Tangkaplah Ide itu dan Simpanlah

Menyimpan ide? Kelihatannya memang tidak ada hubungan dengan ngeblog. Tapi justru inilah jurus yang saya lakukan untuk bisa tetap ngeblog. Jurus untuk menyiasati waktu-waktu sibuk, agar sewaktu di depan laptop sudah memiliki ide dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dimana saya menyimpan ide? Di smartphone. Di blackberry yang sering saya bawa waktu bepergian. Tuntutan tugas yang mengharuskan saya sering bepergian bukanlah halangan untuk tetap bisa ngeblog. Justru banyak ide dan tulisan saya yang lahir ketika menikmati perjalanan. Ide yang tiba-tiba muncul ketika melihat minibus yang saya tumpangi terperosok jalan tanah yang rusak, berada di dalam pesawat yang tidak ada nomor kursinya adalah beberapa postingan yang terlahir ketika dalam perjalanan.

Selain mendapatkan ide menulis, dalam perjalanan saya juga sering memotret peristiwa atau obyek untuk menguatkan jalan cerita postingan. Dan untuk mendapatkan jepretan ini memang nggak mudah, terkadang harus sembunyi-sembunyi. Ini yang saya lalukan waktu mengambil gambar kabin pesawat garuda waktu di bandara Soekarno-Hatta.

Pengambilan gambar di kabin ini memang perlu kiat khusus. Jangan sampai ditegur atau ketahuan oleh pramugari atau awak kabin. Malunya itu loh kalau sampai ditegur dan dilihat penumpang lain. Padahal, kalau minta ijin mungkin diperbolehkan ya sama pramugari garuda yang anggun? Apalagi postingan itu kan menceritakan kebanggaan saya terhadap maskapai nasional itu.

Akhirnya, jurus sembunyi-sembunyi saya lakukan. Di saat awak kabin sibuk membantu penumpang lainnya menyusun barang-barang di dalam kabin dan membantu penumpang mencari nomor kursi, saya keluarkan blackberry. Setelah tengok kiri kanan, belakang dan situasinya tepat, saya langsung jepret suasana kabin. Dan akhirnya dapatlah gambar yang saya inginkan. Silakan dibaca di postingan ini.

Saat-saat menunggu boarding di bandara juga waktu yang nyaman untuk membuat catatan di smartphone. Kalau penumpang lainnya ngomel-ngomel jika pesawat delay 2-3 jam. Saya justru berharap makin lama delaynya makin baik. Kok berharap gitu sih? Ya, karena inilah waktu yang tepat untuk meneruskan catatan untuk postingan.

Tak hanya itu, ini juga kesempatan untuk mengeksplorasi suasana bandara untuk judul postingan lainnya. Karena pesawat delay ini saya pernah dapat berita menarik. Di sini saya bisa mengamati para penjual yang penampilannya rapi seperti penumpang. Ceritanya begini. Menunggu pesawat lepas landas, saya dan teman menuju salah satu restoran di bandara. Sudah ada beberapa orang yang juga makan dan minum ditempat itu.

Nggak lama kemudian, ada satu orang yang berpenampilan rapi membawa tas. Saya pikir dia penumpang. Woow, ternyata bukan. Dia mendekati meja kami dan setelah menyapa dengan sopan, dia mengeluarkan dari dalam tasnya berbagai macam parfum. Ternyata saya salah menduga. Dikiranya sama-sama penumpang, ternyata penjual yang berpenampilan rapi seperti penumpang. Penyamaran yang sukses. Bahkan waktu saya posting di blog Kompasiana, tulisan ini diberikan predikat Headline oleh adminnya.

Postingan lain yang idenya saya dapatkan ketika di kendaraan, adalah ketika naik bis yang tiba-tiba mesinnya mogok dan penumpang di dalamnya kepanasan. Karena AC-nya padam, sebagian penumpang turun dan sebagain lainnya masih duduk dalam bis. Di saat penumpang lain di dalam bis sibuk cari bahan untuk kipas, saya sodorkan koran cetak yang saya bawa. Nah waktu mereka kipas-kipas pakai koran cetak itu, terus saya jepret pakai smartphone. Jadilah ide sebuah tulisan lagi plus fotonya. Ini hasilnya. Lho, memangnya saya juga nggak kepanasan di dalam bis? Iya juga sih, tapi demi sebuah ide postingan dan gambar yang menarik, rasa panas itu ditahan-tahan dulu meski badan bermandi keringat. Gemrobyos bahasa jawanya.

