Lebaran dan Liburan di Hutan

IMG01216-20130809-1018

Meski terlambat, nggak ada salahnya saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434 H buat teman-teman blogger semua. Kalau ada kesalahan dan kekhilafan, mohon dimaafkan ya.

Nggak terasa sudah sepuluh hari nggak berbagi cerita buat teman-teman. Urusan pekerjaan offline memang benar-benar menyita waktu, sehingga baru sekarang bisa menulis lagi. Apalagi ada acara mendadak, keluarga ingin berlebaran dan liburan di tempat kerja. Wow….

Tahun ini sebenarnya nggak ada rencana keluarga berlebaran di tempat kerja, di hutan yang jauh dari keramaian. Tapi karena ada masalah dengan maskapai penerbangan yang pernah saya ceritakan di postingan ini, akhirnya rencana berubah 180 derajat.

Ini salah satu contoh lagi bicara tentang rencana. Meski jauh hari saya bikin rencana mudik lebaran ke Jawa, ternyata bisa meleset dan nggak seperti yang diharapkan.

Meski gagal berlebaran di Jawa, ternyata keluarga punya rencana lain, lebaran di camp. Di musim libur sekolah dan lebaran ini, istri dan anak-anak yang masih SD dan SMP ingin berlebaran di hutan. Mendengar keputusan seperti itu, saya pun langsung bergerak cepat.

Menyiapkan bahan makanan dan perlengkapan yang diperlukan. Beli beras, minyak goreng, gula, mie instan, telur ayam, ikan dan bahan makan lainnya. Mencuci perlengkapan masak yang berdebu, bersih-bersih kamar dan nggak lupa juga minta jatah BBM untuk keluarga yang diberikan oleh perusahaan.

Nggak hanya itu, saya perlu turun ke Pinoh tanggal 4 Agustus yang lalu untuk jemput keluarga yang rencananya tiba di Pinoh keesokan harinya. Semua anggota keluarga ikut ke camp. Istri dan keempat anak untungnya dapat tiket bis Pontianak-Pinoh meski pesan tiketnya juga mendadak.

Meski tinggal di tengah di hutan hanya seminggu, karena anak-anak yang SMP dan SMA masuk tanggal 14 Agustus, banyak cerita seru dan berkesan bagi anak-anak.

Keluarga tiba di Pinoh tanggal 5 Agustus pagi sekitar pk 04.15. Setelah istirahat dan mandi di losmen, saya dan istri belanja keperluan lebaran di pasar. Beli ayam potong, daging sapi yang harganya benar-benar melambung hingga 120.000 rupiah per kg dan akhirnya setelah kami berdiskusi, cukup beli ½ kg saja. Kemudian beli tahu, tempe dan sayuran untuk persiapan lebaran di camp.

Meski semua bahan makanan sudah lengkap, ada satu yang masih kurang, ketupat. Kalau lebaran tanpa ada ketupat kayaknya bukan serasa lebaran. Setelah cari ketupat di pasar nggak ketemu, akhirnya kami berenam berangkat ke camp. Perlu waktu 2 jam untuk sampai ke mess.

“Kalau nggak ada ketupat, kita bikin lontong saja, Mas”kata istri waktu di camp. Karena kebetulan di belakang mess ada pohon pisang dan daunnya bisa dipakai untuk bikin lontong. Rencana bikin ketupat sudah mulai dilupakan dan berganti dengan bikin lontong.

Hingga satu hari menjelang lebaran, ada salah seorang office boy yang menyeret daun kelapa dan diletakkan di depan kamar. Rupanya dia disuruh salah seorang teman yang tinggal bersebelahan yang juga ingin bikin ketupat.

Kami pun ditawari untuk mengambil beberapa helai daunnya. Benar-benar pucuk dicita ulam pun tiba. Keinginan menghidangkan ketupat pun terpenuhi. Ternyata ada hikmahnya juga waktu di pasar nggak dapat ketupat yang sudah jadi. Lho kok bisa begitu?

