Balasan Sebuah Kebaikan

Kebaikan sekecil apa pun, bisa membawa berkah di kemudian hari. Ini yang pernah dialami teman kerja ketika mengantar tamu beberapa tahun lalu. Ketika itu, ada dua orang tamu yang mendapat tugas ke lapangan. Teman tadi yang menyetir kendaraan menemani mereka dari Pontianak ke camp PP.

Di dalam kendaraan, selain dia sebagai sopir, ada dua orang bapak dari instansi teknis dan satu lagi dosen sebuah perguruan tinggi dari kota hujan. Nah, sang dosen ini rupanya juga mengajak istrinya.

Keesokan harinya saat masuk hutan, kaki istri dosen tersebut terpeleset dan terkilir. Dalam perjalanan pulang ke Pontianak, sang suami minta tolong teman tadi untuk mencarikan orang yang bisa mengobati kaki istrinya. Tiba di Pontianak, dia segera mencari tukang pijat. Setelah kaki istri dosen tersebut dipijat,  kondisinya berangsur-angsur membaik dan mereka kembali ke Bogor.

Beberapa hari lalu teman tadi ke camp lagi mengantar unit kendaraan baru. Dia bercerita, dua tahun lalu anaknya diterima di perguruan tinggi negeri, di tempat bapak dosen tadi mengajar.

Karena nilainya selama lima semester di SMU cukup bagus, dia diterima tanpa tes. Kalau istilah sekarang, diterima di PTN lewat jalur SNMPTN. Dia diterima di salah satu fakultas yang tergolong favorit, berbeda fakultas dengan bapak dosen tersebut mengejar.

Meski pada saat itu sudah diterima di perguruan tinggi yang diinginkan, bukan berarti masalahnya selesai. Gimana dengan biaya kuliah, dan tempat tinggal selama belajar di perantauan?

Akhirnya teman tadi teringat dengan bapak yang pernah diantarnya dalam perjalanan. Dia menelepon bapak dosen tersebut. Terus, dia cerita kalau anaknya diterima kuliah dan sedang mencari tempat untuk kos. Pucuk dicita ulam pun tiba.

Tanpa diduga, bapak dosen tadi menawarkan supaya anak tersebut tinggal di rumahnya sementara waktu. Apalagi di rumah tersebut hanya dia dan istrinya yang tinggal. Siapa yang menyangka, si anak teman tadi diterima di PTN dimana sang dosen tadi mengajar?

Nggak hanya itu saja, waktu anak tersebut sakit dan harus dirawat inap semalam di RS, sang bapak dosen juga yang mencarikan RS dan sekaligus membantu biaya perawatannya.

“Padahal, waktu itu, saya hanya mencarikan tukang pijat lho, Mas. Tapi, beliau sampai sekarang masih ingat dengan saya” ungkapnya dengan nada hampir nggak percaya.

Sebuah kebaikan kecil yang dia lakukan, ternyata begitu besar balasan yang diterima. Dengan membantu mencarikan tukang pijat untuk istrinya, perhatian dan kebaikannya beberapa tahun kemudian dibalas bapak dosen tadi melalui anaknya.

Mendengar cerita itu, saya nggak banyak berkomentar. Terhanyut dengan rasa bahagia sang teman yang anaknya diterima di PTN favorit dan bantuan yang diberikan oleh tamu yang pernah diantarnya.

Sebuah pelajaran saya petik dari cerita teman tadi. Jangan ragu berbuat kebaikan, meskipun kelihatannya sepele. Karena jika kita melakukan kebaikan, maka balasannya juga kebaikan.

Mungkin, bukan diri kita yang langsung menerima balasan kebaikan itu dan tidak saat itu langsung dibalas. Tapi, balasannya bisa jadi setelah beberapa waktu kemudian, lewat kemudahan-kemudahan yang dialami oleh keluarga kita.

Iklan

18 pemikiran pada “Balasan Sebuah Kebaikan

      1. pernah dong mas, dan yang kamu tulis di ending cerita itu selalu diceritakan oleh orang yg sdh kuanggap bapakku sendiri mas, beliau menambahi jd kl nolong org itu sebaiknya ikhlas tanpa pamrih 🙂

      2. iya mas, soalnya nggak sekedar wejangan, beliau sendiri secara tak langsung memberi contoh dgn tindakannya, suka menolong sana sini tanpa pamrih, ikhlas bgt, jaman spt ini khan nggak gampang ya mas bertemu org spt beliau ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s