Ketika Biaya Sekolah dan Harga Barang Merangkak Naik…

Jajanan Pagi

Dari berita yang saya baca di koran, pemerintah rencananya akan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat. Kenapa,? Karena harga premium dan solar yang  disubsidi, tiap tahun persentasenya dari APBN semakin meningkat.

Saat ini saja subsidi BBM telah menyedot 30% dari APBN. Nilainya sekitar 300 trilyun. Nah, kalau harga BBM naik, bisa dipastikan harga-harga barang dan jasa juga ikut-ikutan naik. Lha, harga BBM saja baru direncanakan naik, beberapa barang sudah naik duluan.

Dan kalau kenaikannya pada bulan Juni ini, bisa dipastikan pengeluaran tiap keluarga juga akan meningkat pesat. Kenapa demikian?

Bulan Juni ini biasanya identik dengan bulan pendaftaran sekolah. Bagi keluarga yang anak-anaknya daftar ulang karena naik kelas, maupun daftar baru karena lulus SD, SMP atau SMA, bersiap-siaplah merogoh kocek lebih dalam.

Belum lagi biaya beli pakaian seragam baru, pakaian olahraga, buku pelajaran, uang OSIS, uang ekstra kurikuler dan macam-macam biaya lainnya. Tambahan lagi kalau anak-anak ikut kursus atau bimbingan belajar.

Jangan lupa juga yang namanya biaya perpisahan.  Seperti yang dialami si sulung Nadia yang lulus SMP dan Aysha yang lulus SD.  Mereka perlu biaya lagi, karena pihak sekolah mengadakan acara perpisahan. Tempat perpisahannya pun nggak cuma di kelas, tapi sambil rekreasi ke pantai.

Sebenarnya acara seperti itu nggak terlalu perlu sih, lha nanti waktu SMP atau SMA kan bisa ketemu lagi dengan teman-temannya. Tapi Itu kan pendapat orangtua, yang belum tentu sejalan dengan keinginan  pihak sekolah dan murid-muridnya.

Jangan lupa,  biaya transportasi dari rumah ke sekolah juga  naik, kecuali yang udah biasa naik sepeda ke sekolah atau jalan kaki. Tapi, di kota-kota sekarang nampaknya jarang anak-anak berangkat ke sekolah naik sepeda apalagi jalan kaki. Biasanya naik bus, diantar keluarganya  pakai sepeda motor atau mobil atau malah bawa sepeda motor sendiri.

Beda dengan jaman saya sekolah dulu sekitar tahun 80-an. Mulai SD naik sepeda jengki, kemudian waktu SMP dan SMA naik sepeda balap. Kuliah baru naik sepeda motor.

Kenaikan harga barang dan biaya-biaya itu memang nggak bisa dihindari.

Kita sebagai warga masyarakat mau protes ke pemerintah supaya harga diturunin? Mimpi kali ya…Mau demo sampai turun ke jalan supaya biaya-biaya itu berkurang? Kayaknya cuma menghabiskan energi dan waktu saja…itu pun kalau direspon dan berhasil.

Terus gimana mengatasinya?

Daripada pusing memikirkan kenaikan biaya dan harga-harga barang, lebih baik kita fokus pada peningkatan pendapatan.

Harga boleh naik asallkan pendapatan juga meningkat. Kalau yang terjadi sebaliknya… bakal tekor terus tiap bulan. Jangankan untuk menabung atau investasi, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja sudah pontang-panting.

Terus, gimana cara supaya pendapatan bisa meningkat? Kalau seperti saya ini yang jadi karyawan, kalau harus menunggu naik gaji… ya kelamaan karena naiknya kan setahun sekali, capeek deh.

Pilihannya, yang pertama menghemat pengeluaran yang nggak perlu, contohnya merokok. Bagi para blogger perokok jangan tersinggung ya. Karena saya nggak merokok, sebenarnya ini sudah langkah nyata menghemat biaya.