Ya, karena masih berbentuk daun kelapa, dengan sendirinya bahan-bahan itu harus dianyam menjadi ketupat. Istri yang pernah diajari ibunya bikin ketupat, mulai mencoba lagi menganyam ketupat satu per satu. Nggak mudah memang, setengah hari kerja baru dapat 8 buah. Padahal targetnya 25 buah yang perlu disediakan untuk lebaran.

IMG01204-20130807-0928

Hanya tinggal sehari menjelang lebaran. Syukurlah, anak kedua, Aysha yang baru masuk SMP, rupanya tertarik bikin ketupat. Dia pun minta diajari, mulai cara menganyam sampai mengisinya dengan beras.

Coba kalau beli ketupat yang sudah jadi, mungkin Aysha nggak akan tahu cara bikinnya. Sempat terpikir, kenapa ya di sekolah waktu ada pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan, murid-murid nggak diajari bikin ketupat. Padahal itu kan bagian dari budaya dan tradisi bangsa kita?

Hari pertama lebaran diisi dengan acara bersilaturahmi ke rumah karyawan yang ada keluarganya. Selanjutnya, di hari kedua lebaran, anak-anak yang cowok mengajak main di taman sekolah dan mandi di sungai. Rupanya mereka masih ingat pengalaman dua tahun lalu ketika juga lebaran di camp, mereka senang sekali main-main di sungai

IMG01222-20130809-1022

Andra dan Nabil yang masih SD, begitu melihat sungai yang jernih, langsung menceburkan diri dan mandi. Nggak ada rasa takut sama sekali, padahal sungainya berbatu. Rasanya senang sekali mereka bisa mandi dan main air di sungai. Sebuah pengalaman masa kanak-kanak yang nggak mudah terlupakan.

IMG01252-20130809-1101

Ternyata berlebaran di hutan, memberikan kesan mendalam buat anak-anak. Mereka nggak hanya kenal permainan di dalam ruangan seperti main game di komputer atau playstation. Permainan yang kurang merangsang aktivitas fisik anak-anak.

Dengan berlebaran sekaligus berlibur di tengah hutan, gerak fisik mereka tersalurkan. Mereka juga belajar dari alam dan memanfaatkan benda-benda yang ada untuk dijadikan sebuah hasil karya.

Bikin ketupat, bikin lontong, keliling bersilaturahmi ke tetangga-tetangga, hingga mandi dan main air di sungai. Semua itu adalah pengalaman yang bisa jadi akan terbawa hingga mereka dewasa.

14 pemikiran pada “Lebaran dan Liburan di Hutan

  1. Pak Yudhi, saya daftar juga liburan di hutan. Kemarin anak-anak saya ajak rafting saja senengnya bukan main. Liburan ke hutan pastinya lebih seru dan menantang🙂

    1. Asyik juga ya, mbak. Apalagi namanya anak lanang. Begitu sampai di lokasi, langsung berhamburan ke sana sini seperti burung lepas dari sangkar🙂.
      Mungkin karena di kota-kota, tempat bermain yang luas untuk anak-anak susah ditemui ya, mbak

    1. sama-sama, Bro. mohon maaf juga atas salah dan khilaf saya.
      ya lebaran dan liburan kembali ke alam, menghirup udara segar dan menikmati air sungai yang jernih…

  2. Libur lebaran yang berkesan ya, dapat kekeluargaannya dapat pelajarannya. Saat saya kecil diajarkan banyak keterampilan tp memang belum pernah ya diajari buat ketupat. Sekolah-2 dasar harus tuh bikin keterampilan spt itu.

    1. benar, mbak Zizy, anak-anak seneng sekali. kalau di kota nggak bisa bermain-main spt itukarena halaman rumahnya sempit. biasanya kebisaan bikin ketupat karena warisan turun-temurun🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s