Terbang di Ketinggian 9.000 Feet

naik pesawat

“Ketinggian pesawat ini berapa feet, mbak”tanya saya pada pramugari.

“Sembilan ribu feet, Pak”jawabnya sambil memberikan air minum dan sebungkus wafer.

Terbang dengan pesawat berbaling-baling memang beda dengan pesawat bermesin jet. Ini yang saya alami ketika naik Kalstar dari Sintang ke Pontianak (16/6).

Bukan pertama kali saya naik pesawat berbaling-baling, karena sebelumnya pernah dari Semarang ke Pontianak via Pangkalan Bun menggunakan Deraya. Sekitar tahun 2007, usai mudik lebaran.

Kali ini kesempatan itu datang lagi, sewaktu mengantar dua orang tamu pulang ke Pontianak. Tamu perusahaan yang harus transit di Bandara Supadio selama tiga jam, sebelum  terbang ke Jakarta dan selanjutnya ke Singapore.

Rasanya seperti mimpi, terbang sekitar 35 menit menggunakan Kalstar. Di postingan tahun lalu saya pernah menulis tentang pesawat yang melayani rute ini dengan judul Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang.

Postingan yang menceritakan sewaktu menjemput tamu yang naik pesawat dari Pontianak ke Sintang. Nggak sampai setahun, yang awalnya diberi tugas menjemput, sekarang malah diminta ikut naik pesawat, mendampingi tamu pulang sampai ke Pontianak. Termasuk waktu berangkat dari Pontianak juga ikut naik pesawat ini.

Sewaktu ditugaskan menjemput tamu tahun lalu, dalam hati saya ada keinginan, kapan ya bisa naik pesawat itu. Sebersit keinginan yang akhirnya menjadi kenyataan. Benar-benar pengalaman yang nggak terlupakan.

Alhamdulillah, memang kita nggak boleh berhenti berkeinginan, bermimpi dan berharap, karena suatu saat hal itu dapat menjadi nyata dan kita alami.

Pukul 16.00 WIB pesawat Kalstar dari Pontianak mendarat di bandara Susilo Sintang. Balik lagi ke Pontianak pukul 16.25 WIB.

Antri naik pesawat

Saya baru tahu, ternyata pintu masuk ke pesawat hanya satu, di bagian belakang. Pintu ini sekaligus pintu keluar bagi penumpang yang hendak turun dari pesawat. Sementara pintu bagian depan digunakan menyimpan bagasi penumpang.

Setelah berada di dalam pesawat, ada yang berbeda dibandingkan naik pesawat bermesin jet. Ternyata penumpang bebas memilih kursi. Bebas? Ya, meskipun di tiket tercantum nomor kursi, ternyata di dalam kabin kenyataannya bisa lain.

Saya yang waktu berangkat dari Pontianak dapat kursi 6 B, setelah masuk pesawat harus cari tempat duduk lain karena kursi sudah diisi penumpang. Pramugari hanya membantu menunjukkan tempat duduk yang masih kosong untuk penumpang yang belum kebagian kursi, tanpa melihat nomornya. 

Karena paling belakang masuk ke pesawat, saya kebagian kursi baris kedua dari depan. Tepat di samping baling-baling sebelah kanan. Total jumlah kursi penumpang 48 buah. Satu baris berisi 4 kursi.  Formasi dua-dua dalam 12 baris.

Setelah duduk dan mengencangkan ikat pinggang, sering saya melihat baling-baling, mulai lepas landas sampai mendarat. Bukan tertarik, malah khawatir kalau baling-balingnya sampai lepas atau tiba-tiba berhenti pas pesawat di udara :-).

Namun ada satu hal yang menyenangkan terbang dengan pesawat berbaling-baling. Karena ketinggiannya 9.000 feet atau sekitar 3.000 meter, pemandangan di bawah terlihat jelas.

Beda kalau naik pesawat jet yang terbang di atas ketinggian 30.000 feet. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya awan  bergulung-gulung. Terkecuali jika pesawat baru saja lepas landas atau akan mendarat.

Di dalam pesawat Kalstar, pemandangan di bawah beberapa kali saya jepret pakai Blackberry. Nggak bosan rasanya memandang alur Sungai Kapuas yang berkelok-kelok, jalan, rumah penduduk atau lahan yang baru dibuka untuk perkebunan.

Sungai Kapuas

9.000 feet

Belum puas memotret, terdengar pengumuman pramugari bahwa dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat di Bandara Supadio dan para penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman kembali. Buru-buru saya matikan smartphone dan kembali duduk manis.

Wow, benar-benar perjalanan yang singkat, nggak sampai satu jam. Jauh benar selisih waktunya dibandingkan kalau naik bis.

“Too long”kata salah seorang tamu ketika saya jelaskan perlu waktu 10 jam kalau naik bis dari Pontianak – Sintang atau sebaliknya.

 

Iklan

36 pemikiran pada “Terbang di Ketinggian 9.000 Feet

      1. penyebabnya banyak sih.
        mungkin jumlah armadanya kurang, terkadang ngisi BBGnya juga agak lama Bro karena harus ngantri..belum lagi kalau jalurnya kena serobot kendaraan lain atau supirnya mogok karena gajinya belum dibayar…

      2. memang banyak sih mas. 🙂
        padahal jalur 1 itu dah diganti semua busnya dengan bus gandeng yang muatannya pasti lebih banyak

      1. Pas di Merauke mau ke Boven Digul kan ada pesawat kecil seperti ini yang terbangnya saja gak pasti bisa 1 minggu sekali atau 2 minggu sekali tergantung cuaca. Karena ada yg pesawatnya sudah tau jadi aku gak berani.. akhirnya pilih lewat darat saja..

      2. wow, pengalaman yang menegangkan pernah naik pesawat kecil…
        ukurannya pasti lebih kecil dan mungkin penumpangnya nggak sampai sepuluh ya Bro.

  1. hmm… kalo saya belum pernah naek pesawat, Pak….
    ke kampung halaman juga mau mudik ngga ada pesawat soalnya.. paling naek bis bisa sampai seharian…. heheheh..

    1. sepengetahuan saya sih, yg nggak boleh nyalakan hp itu waktu pesawat akan lepas landas dan mendarat…
      naik pesawat baling-baling itu rasanya kayak mimpi aja Idah. cuma 1/2 jam di udara..
      meski cuma sebentar, ada rasa khawatir juga kalau tiba-tiba baling-balingnya berhenti berputar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s