Di Candi Borobudur, Jangan lupa Pakai Sarung

IMG01590-20130831-1607

“Kalau masuk candi Borobudur harus pakai sarung”kata teman istri saya ketika kami bersilaturahmi ke rumahnya. Teman istri yang juga tetangga sebelah rumah itu memang pernah ke Borobudur bulan April lalu, bersama suami dan tiga anaknya.

Sebuah informasi baru sekaligus agak mengejutkan bagi kami. Dulu waktu masih SD sekitar tahun 80 an, pernah juga lihat Candi Borobudur. Tapi waktu itu nggak ada keharusan harus pakai sarung untuk masuk ke Borobudur.

Hingga akhirnya ucapan teman istri itu memang terbukti, ketika saya dan keluarga berkunjung ke Borobudur akhir Agustus lalu. Sebagai obyek wisata yang terkenal hingga manca negara, Candi Borobudur adalah satu tujuan kami saat pulang kampung. Setelah melihat Gembira Loka, Taman Pintar, Benteng Vredeburg, Malioboro dan Lawang Sewu, Borobudur adalah obyek wisata yang masuk daftar yang wajib dikunjungi sebelum balik ke Pontianak.

Berangkat dari Semarang tanggal 31 Agustus menuju Jogja, kesempatan ini harus kami gunakan untuk singgah di Candi Borobudur. karena besoknya tanggal 1 september harus kembali ke Pontianak. Jangan sampai menyesal kemudian, ke Jogja tapi nggak lihat salah satu tujuh keajaiban dunia tersebut. Apalagi anak-anak semuanya memang belum pernah ke sini. Orang-orang dari luar negeri yang ke Indonesia saja ingin sekali melihat tempat ini.

Tiba di halaman parkir candi Borobudur sudah agak sore, sekitar jam tiga. Setelah membayar tiket masuk 30 ribu rupiah per orang untuk dewasa dan 12 ribu untuk anak-anak, kami memasuki halaman taman candi Borobudur. Rupanya dari tempat ini untuk menuju candi, disediakan kereta dan dokar. Kalau naik kereta, harus bayar lagi. Taripnya 7.500 rupiah per orang. Kalau mau naik andong, ongkosnya 30 ribu. Kalau mau jalan kaki juga silakan.

Enaknya kalau naik kereta, sebelum masuk ke candi kita bisa keliling dan lihat pemandangan di sekitarnya. Setelah turun di depan pintu candi, kami berjalan menuju boulevard. Nah, di sini pengunjung diingatkan petugas agar menggunakan sarung pada saat memasuki candi. Di tempat ini puluhan bahkan mungkin ratusan sarung berwarna biru putih sudah disediakan oleh petugas.

IMG01559-20130831-1534

Bagi yang berumur 16 tahun ke atas diminta agar memakai sarung. Karena sibuk memilih dan memakai sarung, saya nggak sempat tanya kenapa masuk candi harus pakai sarung. Mungkin karena candi Borobudur sebenarnya adalah tempat ibadah, jadi memakai sarung adalah bagian dari penghormatan terhadap bangunan tersebut. Atau mungkin karena pertimbangan lain? Teman-teman blogger ada yang tahu?

Membandingkan Borobudur saat ini dengan yang saya lihat waktu SD dulu banyak perubahannya. Selain urusan memakai sarung, saat ini banyak petugas security yang berjaga-jaga di sekitar stupa. Petugas langsung mengingatkan pengunjung yang duduk di stupa supaya berpindah. Termasuk pengunjung yang mencoba merogoh dan menyentuh patung di dalam stupa, juga diingatkan petugas kalau hal itu nggak diperbolehkan lagi.

IMG01567-20130831-1543

Ngajak londo berfoto ria, sekalian praktek ngomong Inggris

IMG01586-20130831-1605

Lucunya, ada seorang pengunjung yang bilang,”Saya jauh-jauh dari Padang baru pertama kali ke Borobudur, masa menyentuh patung saja nggak boleh”. Jangankan yang dari Padang, bule-bule saja yang datang dari luar negeri juga dilarang. Larangan ini menurut petugas karena setelah letusan gunung Merapi, candi Borobudur selama beberapa pekan tertutup abu vulkanik. Sisa-sisa abu tersebut masih ada yang menempel di bangunan candi meski sudah dibersihkan.

Saat ini, banyak pemandu yang terlihat mendampingi pengunjung. Setelah membayar tiket dan memasuki halaman candi, petugas memberitahukan jika pengunjung ingin menggunakan jasa pemandu, tarifnya 75 ribu.

Sama seperti tempat wisata lainnya, di candi Borobudur ini banyak pedagang yang menawarkan dagangannya. Begitu keluar dari kendaraan, langsung disambut ibu-ibu yang menjual topi. Ada juga yang menawarkan sewa payung, ongkosnya 5 ribu rupiah. Begitu keluar dari candi, setelah mengembalikan sarung ke petugas, beberapa pedagang kembali menghampiri kami. Pedagang yang menggelar dagangannya di halaman juga berulang-ulang menawarkan kepada pengunjung.

Banyak sekali yang ditawarkan, mulai kaos, gantungan kunci, topi, miniature candi dari kayu, tas, hingga mainan anak-anak. Kalau  urusan belanja suvenir, anak-anak yang paling suka, terutama Nadia dan Aysha. Mereka senang karena harganya termasuk murah dan bisa ditawar.

IMG01570-20130831-1545

IMG01597-20130831-1616

Tak terasa, waktu sudah sekitar jam 5 sore. Pintu gerbang candi sudah mulai ditutup. Waktu dua jam terasa singkat dan nggak cukup untuk melihat-lihat seluruh lokasi candi. Namun, anak-anak setidaknya sudah melihat langsung bangunan yang dibangun pada masa Dinasti Wangsa Syailendra itu. Bangunan warisan sejarah yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Tak hanya mendengar cerita  gurunya di sekolah, membaca sejarahnya di buku pelajaran, atau melihat gambarnya dari televisi dan internet.

Iklan

14 pemikiran pada “Di Candi Borobudur, Jangan lupa Pakai Sarung

  1. Gaya sarungan ini niru masuk pura di bali kayaknya Mas. tapi senang membacanya bahwa sekarang Borobudur lbh terjagi, gak boleh lagi naik2 stupa dan menyentuhnya. untung aku masih punya foto tangan yg nyentuh patung dalam stupa hehehe…

  2. Waktu terakhir kesana memang sdh ada petugasnya Pak, yg tegas mengatur keluar masuk pengunjung dan memperingatkan pengunjung yg sering naik ke stupa. Kalau perlu pakai Toa 😀

    1. Benar, mbak Indri..lebih bagus lagi kalau waktu di loket masuk petugas juga memberitahukan ke pengunjung apa-apa saja yg boleh dan nggak boleh dilakukan selama berada di candi 🙂

  3. Pake sarung juga bisa sekalian promosi batik Pak, kan batik udah diakui jadi warisan budaya Indonesia :-), terkahir saya juga ke prambanan dan harus pake sarung seperti di borobudur.

    1. ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui ya Pak,.. 🙂 wah saya malah baru tahu, pak kalau masuk Prambanan juga harus pakai sarung.. makasih infonya

    1. itu yang saya belum tahu. mungkin untuk menghormati bangunan tsb, karena selain tempat wisata, candi Borobudur juga tempat ibadah,…iya, tetap harus pakai sarung mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s