Belajar dari Sang Profesor

Belajar dari pengalaman orang lain adalah guru yang terbaik. Juga prosesnya tidak memakan waktu lama. Berbeda kalau diri kita sendiri yang harus mengalami. Beberapa hari lalu, saya banyak belajar dari tamu yang berkunjung ke lapangan.

Bukan sembarang tamu, beliau adalah guru besar emeritus yang saat ini sudah berumur 79 tahun. Putra-putrinya enam dan cucunya sudah 16 orang. Cucunya yang paling besar berumur 22 tahun dan kuliah di Amerika.

Bisa dibayangkan, dengan usia seperti itu beliau masih mau ke lapangan alias pergi ke hutan. Ambil data terbaru, lihat tanaman, sampai mengetik laporan untuk bahan presentasi. Kalau beliau lelah mengetik, pendampingnya yang diminta untuk meneruskan. Sementara beliau yang mendiktekan. Dan pada saat beliau mengetik, yang saya kagum adalah kemampuan beliau untuk membaca di layar laptop ukuran 10 inci tanpa kacamata. Luar biasa.

Daya ingatnya juga masih tajam. Waktu saya menjemput di bandara dan menunggu di ruang kedatangan, beliau masih mengenali dan justru yang menyapa saya duluan.

Tidak hanya itu, pada saat santap malam beliau juga tidak terlihat pantang dengan makanan. Apa yang disajikan di meja makan: sayur, ikan, bakso plus nasi, semuanya dinikmati. Yang membedakan dengan kami yang lebih muda, cuma kecepatannya dalam menghabiskan makanan. Sering kami yang menemani sudah selesai duluan.

Apa ya rahasia beliau sampai berumur hampir delapan windu tapi masih terlihat fit? Waktu saya tanyakan hal itu di meja makan, beliau cuma senyum-senyum saja. Pendampingnya bilang, tiap orang beda caranya untuk mendapatkan umur panjang dan memiliki kondisi badan yang sehat. Satu cara yang dilakukan seseorang belum tentu cocok dilakukan orang lain.

Cuma dalam hal umur panjang sang profesor itu, bos saya pernah bilang itu sangat dipengaruhi oleh aktivitas otak. Seberapa sering otak kita digunakan secara aktif. Kalau kita sering menggunakan otak untuk mempelajari hal baru, kemampuannya akan berkembang. Daya ingat dan daya pikir tidak akan merosot.

Mungkin benar juga, karena setelah pensiun, beliau memang tak ada hentinya beraktivitas. Meski tak lagi mengajar, namun masih sering diminta untuk menjadi pembicara seminar, aktif di forum diskusi dengan para pakar lainnya, diundang melihat pertumbuhan tanaman di negara lain, merancang riset di lapangan, dan sesekali menengok hasil risetnya di hutan.

Sebuah pengalaman berharga yang saya dapatkan. Artinya kalau ingin seperti dia di usia hampir 80 tahun, berarti saya harus rajin-rajin olah pikir dan jangan sampai otak dibiarkan menganggur.

Nah, salah satu bentuk kerja otak ini ya dengan sering-sering menulis. Tentunya menulis yang bukan sekadar copas, lho. Mengerjakan proses menulis yang sebenarnya. Mulai dari mencari ide, menuangkannnya dalam tulisan, mengedit hingga memposting. Karena kegiatan menulis itu menuntut otak kita untuk berpikir dan aktif bekerja.

4 pemikiran pada “Belajar dari Sang Profesor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s