Ada juga kisah menarik lainnya waktu di perjalanan. Waktu sampai di Pontianak pagi hari setelah perjalanan dari Nanga Pinoh, saya dijemput keluarga di agen bis. Ketika melewati bangunan rumah adat dayak, tiba-tiba tercetus ide. Wah, bisa jadi bahan postingan nih.
Kendaraan saya tepikan dan istri di samping saya kaget.”Lho, kok berhenti, ada apa, Mas?” Anak-anak yang duduk di belakang juga heran. “Nggak ada apa-apa, cuma mau ambil foto bangunan di seberang jalan itu?”jawab saya. Setelah lalu lintas sepi, saya pun setengah berlari menuju rumah adat dayak di seberang jalan. Setelah masuk ke halaman, saya potret dari berbagai sisi. Bangunannya secara utuh, tangganya juga saya potret close up.

“Memang sudah kayak wartawan saja, papa kalian ini?”, komentar istri ketika saya kembali ke kendaraan. Kenapa sih harus saat itu juga diambil fotonya? Kenapa tidak lain waktu atau besok, toh bangunannya tidak akan pindah tempat? Benar juga sih kalau ada yang berpikir seperti itu. Namun saya punya pendapat lain. Ide atau gagasan yang tiba-tiba muncul harus saat itu juga dieksekusi. Perlu saat itu juga dicatat dan disimpan dalam memori kita. Jangan ditunda-tunda mengambilnya.

Nah, memori itu jaman sekarang sudah macam-macam jenisnya. Ada smartphone, laptop dan yang terbaru tablet. Dengan alasan kepraktisan, saya lebih sering membawa blackberry untuk menangkap dan menyimpan ide postingan itu ke dalam memori. Coretan-coretan kertas juga bisa digunakan kalau tiba-tiba ide muncul dan blackberry tidak dalam genggaman saya.

Setelah sampai di rumah atau kantor, jika ada waktu luang alias pekerjaan penting sudah beres, saya kembangkan lagi ide postingan itu. Bukan berarti nggak ada gangguan selama menulis postingan di laptop. Gangguan datang ketika aiphone berbunyi. Terkadang ada telepon yang masuk ke call center dan ada yang ingin bicara dengan saya.

Otomatis konsentrasi menulis pun terpecah. Bisa juga ada tamu yang ingin bertemu, atau ada panggilan dari bos dan diminta menghadap saat itu juga di ruang kerjanya. Namun, setelah urusan-urusan mendadak itu beres, jalan cerita bahan postingan sering terlupa. Akhirnya saya baca ulang lagi dari paragraf awal hingga kalimat terakhir yang terhenti tadi. Supaya waktu menulis kelanjutannya masih menyambung dan nggak ada cerita yang terputus.

Memang kalau dipikir dan ditimbang dari sisi materi. Kok mau-maunya sih melakukan seperti itu, padahal kan nggak dibayar, nggak ada yang memberikan imbalan. Meminjam istilah istri saya, serius benar cari ide tulisan sampai kayak wartawan.

Benar juga sih kalau pertimbangannya dari sisi itu. Hanya saja, bagi saya bisa mendapatkan ide postingan, menuliskannya dan bermanfaaat bagi pembaca adalah sebuah kepuasan. Plong rasanya bisa menyajikan postingan dari hasil jerih payah dan keringat sendiri. Dan mungkin itulah sebentuk kebahagiaan yang saya rasakan dalam hati.

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog”

3 pemikiran pada “Tangkaplah Ide itu dan Simpanlah

  1. Ping-balik: 2nd Give Away Closed

  2. Saya juga kalau ketemu ide biasanya langsung tulis di notes hape, atau difoto. Kadang malah dipasang jadi status, biar nggak ilang dan ntar kalau buka FB atau Twitter bisa baca dan langsung keingat, “Oh ya, tadi kepikiran ini. Tulis ah!”
    Semoga sukses GA-nya, pak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s