu badannya nggak turun, bahkan waktu dibawa ke IGD mencapai 40ᴼC. Sama dengan suhu badannya Nabil.

Demam DBD juga terkadang mengecoh kita. Bisa saja setelah minum obat dan suhu badannya turun, tapi secara fisik terlihat lebih lemah dan bukan kelihatan segar. Ini juga perlu diwaspadai, karena kemungkinan serangan DBD.

Seperti yang dialami ketika Aysha terserang DBD. Demamnya turun setelah malamnya minum obat dari dokter. Tapi anehnya, fisiknya terlihat masih lemas. Duduk pun terasa nggak mampu. Logikanya, kalau sudah minum obat, demam turun, badannya terlihat lebih segar.

Setelah cek darah di lab, terbukti kalau demamnya memang turun, tapi trombositnya juga merosot drastis.

Sebagai orangtua, kita memang harus jeli melihat perubahan fisik anak atau anggota keluarga kita yang terkena demam. Perhatikan dengan seksama perubahan fisik yang terjadi setelah minum obat dan jangan dianggap sepele. Jangan menunggu kondisi penderita bertambah parah, baru dibawa ke rumah sakit.

Keterlambatan penanganan penderita DBD bisa berakibat fatal. Menurut cerita teman kerja yang pernah kena DBD waktu SMA, bila kondisi penderita sudah parah : demam tinggi dan keluar darah dari hidung, transfusi darah sangat diperlukan. Seperti yang dia alami yang sampai dirawat inap selama 8 hari dan menghabiskan 7 kantong darah.

Masih untung, waktu itu Nabil dan ibunya segera setelah hasil cek darah menunjukkan penurunan trombosit, siangnya mereka langsung diantar tetangga ke IGD dan dirawat inap. Supaya cepat ditangani dan tidak menunggu hingga kondisinya parah.

Waktu ngobrol dengan tetangga yang bekerja di dinas kesehatan pada saat fogging, dia pernah membawa keponakannya yang terkena DBD ke rumah sakit dan kondisinya sudah parah. Namun pada saat dalam perjalanan, nyawanya tidak tertolong.

Hal yang juga perlu diperhatikan oleh penderita DBD adalah asupan makanan dan minuman tambahan pada saat dirawat inap di rumah sakit. Nabil dan ibunya memang sudah diinfus, diberikan suntikan antibiotik dan minum obat.

Waktu ada tetangga yang menjenguk, dia menyarankan agar minum juga sari kurma untuk menaikkan trombosit. Waktu itu saya beli harganya 25 ribu untuk botol kecil. Tak hanya itu, minuman kotak sari buah jambu biji, jus jambu biji yang buahnya warna merah, pocary sweat dan spirulina juga saya belikan untuk mendongkrak trombositnya.

bersiap pulang

Alhamdulillah, hari demi hari ternyata kondisinya membaik. Setelah lima hari dirawat inap, hari Minggu 5 Mei 2013, Nabil dan ibunya diperbolehkan dokter pulang ke rumah. Ini sesuai dengan harapan istri yang ingin keluar dari rumah sakit, sebelum Aysha mengikuti UN tanggal 6 Mei 2013. “Kasihan Aysha, kalau dia sampai harus belajar di rumah sakit waktu UN”, kata istri.

16 pemikiran pada “Cuti Mendadak (3-Habis)

  1. Alhamdulillah, akhirnya sembuah juga istri dan anak tercinta.
    Jadi mengingatkan saya ketika terkena demam berdarah yg turun sampai 30 ribu. Untunglah masih bisa disembuhkan dan kembali normal.

    salam
    Omjay

    1. Alhamdulillah Omjay, berkat pertolongan Allah, istri dan anak tercinta sembuh dan sehat kembali…
      Sempat cemas juga waktu trombositnya merosot sampai 40 ribu…
      Sempat dirawat inap juga omjay waktu terkena DBD?

  2. Syukurlah mas. sudah sembuh dua-duanya.
    bahaya DBD memang demamnya sama seperti demam biasa. tidak ada ada perbedaan, apalagi jika saat cek darah, trombositnya masih tidak turun tajam.

    1. Ini cerita sampai ke jilid 3, mbak🙂 baru kali ini saya bikin postingan bersambung…supaya infonya lengkap.

      Waktu itu dirumah sakit, saya banyak beli pocary, mbak….untuk jaga-jaga di rumah malah beli yg 2 liter… ini berdasarkan pengalaman lho mbak…

  3. lama tidak main kesini, ternyata istri dan anak habis kena DBD ya pk …
    syukurlah mereka sudah membaik …
    salut untuk kekompakannya dalam menghadapi saat-saat sulit ini …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s