Bayangkan kalau saya merokok, tiap hari habis sebungkus dan harganya 10 ribu. Sebulan habis 300 ribu. Karena tidak merokok,  tiap bulan saya bisa menghemat 300 ribu. Uang itu dialihkan untuk bayar SPP anak-anak. Lumayan lho, setahun bisa dapat dana tambahan 3,6 juta. Uang segitu, udah bisa dipakai untuk bayar uang pangkal atau uang gedung waktu anak daftar masuk sekolah.

Nggak hanya itu, dengan membiasakan diri tidak merokok, saya juga bisa menghemat biaya berobat yang muncul ketika saya terkena penyakit kanker paru-paru gara-gara merokok. Hitung -hitung, tidak merokok ini juga sebuah investasi kesehatan yang bisa dikonversi ke nilai rupiah.

Jadi pengertian investasi itu tidak hanya kita punya uang terus ditempatkan di deposito, beli saham atau reksadana, beli emas, tanah atau rumah. Dengan menjaga kesehatan dan berperilaku hidup sehat, hal itu sebenarnya juga suatu investasi.

Kedua, berdagang atau jualan. Nah kalau yang ini saya mau kasih contoh istri karyawan di tempat kerja. Hampir setiap hari, ada dua atau tiga istri karyawan yang jualan. Macam-macam jenisnya, ada yang jualan kue terang bulan, bakwan yang harganya per biji seribu. Ada juga yang jualan sate, per porsi 12 ribu atau bakso seharga 8 ribu.  Malah barusan tadi siang ada seorang ibu yang sudah bermigrasi yang semula jualan kue, menawarkan  udang dan ikan ke saya.

Cara ibu-ibu itu jualan tidak buka warung atau toko, tapi menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki keliling ke sekitar tempat kerja. Lumayan juga jaraknya dan juga naik turun tangga. Jangan dibayangkan kondisi jalannya rata seperti di kota lho.

Tiap tempat yang ramai seperti di dapur dia datangi, termasuk juga karyawan yang keluarganya tinggal di tempat kerja.

Sewaktu suaminya bekerja, para istri itu tidak berpangku tangan atau ngerumpi di rumah. Tapi justru memanfaatkan waktu luang untuk menambah pendapatan dengan berjualan.

Waktu saya tanya apa kuenya bikin sendiri, salah satu penjualnya bilang kalau ada juga tetangga yang nitip. Jadi nggak semuanya dia yang bikin. Sekali jualan, biasa di bawa paling sedikit 100 biji. Jadi omzetnya kalau laku semua 100 ribu per hari. Kalau tiap kue dia ambil laba 250 rupiah, sebulan  sudah ada tambahan 750 ribu. Lumayan juga, selain pendapatan keluarga meningkat badan pun jadi sehat.

So, ketika biaya sekolah dan harga-harga barang merangkak naik, jangan risau. Tetaplah berkonsentrasi pada upaya-upaya peningkatan pendapatan dan berinvestasi.

23 pemikiran pada “Ketika Biaya Sekolah dan Harga Barang Merangkak Naik…

  1. dont be worry pa–kenaikan bbm emang dirasakan benar sebagai ibu rumah tangga apalagi-tapi positifnya itu bahan agar kita lebih giat mencari nafkah!

  2. Kami menunggu dengan deg-an kenaikan bbm itu, Mas..Mikirin ongkos produksi yang bakal tinggi, gaji, dan keperluan rumah tangga. Pusing deh hehehe..

  3. masalah BBM memang berdampak sistemik ya pk …
    BBM belum naik tapi jengkol dan petai sudah jadi hot news ….
    semoga kenaikan BBM tidak diikuti gejolak sosial yang berlebihan …

  4. kemarin jumat ngobrol sama rekan kerja, ibu-ibu yang baru saja nyekolahin anaknya, satu di playgroup satu di SD. dan saya hanya bengong mendengar angka yang disebutkan untuk biayanya…
    jauh banget dibandingkan sama biaya pas saya sekolah dulu.

  5. BBM naik emang bikin susah..tapi kalo gak naik lebih susah lg, bahkan mungkin beberapa tahun kedepan stok BBM kita menipis….
    BBM, harga bahan pokok dan biaya sekolah itu seperti efek bola salju ya mas, semakin menggelinding semakin membesar hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s