Jadi Karyawan itu Seharusnya…

1. Datang tepat waktu
Yang namanya karyawan itu kan seseorang yang bekerja pada pihak lain. Jadi, konsekuensinya harus nurut sama aturan yang dibuat. Termasuk di dalamnya aturan dasar, seperti jam masuk kerja.

Kalau jam masuk kantor sudah ditentukan jam 8 pagi, ya diusahakan pas jam 8 sudah siap di tempat kerja. Lebih baik lagi kalau sebelum jam itu, misalkan 10-15 menit sebelumnya sudah tiba di tempat.

Apalagi buat karyawan yang tugasnya melayani publik. Jangan sampai pelanggan, nasabah atau klien justru yang datang duluan dan harus menunggu. Sementara, karyawan yang tugasnya melayani malah belum nongol.

Ini pernah saya alami waktu mau cetak buku tabungan di salah satu bank. Jam 8 pagi saya sudah tiba, tapi karyawannya malah baru sampai di kantor jam 8.15. Ini yang jadi karyawan sebenarnya siapa sih ?🙂

2. Tahu apa yang harus dikerjakan
Nah, untuk tahu tugas apa yang harus dikerjakan, ada baiknya buat catatan atau daftar apa saja pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Lebih baik lagi kalau catatan itu sudah dibikin kemarin. Misalnya pada hari Senin ini sebelum pulang kerja, bikin poin-poin yang harus dikerjakan untuk Selasa besok.

Tuliskan saja apa yang mau dikerjakan. Misalnya buat laporan bulanan daftar hadir staf, menghadap bos, melayani tamu, cek dan membalas email, menghubungi pelanggan untuk menawarkan produk baru.

Dengan membuat catatan sepeti itu, kita akan tahu apa yang harus dikerjakan hari ini. Ini belum termasuk pekerjaan-pekerjaan mendadak yang terkadang menyita waktu, seperti menerima panggilan telepon, menerima laporan anak buah atau kendaraan terjebak macet.

3. Membuat skala prioritas pekerjaan
Dari catatan yang sudah dibuat pada poin 2, cobalah bikin skala prioritas. Ini penting, karena nggak semua yang sudah dicatat itu kita yang harus mengerjakan. Perlu dipilih dan dipilah, mana yang harus ditangani sendiri dan pekerjaan apa yang harus didelegasikan.

Supaya kita nggak dicap golongan karyawan one man show, semua pekerjaan diborong dan dikerjakan sendiri. Padahal punya anak buah. Kalau hal itu sering dilakukan, selain menyita waktu, juga pertanda kalau kita kurang percaya dengan  anak buah.

4. Memahami karakter bosnya
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda bos beda juga karakter dan sifat-sifatnya. Yang saya maksud ini karakter dan sifat-sifat seorang bos dalam bekerja, lho ya. Ada bos yang menyediakan waktu 24 jam untuk menerima informasi dari anak buahnya.

Tipe bos seperti ini biasanya haus akan informasi. Jadi dia nggak membatasi waktu untuk menerima informasi anak buahnya. Kapan saja dan dimana saja bos berada, dia tetap bisa dihubungi. Bisa lewat telepon, sms atau email. Mungkin ini termasuk bos yang gila kerja kali.

Justru kalau anak buahnya nggak kasih laporan atau informasi terbaru, dia bukannya senang, justru gelisah. Apalagi kalau ada masalah tapi nggak disampaikan, bisa-bisa kena semprot itu anak buah. Kalau menghadapi bos bertipe seperti ini, usahakan aktif berkomunikasi. Rajin menginformasikan perkembangan terbaru, dan sampaikan terus terang jika ada masalah, walaupun tampaknya sepele.

Ada juga tipe bos yang punya prinsip, urusan kerja dibicarakan pada waktu jam dan hari kerja. Bicara urusan kerja, mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore., hari Senin hingga Sabtu. Hari Minggu dan hari libur nasional… ya untuk libur, bukan bicara urusan kerja.

Dia membatasi waktunya dalam menerima informasi dan laporan anak buahnya. Maksudnya, tidak setiap waktu dia bisa dihubungi. Wah, kalau ada masalah, terus perlu keputusan yang cepat, gimana ya? Apa nggak bingung tuh anak buahnya? Apalagi kalau nggak ada pendelegasian kepada wakilnya.

5. Mendorong anak buahnya agar maju dan berkembang
Nggak cuma paham dengan karakter dan sifat pimpinannya, seorang karyawan juga harus jeli dengan potensi dan kemampuan anak buahnya. Di sini diperlukan filosofi seorang guru. Senang kalau muridnya lebih pintar dari gurunya. Bangga kalau muridnya lebih berprestasi dari gurunya. Nggak ada kan seorang guru yang nggak suka kalau muridnya berhasil dalam studinya.

Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk mengakui bahwa sebenarnya ada staf yang lebih terampil daripada dirinya. Staf yang ahli memanfaatkan teknologi informasi, anak buah yang terampil berbahasa asing atau bawahan yang cerdas dalam menguasai kondisi lapangan.

Kalau ada seorang pimpinan yang anak buahnya ahli, terampil dan cerdas, seharusnya dia bersyukur. Karena membantu meringankan beban pekerjaannya. Salah satu tugas seorang pimpinan adalah mengenali potensi dan kemampuan bawahannya, kemudian memberikannya kesempatan untuk berkembang.

6. Tidak Gaptek
Berbahagialah karyawan yang lahir pada jaman digital seperti saat ini. Sejak kecil sudah terbiasa dengan yang namanya kecanggihan teknologi informasi. Mulai mengoperasikan komputer sampai smartphone. Kalau ada karyawan lama atau senior yang nggak mau belajar, rugi sendiri deh.

Memang dengan bantuan perangkat tersebut, pekerjaan tidak hanya bisa dikerjakan di kantor. Sambil menunggu pesawat yang delay di bandara, terjebak kemacetan di jalan atau menunggu klien yang datang, waktu bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Sambil menunggu, bisa dimanfaatkan untuk cek dan balas email, menyiapkan presentasi, atau membuat ringkasan laporan. Waktu dan tempat kerja karyawan pun lebih fleksibel.

Masih ada yang lain sih sebenarnya, gimana seharusnya jadi seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan. Tapi, baru segini saja sudah panjang postingannya. Khawatir malah bosan deh bacanya.

Anak bangsawan pergi ke hutan

Membawa pulang seikat rotan

Andaikan teman ingin menambahkan

Janganlah segan untuk menuliskan

 

14 pemikiran pada “Jadi Karyawan itu Seharusnya…

      1. bener juga, mbak. kalau bisa begitu emang bagus. jadi kerja itu bukan dianggap sebagai beban, tetapi sesuatu yg dinikmati waktu mengerjakannya

    1. iya, sih. memang perlu “jam terbang” yg cukup untuk bisa mengenali lingkungan kerja kita. namun hal itu penting lho, untuk mendukung kelancaran kerja kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s