Lawang Sewu, ternyata Pintunya Tak Sampai Seribu

IMG01499-20130830-0929

Selain Simpang Lima dan Tugu Muda, Lawang Sewu adalah salah satu bangunan warisan Belanda yang menjadi ikon kota Semarang. Dalam bahasa Indonesia, Lawang berarti pintu dan Sewu sama dengan seribu. Jadi Lawang Sewu adalah bangunan yang memiliki seribu pintu.

Tapi nanti dulu. Faktanya, jumlah pintunya sebenarnya tak sampai seribu. Menurut Pak Muhadi, pemandu yang menjelaskan saat kami melihat bangunan bersejarah tersebut, jumlah pintu dan jendela 465 buah. Kenapa jendela juga dihitung? Karena bangunan ini memiliki jendela yang tinggi dan lebar, sehingga dianggap masyarakat sebagai lawang atau pintu (wikipedia). Karena jumlahnya yang sangat banyak, masyarakat Semarang menyebutnya dengan Lawang Sewu.

Seperti halnya obyek wisata lainnya, untuk masuk ke Lawang Sewu, kami harus membayar tiket 10 ribu per orang untuk dewasa dan sewa pemandu 30 ribu. Ada 3-4 pemandu yang standby di depan loket penjualan tiket masuk. Setelah membayar, petugas loket akan memanggil salah satu pemandu.

IMG01498-20130830-0924

Menurut pemandu kami, pak Muhadi,  Lawang Sewu pada masa pemerintahan Belanda adalah kantor pusat administrasi perkereta apian di pulau Jawa. Jejak itu bisa kita lihat dengan jelas di bagian halaman depan, sebuah lokomotif uap yang masih berdiri kokoh.

IMG01520-20130830-1005

Saya masih ingat, dulu semasa SD, sekitar tahun 80 an, rel kereta api terlihat di bagian luar Lawang Sewu, tepatnya di jalan Pemuda.

Kondisi Lawang Sewu saat ini sudah lebih bagus daripada yang saya lihat semasa kecil. Saya memang lahir di Semarang. Waktu itu tinggal di Jl Citarum daerah Semarang Timur, dan sekolah di sana sampai kelas tiga SD.

Bangunan Lawang Sewu saat itu terlihat kusam. Kesan angker tak bisa dihindari setiap orang yang melihat dari bundaran Tugu Muda. Setiap kali saya main ke rumah kakek nenek di daerah Pendrikan Kidul, sering saya melewati Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Namun saat ini, tiga puluh tahun kemudian, kondisinya agak berbeda. Setelah direnovasi, beberapa bagian terlihat lebih indah dan rapi.

Pak Muhadi menjelaskan, betapa dulu Belanda telah merancang bangunan dengan sangat teliti dan cermat. Di bagian tengah Lawang Sewu, ada halaman terbuka yang luas. Sebatang pohon beringin berdiri tegak dan tajuknya terlihat rimbun. Disain bangunan yang telah direnovasi tergambar dengan baik disini. Inilah sisi terbaik yang saya lihat dari Lawang Sewu.

IMG01500-20130830-0929

Terlihat disainnya yang memiliki banyak jendela dan ventilasi. Setiap jendela berukuran lebar. Untuk menyesuaikan dengan iklim negara tropis yang panas, Belanda mengantisipasinya dengan banyak membuat jendela. Sehingga sirkulasi udara lancar dan tak perlu pendingin udara (AC).

Kebalikan dengan bangunan dan kantor-kantor saat ini. Justru jendela dan ventilasinya kecil-kecil. Bahkan terbuat dari kaca. Sehingga sirkulasi udara terhambat dan suhu udara pun meningkat.

Konstruksi di dalam ruangan berbeda lagi. Antar ruangan justru pintunya sedikit sekali. Untuk ruang kerja dibuat berderet memanjang. Antar ruangan ada jalan koridor atau lorong, gunanya memudahkan karyawan dalam berkomunikasi.

IMG01511-20130830-0946

Waktu memasuki ruang pertemuan atau aula, satu hal yang menurut saya sangat unik. Bagian daun jendelanya justru terbuka ke dalam dan ke atas. Kalau sekarang yang namanya jendela terbuka ke luar dan ke bawah.

IMG01514-20130830-0950

IMG01504-20130830-0940

Pemasangan seperti itu dirancang untuk mengurangi debu yang masuk ke ruangan. Tak hanya itu, bila ada orang yang jongkok lalu berdiri, kemungkinan kepalanya terantuk daun jendela lebih kecil. Kami juga sempat melongok ruang bawah tanah. Gelap, lembab dan lubang masuknya sempit. Untuk masuk ke ruang ini harus menggunakan sepatu boot dan membawa senter. Perlengkapan itu tak disediakan cuma-cuma alias harus bayar.

Terakhir, kami diajak naik ke lantai tiga. Tempat ini luas dan kita bisa melihat konstruksi atap Lawang Sewu. Atapnya tanpa plafon, jadi kuda-kuda dari kayu-kayu bantalan kereta api yang besar-besar, terlihat jelas.

IMG01515-20130830-0952

Setelah dari lantai 3, kami diajak keliling ke halaman samping. Ada beberapa ruangan yang belum direnovasi sama sekali. Sangat kontras dengan ruangan sebelumnya yang kami lihat. Alasannya klasik, dananya belum ada. Terlihat plafonnya lepas, dindingnya berlumut dan temboknya terkelupas.

IMG01516-20130830-1003

Lokasi parkir kendaraan pengunjung juga kurang memadai. Supir kendaraan yang mengantar kami dari Jogja mengeluh. Lahan parkir nggak disediakan secara khusus. Jadi akhirnya parkir di jalan sempit di tepi sungai, di luar Lawang Sewu. Tarifnya pun tergolong mahal, lima ribu rupiah. Sebenarnya di sebelah kanan pintu masuk ada halaman yang cukup luas untuk tempat parkir, tapi tidak digunakan. Namun, keluhan sopir itu agak tertutupi setelah melihat Lawang Sewu.

“Awalnya saya heran, kok ada orang jauh-iauh dari Pontianak mau melihat Lawang Sewu. Ternyata setelah sampai disini, bangunannya memang indah”, ungkapnya.

Nah, sobat blogger, kalau lagi di Semarang, jangan cuma lihat Simpang Lima atau Tugu Muda saja. Silakan singgah dan kunjungi Lawang Sewu.

Setelah itu belanja oleh-oleh untuk keluarga atau teman di Jalan Pandanaran. Ada Bandeng Presto, wingko babat dan tahu bakso serta cemilan lainnya. Lokasinya memang nggak jauh dengan Lawang Sewu.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali jalan, wisata sejarah dan kuliner sekaligus bisa dinikmati.

14 pemikiran pada “Lawang Sewu, ternyata Pintunya Tak Sampai Seribu

  1. pak Yudhi sempat masuk ke penjara bawah tanah nya?
    Bayar lagi sihh, tapi serem euy… tau sendiri tempatnya plus denger ceritanya, merinding juga, mana gelap lagi…
    Tapi seruuuu ^___^

      1. aman kok pak dibawah tanah,,, cuma gelap dan lembab, maklum memang tempat nya air,,,
        kata temen saya itu tempat pasti banyak jin nya, karena lembab😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s